detikBali

Nestapa Nelayan Pesisir Utara Nagekeo, Kehilangan Mata Pencaharian Usai Gempa

Terpopuler Koleksi Pilihan

Nestapa Nelayan Pesisir Utara Nagekeo, Kehilangan Mata Pencaharian Usai Gempa


Yufengki Bria - detikBali

Dua nelayan, yakni Marsianus Mana dan rekannya Wilhelmus Tupa saat berbincang-bincang dengan detikBali di Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa, Nagekeo, NTT, Minggu (23/8/2026). (Yufengki Bria/detikBali).
Foto: Dua nelayan, yakni Marsianus Mana dan rekannya Wilhelmus Tupa saat berbincang-bincang dengan detikBali di Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa, Nagekeo, NTT, Minggu (23/8/2026). (Yufengki Bria/detikBali).
Nagekeo -

Di samping sebuah bale-bale atau tempat tidur panggung, Marsianus Mana (47) dan rekannya Wilhelmus Tupa (65), tampak lesu dan termenung. Keduanya bukan sedang sakit, tapi mereka justru tengah memikirkan nasib mata pencaharian yang selama ini menjadi tumpuan hidup, yakni melaut.

Profesi yang telah mereka jalani sejak muda itu kini terhenti. Kerinduan untuk menyuluh ikan dan gurita serta mencari kepiting bakau, yang menjadi tangkapan andalan, pupus sementara akibat gempa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagian kiri dan kanan mereka diapit oleh sejumlah perempuan. Bale-bale itu menjadi tempat mereka berkumpul, makan, hingga bercanda gurau untuk menghilangkan kekhawatiran akan gempa susulan.

Sementara di bagian samping bale-bale, terpampang sebuah tenda terpal oranye yang berdiri kokoh dengan dua tiang sebagai penyangga utama. Meski tak layak, tenda tersebut dijadikan sebagai tempat beristirahat saat malam hari.

ADVERTISEMENT

Bagi mereka, wilayah pesisir yang sudah didiami sejak lama menjadi harapan dan masa depan. Selain dekat dengan laut yang menjadi sumber ekonomi, Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu menyimpan cerita saat guncangan gempa pada Sabtu (15/8/2026) lalu.

Rumah mereka memang tak banyak yang rusak parah, tetapi rasa trauma akan guncangan gempa masih membekas. Betapa tidak, setiap subuh, Marsianus dan Wilhelmus sudah siap untuk masuk laut.

Alat menyuluh beserta tempat menyimpan ikan, senter, kacamata renang, perahu dan pukat juga telah dipersiapkan. Namun, pagi itu menjadi malapetaka ketika terjadinya gempa bumi.

Marsianus dan Wilhelmus serta sejumlah warga yang panik dan takut lalu kabur menyelamatkan diri. Sementara perahu dan pukat yang selama ini diandalkan sebagai pengais rezeki rusak dihantam gelombang.

Bagi Marsianus dan Wilhelmus, keselamatan diri dan keluarga adalah utama. Sejumlah tempat ketinggian di Desa Nggolonio yang jauh dari laut menjadi saksi bisu bagi 61 jiwa di pesisir utara itu.

Saat itu, puluhan warga dari sejumlah RT hanya mengenakan pakaian yang melekat di badan. Makanan dan minuman bukan lagi menjadi prioritas. Yang terpenting bagi mereka adalah selamat dari maut.

"Intinya selamat dari gempa," ujar Marsianus didampingi Wilhelmus saat berbincang-bincang dengan detikBali di lokasi, Minggu (23/8/2026).

Tak Bisa Melaut Sejak Gempa

Keluarga nelayan Marsianus Mana dan Wilhelmus Tupa saat berbincang-bincang dengan detikBali di Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa, Nagekeo, NTT, Minggu (23/8/2026). (Yufengki Bria/detikBali).Keluarga nelayan Marsianus Mana dan Wilhelmus Tupa saat berbincang-bincang dengan detikBali di Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa, Nagekeo, NTT, Minggu (23/8/2026). (Yufengki Bria/detikBali).

Marsianus menuturkan hingga saat ini, mereka benar-benar kehilangan mata pencaharian setelah gempa bumi M 7,7 yang mengguncang wilayah tersebut. Meski guncangan dahsyat telah berlalu, mereka masih khawatir akan gempa susulan.

"Kami tidak ada uang karena tidak bisa melaut sejak tanggal 15 itu. Kami masih trauma dengan gempa susulan ini," tutur Marsianus.

Di tengah pengungsian, awalnya mereka hanya mengandalkan makanan apa adanya. Hari berganti hari baru ada bantuan berupa sembako, air mineral dan uang tunai dari salah satu partai politik dan perkumpulan anak rantauan asal Desa Nggolonio di Pulau Jawa.

"Stoknya untuk tiga hari ke depan masih aman, tetapi lebih dari itu dipastikan habis," terang Marsianus.

Menurutnya, sejauh ini dirinya belum mengetahui persis bantuan dari pemerintah ke setiap posko. Namun, Marsianus memastikan bantuannya belum sampai ke tangan mereka.

"Mungkin di posko utama, tapi sampai saat ini kami belum dapat," ungkap Marsianus.

Marsianus berharap ada perhatian serius dari pemerintah untuk menggantikan perahu dan alat tangkap nelayan yang rusak berat dan ringan saat kejadian.

"Kami butuh semua, tapi tergantung dari pemerintah mau melihat kami karena dampak ini," beber Marsianus.

Sementara itu, Wilhelmus setali tiga uang. Menurutnya, walaupun pendapatan dari hasil menjual tangkapan tak seberapa, tetapi baginya melaut adalah sumber penghasilan utama sejak ia masih berusia belasan tahun.

Di lain sisi, hasil tangkapan ikan dan gurita juga tak menentu. Terkadang sedikit dan hanya untuk memenuhi kebutuhan makan setiap hari, tetapi bisa lebih banyak tergantung situasi di tengah laut.

"Palingan kalau jual bisa dapat Rp 50.000, tergantung hasil tangkapannya. Kadang dapat dan kadang sama sekali tidak dapat. Tapi sudah tidak melaut seperti ini mau dapat uang dari mana," pungkas Wilhelmus.



(nor/nor)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads