detikBali

Dugaan Eksploitasi Kuda Picu Ajakan Boikot Gili Trawangan

Terpopuler Koleksi Pilihan

Dugaan Eksploitasi Kuda Picu Ajakan Boikot Gili Trawangan


M. Zahiruddin - detikBali

Tangkapan layar video kuda mengangkut asbes di Gili Trawangan, Lombok Utara, NTB, Minggu (21/6/2026). (Dok. Akun Tik Tok @aimeeglen_)
Foto: Tangkapan layar video kuda mengangkut asbes di Gili Trawangan, Lombok Utara, NTB, Minggu (21/6/2026). (Dok. TikTok @aimeegien_)
Lombok Barat -

Sebuah video yang memperlihatkan sejumlah kuda mengangkut tumpukan asbes dan material bangunan di Gili Trawangan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), viral di media sosial. Video tersebut memicu ajakan boikot wisata ke Gili Trawangan karena dinilai mengeksploitasi hewan.

Video yang diunggah akun TikTok @aimeeglen_ pada Minggu (21/6/2026) itu telah ditonton lebih dari 256 ribu kali. Dalam unggahannya, pemilik akun mengaku prihatin melihat kuda-kuda yang digunakan untuk mengangkut wisatawan sekaligus material konstruksi.

"BOYCOTT GILI! 🇮🇩 Hashtag : humanrights, animalfeelspain, animalabusiveneedtostop," tulis akun tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengunggah juga menyebut dirinya muak melihat kondisi kuda yang harus bekerja keras di pulau wisata tersebut.

ADVERTISEMENT

"Saya muak melihatnya. Bukan hanya harus mengangkut orang-orang berkeliling pulau, kuda-kuda ini juga digunakan untuk mengangkut material kontruksi. Polisi tidak melakukan apa-apa. Saya tidak akan pernah kembali lagi ke Gili. Saya merasa tidal berdaya," tulisnya dalam bahasa Indonesia.

Menanggapi video viral tersebut, Kepala Dusun (Kadus) Trawangan, Muhammad Husni, membantah anggapan bahwa kuda-kuda di Gili Trawangan dipaksa bekerja secara berlebihan. Menurutnya, pengunggah kemungkinan tidak mengetahui sistem operasional cidomo yang berlaku di pulau tersebut.

Husni menjelaskan setiap cidomo di Gili Trawangan paling sedikit memiliki tiga kuda yang dipekerjakan secara bergantian selama durasi enam jam.

"Satu cidomo itu minimal dia memiliki tiga kuda. Jadi sistemnya bergantian, jadi ga satu kuda dipekerjakan. Informasi yang saya dapat dari pengelola, satu kuda sampai jam 12 dia dipekerjakan," jelasnya, Selasa 23/6/2026).

Selain itu, kuda-kuda tersebut juga disebut mendapatkan perawatan rutin, termasuk pemberian vitamin dan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

"Ada perawatannya itu dalam beberapa bulan. Dikasih vitamin segala macam kudanya. Jadi bukan hanya sekedar dipekerjakan dan dikasih pakan biasa," ujar Husni.

Menurut Husni, perawatan kuda tidak hanya dilakukan oleh kusir. Ada pekerja khusus yang bertugas memandikan dan memberi pakan kuda, bahkan kerap kali dibantu oleh warga negara asing (WNA) yang telah lama tinggal di Gili Trawangan.

"Jadi kusirnya itu beda, yang memandikan sama kasih pakan itu beda juga. Kalau enggak salah namanya Pekatik. Bahkan bule juga itu yang ikut terlibat merawat kuda. Banyak teman-teman bule itu yang sudah lama di Gili. Hal lumrah seperti itu warga lokal dengan bule merawat kuda," tuturnya.

Husni menilai ajakan boikot terhadap Gili Trawangan karena penggunaan kuda sebagai tenaga angkut, kurang tepat. Sebab, kata dia, kuda-kuda tersebut tidak dipekerjakan selama seharian penuh.

"Kalau boikot Gili gara-gara itu, saya rasa bukan hal yang tepat ya. Kecuali kalau kuda itu satu hari full dipekerjakan. Iya saya sepakat," tegasnya.

Husni juga menegaskan penggunaan cidomo sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Gili Trawangan sejak lama. Ketiadaan kendaraan bermotor membuat warga mengandalkan cidomo dan sepeda untuk mobilitas maupun distribusi barang.

"Nggak ada pikap. Warga hanya mengandalkan cidomo atau sepeda," tandasnya.




(hsa/hsa)










Hide Ads