Sebanyak enam anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) terpapar paham radikal. Menindaklanjuti hal tersebut, Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Nusa Tenggara Timur (NTT) bekerja sama dengan Densus 88 Antiteror Polri memberikan pendampingan dan konseling.
Kepala UPTD PPA NTT, Jenny Widayati, mengatakan pihaknya telah melakukan penjangkauan terhadap keenam anak tersebut sejak mereka datang ke kantor UPTD PPA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kemarin itu, kami sudah lakukan penjangkauan kepada mereka saat mereka datang ke kantor kami. Kami juga telah melakukan konseling terhadap anak-anak ini dan terus kami pantau yang bekerja sama dengan Densus 88," jelas Jenny di Kupang, Jumat (24/7/2026).
Jenny menyebut jumlah anak yang teridentifikasi hingga saat ini masih enam orang. Menurutnya, belum ada indikasi kasus tersebut merupakan fenomena gunung es.
"Sementara yang terlapor baru 6 orang anak itu. Saya rasa belum sejauh itu. Artinya pendapat dari kami sejauh ini hanya itu. Tapi kami tidak tahu bagaimana data yang ada di Densus 88," tambah Jenny.
Diduga Berawal dari Gim Daring
Jenny menjelaskan, berdasarkan hasil pendampingan, anak-anak tersebut diduga mulai terpapar melalui interaksi di gim daring. Salah satu gim yang disebut adalah Roblox. Menurutnya, dari gim tersebut para anak kemudian diajak bergabung ke dalam grup percakapan di WhatsApp.
"Mereka ini terpapar radikalisme paling utama dari game. Contohnya itu dari game Roblox. Di situ karena anak-anak tertarik maka mulailah ada komunitas yang memasukan mereka ke dalam grup-grup WhatsApp," jelasnya.
Di dalam grup tersebut, kata Jenny, para anak diduga diajarkan hal-hal berbahaya. "Di dalam grup itu mereka diajarkan cara merakit bom, kemudian ada tutorial bunuh diri, tutorial melakukan pembunuhan serta kekerasan," ungkap Jenny.
Untuk mencegah kasus serupa, UPTD PPA NTT bersama Densus 88 terus memperkuat edukasi kepada pelajar dan masyarakat.
"Kalau dari kami, melakukan sosialisasi di kampus dan sosialisasi ke sekolah-sekolah yang melakukan MPLS, terkait upaya pencegahan. Jadi itu selalu kami selipkan setiap kali ada kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan anak," tegas Jenny.
Jenny juga menghimbau kepada orang tua dan pihak sekolah untuk lebih mengawasi aktivitas anak di dunia maya. Tujuannya agar tidak menjadi target rekrutmen kelompok radikal.
"Kami berharap ada kolaborasi antara orang tua serta guru, untuk bisa memantau anak saat mengakses layanan aktivitas di dunia maya," pungkasnya.