detikBali

Dokter Ungkap Faktor Serangan Jantung Marak Dialami Usia Muda

Terpopuler Koleksi Pilihan

Dokter Ungkap Faktor Serangan Jantung Marak Dialami Usia Muda


Elmy Tasya Khairally - detikBali

Chest pain illness causing heart attack and stroke, cardiac disease risk in young woman, atrial fibrillation awareness month, heartburn or cardiovascular heart health illness problem
Ilustrasi serangan jantung. (Foto: Getty Images/Chinnapong)
Denpasar -

Kasus serangan jantung selama ini kerap dikaitkan dengan usia lanjut. Belakangan, kondisi tersebut juga marak terjadi pada usia muda. Lantas, bagaimana penjelasan dokter mengenai hal tersebut?

Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Kardiovaskular, dr Rachmat Hamonangan, SpPD-KKV, FINASIM, FACP, FICA mengatakan perubahan gaya hidup modern turut berkontribusi terhadap meningkatnya faktor risiko penyakit jantung. Menurutnya, perkembangan teknologi membuat banyak aktivitas menjadi lebih mudah dan instan. Di sisi lain, kemudahan tersebut dapat membuat seseorang semakin jarang bergerak.

"Teknologi ini membuat orang malas bergerak. Kemudian semuanya serba instan, ada makanan instan, fast food," ujar dr Rachmat dalam program detikSore beberapa waktu lalu, dikutip dari detikHealth, Sabtu (3/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain kurang bergerak dan pola makan, Rachmat menyebut gaya hidup urban juga dapat berkaitan dengan kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta stres. Menurutnya, berbagai faktor tersebut perlu menjadi perhatian karena penyakit jantung kini juga dapat ditemukan pada usia muda.

ADVERTISEMENT

Spesialis penyakit dalam dari RS St Carolus Jakarta itu mengaku pernah menangani pasien berusia 28 tahun yang mengalami serangan jantung. dr Rachmat menjelaskan risiko penyakit jantung secara umum dapat dibagi menjadi faktor yang dapat dimodifikasi dan faktor yang tidak dapat dimodifikasi.

"Yang nggak bisa tuh kayak genetik, umur kan nggak bisa dimodifikasi," ujar Rachmat.

Pada kasus serangan jantung di usia muda, dia berujar, faktor genetik biasanya berperan. Dengan demikian, seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung perlu lebih memperhatikan kondisi kesehatannya.

"Kalau serangan jantung usia muda biasanya ada faktor genetiknya," imbuhnya.

dr Rachmat menekankan pentingnya melakukan deteksi dini, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko. Menurutnya, pemeriksaan kesehatan dapat membantu menemukan masalah kesehatan lebih awal.

"Mendeteksi dini lebih baik daripada kita mengobati yang sudah komplikasi. Jadi medical check up memang sangat dianjurkan. Apalagi dengan kita yang tadi punya faktor risiko," kata Rachmat.

"Jadi pikiran orang Indonesia yang bilang takut ketahuan itu emang harus diubah," sambungnya.

Rachmat lantas menggambarkan perbedaan kondisi pasien yang datang ketika baru mengalami gejala dengan pasien yang baru mendapatkan pertolongan setelah mengalami serangan jantung berat dan datang terlambat. Gejala yang dialami biasanya nyeri dada.

"Kita berhasil misalnya kita pun pas melakukan tindakan tapi sudah ada dampaknya. Jantungnya udah lemah. Itu kan jadi ya rugi buat pasiennya juga," imbuhnya.

Artikel ini telah tayang di detikHealth. Baca selengkapnya di sini!

(iws/iws)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan










Hide Ads