Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Mori Hanafi buka suara soal banyaknya keributan yang terjadi pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) NTB XII 2026 yang bergulir sejak 16 Juli 2026.
Mori menuding ada pihak-pihak yang sengaja mem-framing di media sosial bahwa Porprov NTB banyak diwarnai kericuhan.
Dia menegaskan situasi di lapangan sebenarnya tidak sekacau narasi yang beredar liar media sosial. Seluruh riak pertandingan diklaim sudah diselesaikan secara internal oleh pengurus cabor masing-masing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Adanya beberapa kerusuhan ini di-framing sedemikian rupa. Media-media utama tidak mengangkat terlalu jauh, tapi di media sosial didramatisasi, di-framing sedemikian rupa," tegas Mori dalam konferensi pers di Media Centre Porprov NTB, Jumat (24/7/2026).
Mori membeberkan letupan keributan yang sempat pecah di cabor drum band, pencak silat, hingga BMX murni terpicu oleh tingginya tensi emosi suporter dan gesekan teknis di lapangan.
"Apa yang terjadi ini murni karena miskomunikasi, salah pengertian, dan terlalu semangatnya rekan-rekan yang menonton. Ada sikut-sikutan antar pemain, pemainnya enggak apa-apa, tapi suporternya yang ribut," cetus anggota DPR RI tersebut.
Mori menegaskan bahwa KONI NTB tidak memiliki wewenang untuk mencampuri atau mengintervensi keputusan teknis wasit dan juri di lapangan. Menurutnya, ranah tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pengurus Provinsi (Pengprov) tiap cabor.
Ia pun memastikan bahwa seluruh perselisihan di cabor BMX, pencak silat, hingga drum band sudah menguap dan selesai secara damai tanpa ada laporan resmi yang masuk ke meja KONI NTB.
"Alhamdulillah semuanya sudah clear and clean. Tidak ada alasan bagi kami untuk memberi catatan khusus karena memang sudah selesai," lanjut Ketua DPW NasDem NTB itu.
Mori tak menampik bahwa tingginya emosi dan ambisi para kontingen dipicu oleh rumor bahwa peraih medali di Porprov 2026 akan otomatis melenggang ke PON 2028. Ambisi besar inilah yang membuat setiap daerah ngotot menang. Kendati Porprov menjadi barometer, para atlet tidak bisa serta-merta mengeklaim tiket PON tanpa seleksi lanjutan.
"Memang arahan Pak Gubernur seperti itu (seleksi untuk atlet PON lewat Porprov), tentu kita lakukan. Tapi tetap akan ada mekanisme penentuan atlet oleh cabor, tidak semua otomatis langsung ikut PON," bebernya.
Di tengah sorotan publik, pesta olahraga terbesar se-NTB ini telah memasuki babak akhir. Dari total 51 cabor yang dipertandingkan, sebanyak 45 cabor telah merampungkan laga. Seluruh rangkaian pertandingan dijadwalkan tuntas pada Sabtu (25/7/2026) sebelum resmi ditutup pada Minggu (26/7/2026).
"Puji syukur pelaksanaan Porprov tanpa kita sadari tinggal dua hari lagi. Insyaallah besok seluruh pertandingan final dan akan kita tutup sesuai agenda," pungkas Mori.
Hingga saat ini, kontingen Kota Mataram masih bertengger di puncak klasemen sementara dengan perolehan 134 medali emas, meski KONI NTB masih terus melakukan verifikasi akhir sebelum menetapkan juara umum resmi.
Sebelumnya, Presiden Sahabat Muda NTB Kusnadi Unying memberikan kritik pedas terhadap kinerja Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTB yang menjadi holding penyelenggaraan Porprov 2026.
Menurut Unying, sejak pertandingan Porprov dibuka, beberapa keributan terjadi. Bahkan salah satu pertandingan Aset Kickboxing berujung pada laporan polisi.
"Jadi pemindahan sepihak venue kickboxing memicu protes dari perwakilan atlet Sumbawa Barat. Ini juga berujung pelaporan polisi," ujar Unying dikonfirmasi, Kamis (23/7/2026).
Anehnya lagi, Unying melanjutkan, ada sembilan atlet taekwondo Kabupaten Sumbawa dicoret mendadak saat pertemuan. Bahkan pertandingan Sepak bola Sumbawa Barat vs Bima menuai keributan.
"Kemarin juga terjadi aksi baku hantam di cabor voli dan tinju. Kami menduga juri olahraga dituding mengutamakan ego kelompok atau daerah," tegasnya.
Terpisah, Wakil Ketua DPRD NTB Muzhir juga kritikan dengan nada satire terkait penyelenggaraan Porprov 2026 yang mempertandingkan 51 cabor. Menurutnya, rentetan keributan yang terjadi pada ajang 4 tahunan ini terjadi karena digelar pada musim panas.
"Kemungkinan (keributan ini terjadi) karena musim panas ya. Keuangannya kurang. Kurang air minum," ujarnya.