Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aeramo, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), kekurangan toilet portable dan air conditioner (AC) setelah gempa bumi merusak sejumlah fasilitas di sana. Hal itu membuat pasien beserta keluarganya dan tim medis kesulitan buang air.
Padahal, RSUD Aeramo kini menjadi rumah sakit darurat untuk penanganan korban gempa di Nagekeo. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membangun sejumlah tenda untuk perawatan pasien di rumah sakit tersebut.
"Yang dibutuhkan saat ini adalah WC portable. Itu kan tidak ada," ujar Direktur RSUD Aeramo, Chandrawati, saat ditemui di lokasi, Jumat (21/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Chandrawati menjelaskan jumlah toilet portable yang dibutuhkan saat ini sebanyak enam buah. Sebab, hingga saat ini, jumlah pasien yang dirawat mencapai 35 orang, belum ditambah dengan keluarganya.
"Mohon dibantu jika ada donatur yang bisa memberikan WC portable untuk rumah sakit lapangan ini, cukup enam saja," jelas Chandrawati.
Menurut Chandrawati, toilet yang sering digunakan hanya dua. Walhasil, perbandingan jumlah toilet dengan pasien serta keluarganya dan tim medis tak sepadan. Kondisi itu membuat mereka harus antre kala menggunakan toilet.
Selain itu, dibutuhkan AC agar bisa dipasang di setiap ruang perawatan darurat, seperti ruangan intensive care unit (ICU), neonatal intensive care unit (NICU), operasi, obat-obatan, laboratorium.
Salah satu keluarga pasien, Martina Bhoki, mengaku sempat mengantre hampir 20 menit saat hendak membuang air kecil. Situasi itu disebabkan karena toilet yang tersedia hanya dua unit.
"Lama itu, padahal sudah tahan air kencing," kata perempuan berusia 21 tahun itu.
Martina berharap pemerintah segera mengadakan bantuan berupa penambahan toilet darurat agar memudahkan pasien dan keluarga tidak lagi mengantre.
Keluarga pasien lain, Desi Upa (25), punya pengalaman yang sama. Ia sempat mengantre, tetapi karena makin lama, akhirnya ia memutuskan untuk meminjam toilet milik seorang warga yang tak jauh dari RSUD Aeramo.
"Saya tidak tahan lagi, makanya saya langsung ke rumah warga di sebelah sana. Saya bilang om, pinjam sementara WC dahulu karena saya tidak tahan air kencing," cerita Desi.
1 Toilet Portabel untuk 1.524 Pengungsi
Kekurangan toilet portabel juga dirasakan oleh 1.524 pengungsi korban gempa bumi di posko utama Kampung Barongkolong, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok, Manggarai, NTT. Para pengungsi ini hanya dilayani satu toilet portable.
"Toilet memang terbatas. Banyak pengungsi, agak repot," ungkap Camat Reok, Rita Udin, Jumat (21/8/2026).
Sebenarnya terdapat tiga toilet portabel di Posko Barongkolong bantuan dari PT Pertamina. Namun, hanya satu toilet portabel yang beroperasi.
Akibat kekurangan fasilitas itu, sejumlah pengungsi terpaksa kembali ke rumah masing-masing saat membutuhkan toilet. Padahal gempa susulan kerap terjadi di wilayah tersebut.
Reok adalah salah satu wilayah terdampak parah gempa bumi magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026. Puluhan orang meninggal di wilayah yang berada di pesisir Pantai Utara Flores tersebut. Banyak rumah dan bangunan lainnya hancur.
(hsa/hsa)