detikBali

Update: 77 Sapi Mati Diduga Hipotermia akibat Cuaca Ekstrem di TTS

Terpopuler Koleksi Pilihan

Update: 77 Sapi Mati Diduga Hipotermia akibat Cuaca Ekstrem di TTS


Yufengki Bria - detikBali

Sapi milik warga di Desa Tunua, Kecamatan Mollo Utara, TTS, NTT, mati akibat kedinginan. (Dok. Disnak dan Keswan TTS, gambar diperjelas dengan AI)
Sapi milik warga di Desa Tunua, Kecamatan Mollo Utara, TTS, NTT, mati akibat kedinginan. (Dok. Disnak dan Keswan TTS, gambar diperjelas dengan AI)
Timor Tengah Selatan -

Jumlah sapi yang mati akibat diduga kedinginan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), bertambah menjadi 77 ekor. Puluhan ternak itu ditemukan mati di Desa Tunua, Kecamatan Mollo Utara, serta Desa Fatumnasi dan Desa Kuan Oel, Kecamatan Fatumnasi.

"Desa Tunua ada 49 ekor, Desa Fatumnasi 9 ekor dan Desa Kuan Oel 19 ekor, sehingga total semua 77 ekor yang mati," ujar Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten TTS, Marthen Johanis Banunaek, Jumat (31/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan laporan masyarakat dan hasil pendataan petugas, kematian puluhan sapi tersebut diduga dipicu cuaca ekstrem yang ditandai hujan berkepanjangan, suhu lingkungan yang rendah, angin, serta kondisi lingkungan yang basah.

Marthen menjelaskan, ternak di Desa Tunua mulai mengalami gangguan kesehatan sejak 24 Juli 2026. Adapun kematian terjadi pada 26-28 Juli 2026. Sementara di Kecamatan Fatumnasi, sapi dilaporkan mengalami kondisi lemah, gemetar, penurunan aktivitas, kesulitan berdiri atau roboh, hingga kondisi tubuh terus menurun sebelum mati.

ADVERTISEMENT

"Kejadian kematian ternak diduga berkaitan dengan paparan cuaca ekstrem, terutama hujan berkepanjangan, suhu lingkungan yang rendah, angin, dan kondisi ternak yang basah dalam waktu cukup lama," tutur Marthen.

Marthen mengatakan paparan hujan dan angin secara terus-menerus berpotensi menyebabkan hipotermia, terutama pada ternak yang tidak memiliki kandang atau tempat berteduh yang memadai.

Kondisi tersebut diperparah apabila ternak berada di lingkungan yang basah dan berlumpur, mengalami kekurangan pakan, serta berusia muda, tua, sedang bunting, atau memiliki kondisi kesehatan yang kurang baik.

"Sehingga hipotermia dapat menyebabkan ternak mengalami penurunan aktivitas, gemetar, kelemahan, penurunan nafsu makan, kesulitan berdiri, hingga kematian apabila tidak segera mendapatkan perlindungan dan penanganan," ungkap Marthen.

Meski begitu, Marthen menegaskan dugaan hipotermia masih merupakan diagnosis sementara. Penyebab pasti kematian ternak masih memerlukan pemeriksaan klinis, pemeriksaan patologi, dan uji laboratorium sesuai kebutuhan.

"Jadi pelayanan kesehatan hewan akan kami lakukan pada Senin (3/8/2026) berupa terapi suportif dan pemberian multivitamin pada ternak sehat dengan jumlah populasi ternak sapi di Desa Tunua sebanyak 1.200 ekor, Desa Kuanoel 1.600 ekor dan Desa Fatumnasi 2.200 ekor," terang Marthen.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan TTS mengimbau peternak menyediakan kandang yang terlindung dari hujan, angin, dan suhu dingin.

Peternak juga diminta menyediakan tempat berteduh dan alas kandang yang kering, meningkatkan ketersediaan pakan dan air minum selama cuaca ekstrem, serta memperketat pemantauan kesehatan ternak di wilayah terdampak.

Selain itu, dinas meminta penguatan koordinasi antara pemerintah daerah, petugas kesehatan hewan, dan kelompok peternak. Pemeriksaan laboratorium juga akan dilakukan apabila ditemukan indikasi penyakit hewan menular atau penyebab kematian yang belum dapat dipastikan.

Sebelumnya, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan TTS melaporkan sebanyak 49 sapi mati di Desa Tunua, Kecamatan Mollo Utara.

"Iya sesuai data teman-teman di lapangan, itu ada 49 ekor. Ada lagi 10 ekor belum ditemukan karena tadi saat turun ke Desa Tunua terjadi hujan," ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan TTS, Marthen Johanis Banunaek, Kamis (30/7/2026).



(dpw/dpw)











Hide Ads