detikBali

Ternak Babi Mati Misterius di Perean Tabanan, Distan Tunggu Uji Lab

Terpopuler Koleksi Pilihan

Ternak Babi Mati Misterius di Perean Tabanan, Distan Tunggu Uji Lab


I Dewa Made Krisna Pradipta - detikBali

Suasana peternakan babi di Plumutan, Mulyodadi, Bambanglipuro, Bantul, Selasa (15/4/2025).
Ilustrasi peternakan babi. (Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja)
Tabanan -

Peternak babi di Desa Perean Kangin, Kecamatan Baturiti, Tabanan menjerit setelah banyak ternak mereka mati. Hingga kini, penyebab kematian tersebut belum bisa dipastikan apakah akibat Virus African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika.

Perbekel Desa Perean Kangin, I Ketut Astra, saat dikonfirmasi Minggu (24/5/2026), mengatakan kasus kematian babi di wilayahnya sudah berlangsung sejak dua bulan terakhir.

Dari laporan warga, ternak babi menunjukkan gejala gemetar usai makan lalu mati mendadak. Ada juga babi yang tidak mau makan selama dua hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kejadian ini sudah dua bulan. Bahkan sudah habis ternak babi di Perean Kangin meskipun ada beberapa yang tidak terkena penyakit," ujar Ketut Astra.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, kejadian tersebut sudah dilaporkan ke Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan. Pihak Puskeswan juga telah turun melakukan pengecekan.

Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut lebih jauh dari pemerintah daerah melalui dinas terkait untuk penanganan kasus tersebut.

"Kondisi ini membuat peternak semakin khawatir karena kematian ternak babi masih terus terjadi dan menyebabkan kerugian ekonomi cukup besar," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, drh. I Gede Eka Parta Ariana, menegaskan kematian ternak babi tidak hanya disebabkan African Swine Fever (ASF). Kondisi tersebut juga bisa dipicu penyakit lain seperti kolera babi, infeksi bakteri, maupun virus lainnya.

"Kematian ternak babi tidak hanya disebabkan ASF. Untuk diagnosa ASF harus dipastikan dengan uji laboratorium. Jadi kasus kematian babi yang terjadi di wilayah Tabanan ini belum ada diagnosa pasti agar tidak salah," tegasnya.

Parta Ariana menambahkan, meski kasus ASF mulai muncul di wilayah Badung dan Gianyar, Kabupaten Tabanan tetap melakukan langkah antisipasi melalui imbauan kewaspadaan yang rutin dilakukan UPTD. Upaya itu tidak hanya difokuskan pada satu jenis penyakit tertentu, tetapi pengendalian penyakit ternak secara umum.

Selain itu, Dinas Pertanian Tabanan juga akan mengajukan bantuan disinfektan ke pemerintah pusat melalui BBVet Denpasar guna memperkuat langkah pencegahan.

Ia menambahkan, pencegahan penyebaran virus pada ternak perlu diimbangi penerapan biosecurity secara ketat, mulai dari penyemprotan disinfektan, pembersihan kandang, pengawasan lalu lintas ternak, hingga vaksinasi.

"Yang jelas Tabanan belum terkonfirmasi adanya ASF. Kalau ada pasti dilaporkan ke dinas untuk ditindaklanjuti ke laboratorium," pungkasnya. (*)




(dpw/dpw)










Hide Ads