Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban tewas akibat gempa bumi magnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mencapai 91 orang. Jumlah tersebut berdasarkan data per pukul pukul 16.00 WIB pada Minggu (23/8/2026).
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengungkapkan sekitar 51 persen korban tewas terkena reruntuhan bangunan. Berton menyebut rangkaian gempa susulan diperkirakan akan berlangsung sekitar 3-4 minggu sejak gempa utama mengguncang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"51 persen korban meninggal karena dampak langsung dari gempa seperti tertimpa reruntuhan bangunan. Sedangkan sisanya 49 persen disebabkan dampak tidak langsung," ujar Berton dalam keterangannya terkait penanganan gempa bumi M 7,7 NTT, Minggu sore.
Berton mengatakan puluhan korban tewas tersebut tersebar di berbagai daerah di NTT. Ia menyebut jumlah korban jiwa terbanyak tercatat di Kabupaten Manggarai, NTT.
"Meninggal dunia Manggarai 32 jiwa, Manggarai Timur 31 jiwa, Sikka 6 jiwa, Ende 2 jiwa, Manggarai Barat 1 jiwa, Nagekeo 14 jiwa, Nagekeo 14 jiwa, Ngada 5 jiwa. Sementara luka-luka 1.260 jiwa," imbuhnya.
Berton merinci jenis kelamin korban tewas akibat gempa dahsyat tersebut terdiri dari 40 laki-laki dan 48 perempuan. Adapun, sebanyak tiga orang lainnya masih dalam proses identifikasi. Para korban tersebut termasuk warga lanjut usia (lansia), dewasa, remaja, hingga balita.
Berdasarkan laporan dari Kemenkes, dia berujar, penyakit tertinggi yang dialami pengungsi mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dengan 3.721 kasus. Selain itu, tercatat pula 15 kasus gigitan hewan penular rabies yang dialami pengungsi di Nagekeo dan Manggarai Timur.