Korban jiwa gempa bumi magnitudo (M) 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), bertambah menjadi 53 orang. Sementara, korban luka-luka mencapai 110 orang. Gempa yang berpusat di Nagekeo itu total membuat 3.839 orang terdampak, termasuk mereka yang mengungsi.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nagekeo menyebut data tersebut masih dalam proses verifikasi dan akan terus diperbarui berdasarkan hasil pendataan di lapangan.
"Keterbatasan komunikasi dan BBM menjadi kendala utama kami sejak Sabtu kemarin," kata Wakil Bupati (Wabup) Nagekeo, Gonzalo Gratianus Muga Sada, dalam siaran pers yang diterima detikBali, Minggu (16/8/2026) sore.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gonzalo menjelaskan pasokan listrik di Nagekeo lumpuh total pascagempa dan jaringan telekomunikasi baru bisa diakses sekitar pukul 18.00 Wita pada hari yang sama.
"Keterbatasan BBM juga menghambat mobilitas pemerintah, aparat, maupun masyarakat dalam penanganan bencana," kata Gonzalo.
Selain korban jiwa, gempa juga merusak rumah milik warga. Yakni, 159 rumah rusak berat, 47 rusak sedang, dan 167 rusak ringan. Kerusakan juga terjadi pada 36 fasilitas pendidikan, 211 fasilitas kesehatan, 11 fasilitas umum, 5 rumah ibadah, dan 6 gedung perkantoran," jelasnya.
Menko PMK Pratikno dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Gempa Flores mengatakan pemerintah menyepakati sejumlah langkah strategis. Seluruh kabupaten terdampak diminta segera menetapkan status darurat dan mengaktifkan posko penanggulangan bencana yang dipimpin bupati bersama Forkopimda.
"Di tingkat nasional dibentuk Posko Pendampingan Nasional di Labuan Bajo dan Maumere. Pejabat kementerian/lembaga akan bergabung sesuai tugas dan fungsi untuk memperkuat koordinasi," kata Pratikno dalam rakor yang digelar di Manggarai Barat.
Kepala Basarnas juga diminta mengoordinasikan satgas pencarian dan pertolongan karena masih ada warga yang belum ditemukan. Pemerintah menetapkan tujuh hari pertama masa tanggap darurat sebagai fase penting untuk mempercepat pencarian korban dan memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar.
"Seluruh unsur harus bekerja secara terpadu. Besarnya kekuatan yang dikerahkan hanya akan efektif jika semua bekerja sinkron," tegas Pratikno.
Untuk memperlancar distribusi bantuan, pemerintah menyiapkan Posko Logistik Nasional di Halim serta posko distribusi di Bandara Labuan Bajo dan Bandara Maumere.
Ketiga titik ini akan menjadi jalur utama penyaluran bantuan dari pemerintah, kementerian/lembaga, dunia usaha, dan masyarakat. BNPB memastikan penanganan akan dilakukan maksimal dengan mengerahkan seluruh kekuatan dan sumber daya yang ada.