Bediding Bikin Sektor Peternakan di Kota Batu Waswas

Bediding Bikin Sektor Peternakan di Kota Batu Waswas

M Bagus Ibrahim - detikJatim
Rabu, 10 Jun 2026 06:45 WIB
Gus Mbek memberikan pakan pada ternaknya
Gus Mbek memberikan pakan pada ternaknya. (Foto: M Bagus Ibrahim/detikJatim)
Malang -

Fenomena suhu dingin ekstrem atau yang akrab disebut bediding mulai dirasakan masyarakat di kawasan Malang Raya, tak terkecuali Kota Batu. Selain berdampak pada aktivitas warga, cuaca dingin ini ternyata juga mengancam sektor peternakan.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu, Hendry Suseno mengungkapkan bahwa fenomena bediding membawa dampak yang kontras di sektor agraria. Jika sektor pertanian dan perikanan cenderung aman, hal berbeda justru terjadi pada peternakan yang berpotensi mengalami masalah kesehatan hewan.

"Kalau pertanian sama ikan itu aman. Ikan tambah adem tambah seneng. Tapi kalau ternak, itu banyak masalah," ujar Hendry saat dihubungi detikJatim pada Rabu (10/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Hendry, sejumlah penyakit musiman mulai membayangi hewan ternak milik warga akibat penurunan suhu yang drastis. Masalah kesehatan ini paling rawan menyerang kelompok unggas dan anakan hewan ternak.

"Kalau unggas itu intinya virus, seperti kembung, flu, dan flu burung. Itu ada masalah setiap bediding. Kalau kambing, anakan (cempe) juga rawan mati," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Selain rawan penyakit, saat bediding juga berpotensi membuat ternak mengalami stres karena hipotermia hingga penurunan metabolisme tubuh yang mempengaruhi nafsu makan dan berimbas terhadap penurunan produksi daging, susu maupun telur.

Menyikapi hal tersebut, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu meminta para peternak untuk memberikan perlakuan ekstra guna menjaga kehangatan hewan peliharaan mereka. Beberapa langkah antisipasi mandiri yang bisa dilakukan di antaranya memodifikasi suhu kandang agar tetap hangat serta memberikan asupan suplemen alami.

"Memang harus ada perlakuan kalau ternak. Gimana caranya kandangnya hangat, diompor (diberi perapian), terus ada vitamin, dan dikasih minuman jamu-jamu tradisional," imbuh Hendry.

Kondisi ini menjadi perhatian serius Pemkot Batu mengingat sektor peternakan merupakan salah satu pilar ekonomi daerah. Berdasarkan data dinas, komoditas peternakan yang paling mendominasi di Kota Batu adalah sapi perah dan ayam petelur.

Bahkan di beberapa wilayah sentra seperti Dusun Brau, Desa Gunungsari, populasi sapi perah tercatat sangat padat hingga melampaui jumlah warga setempat.

"Yang utama jelas sapi perah, kalau unggas itu ayam petelur. Di kawasan Brau itu, populasi sapinya malah lebih banyak ketimbang penduduknya," terang Hendry.

Guna mencegah kerugian massal di kalangan peternak, Dinas Pertanian melalui bidang teknis dan tim Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) rutin menerjunkan personel ke lapangan. Sosialisasi penanganan dini dan pendistribusian stimulan bantuan terus digalakkan ke berbagai kelompok tani ternak.

"Kami dari bidang teknis punya tim yang turun langsung bersama penyuluh binaan di tiap desa untuk memberikan imbauan. Selain sosialisasi rutin, kami juga menyalurkan bantuan vitamin untuk ternak. Stok obat-obatan di Puskeswan juga sudah kami siapkan sebagai langkah antisipasi," tuturnya.

Hingga saat ini, laporan keluhan dari kelompok tani terkait dampak bediding terpantau masih dalam kondisi landai dan terkendali. Tim dokter hewan dan penyuluh teknis pun disiagakan penuh untuk langsung turun menangani jika ditemukan adanya kasus darurat di kandang-kandang peternak.

Ancaman nyata bediding ini dirasakan langsung oleh para peternak di lapangan, salah satunya oleh Agus Sugeng Arianto (56), atau yang akrab disapa Gus Mbek. Peternak kambing asal Jalan Aji Mustofa, Dusun Klerek, Torongrejo, Kota Batu ini mengakui bahwa suhu dingin ekstrem menuntut perawatan yang jauh lebih ekstra agar kondisi fisik ternaknya tidak drop.

Untuk menyiasati hawa dingin bediding yang menusuk, Gus Mbek harus jeli dalam memanipulasi pakan ternak. Jika Dinas Pertanian menyarankan pemberian vitamin dan jamu, ia lebih memilih fokus pada pemberian pakan yang memiliki kalori tinggi, seperti konsentrat campuran jagung dan bungkil, untuk mendongkrak suhu tubuh kambing-kambingnya dari dalam.

"Ada. Nanti kalau ada kemarau ini saya memakai kosentrat kan di situ ada jagung, ada bungkil, itu nanti tubuh panas. Menghangatkan tubuh. Jadi diberi makanannya yang panas-panas. Misalnya yang mengandung kalori panas kan," terangnya.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads