Jumlah sapi yang mati akibat diduga kedinginan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), bertambah menjadi 77 ekor. Puluhan ternak itu ditemukan mati di Desa Tunua, Kecamatan Mollo Utara, serta Desa Fatumnasi dan Desa Kuan Oel, Kecamatan Fatumnasi.
"Desa Tunua ada 49 ekor, Desa Fatumnasi 9 ekor dan Desa Kuan Oel 19 ekor, sehingga total semua 77 ekor yang mati," ujar Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten TTS, Marthen Johanis Banunaek, Jumat (31/7/2026).
Baca juga: 49 Sapi di TTS Mati Akibat Kedinginan |
Berdasarkan laporan masyarakat dan hasil pendataan petugas, kematian puluhan sapi tersebut diduga dipicu cuaca ekstrem yang ditandai hujan berkepanjangan, suhu lingkungan yang rendah, angin, serta kondisi lingkungan yang basah.
Marthen menjelaskan, ternak di Desa Tunua mulai mengalami gangguan kesehatan sejak 24 Juli 2026. Adapun kematian terjadi pada 26-28 Juli 2026. Sementara di Kecamatan Fatumnasi, sapi dilaporkan mengalami kondisi lemah, gemetar, penurunan aktivitas, kesulitan berdiri atau roboh, hingga kondisi tubuh terus menurun sebelum mati.
"Kejadian kematian ternak diduga berkaitan dengan paparan cuaca ekstrem, terutama hujan berkepanjangan, suhu lingkungan yang rendah, angin, dan kondisi ternak yang basah dalam waktu cukup lama," tutur Marthen.
Marthen mengatakan paparan hujan dan angin secara terus-menerus berpotensi menyebabkan hipotermia, terutama pada ternak yang tidak memiliki kandang atau tempat berteduh yang memadai.
Simak Video "Menelusuri Batu Unik di Pantai Kolbano NTT"
(dpw/dpw)