Presiden Iran Masoud Pezeshkian melempar bola ke Amerika Serikat (AS) terkait kelanjutan perang. Pezeshkian menegaskan Iran tidak ingin terus berperang dan meminta Presiden AS Donald Trump menentukan apakah konflik akan diakhiri atau tidak.
"Akan tetapi, kami tidak ingin melanjutkannya (perang). Amerikalah yang harus memilih apakah mereka ingin mengakhirinya atau tidak," cetus Pezeshkian, dilansir dari detikNews, Jumat (25/9/2026).
Pezeshkian sebelumnya telah menyampaikan sikap tegas Iran saat berpidato di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Rabu (23/9) waktu setempat. Dia menegaskan Teheran tidak akan "bertekuk lutut" di hadapan Washington.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam wawancara yang diterjemahkan oleh Fox News, Pezeshkian mengatakan perang seharusnya dapat diakhiri melalui dialog. Dia menyebut Israel sebagai pihak yang memaksakan perang tersebut kepada Iran.
"Ketika kita bisa menyelesaikan masalah melalui dialog, kita seharusnya tidak saling membunuh. Namun, akibat penghasutan yang dilakukan Israel, mereka memaksakan perang ini kepada kita," kata Pezeshkian.
Pezeshkian menegaskan Iran sudah siap mencapai kesepakatan dengan Trump untuk mengakhiri konflik. Dia merujuk pada nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri perang secara permanen yang diteken pemimpin Iran dan AS pada Juni lalu.
"Mengapa mereka memilih untuk membatalkannya hanya dalam waktu dua minggu setelah penandatanganan kesepakatan?" ujarnya.
"Jika pemerintah Amerika saat ini ingin mencapai kesepakatan dalam kerangka hukum internasional, silakan saja. Jika tidak, baik sebelum maupun sesudah pemilu (pemilu sela AS), apa bedanya bagi kami?" imbuh Pezeshkian dalam wawancara tersebut.
Pernyataan Pezeshkian disampaikan saat Trump mengakui adanya pembicaraan baru yang sedang berlangsung antara AS dan Iran di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB.
Di sela-sela sidang tersebut, Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi melakukan pertemuan terbaru dengan Utusan Khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, serta penasihat dan menantu Trump, Jared Kushner.
Pertemuan tersebut tidak langsung menghasilkan terobosan.