detikBali

Sejarah Hari Pramuka 14 Agustus, dari Kepanduan Era Belanda-Gerakan Pramuka

Terpopuler Koleksi Pilihan

Sejarah Hari Pramuka 14 Agustus, dari Kepanduan Era Belanda-Gerakan Pramuka


Agus Eka - detikBali

Ilustrasi Hari Pramuka ke-65 Tahun 2026
Ilustrasi Hari Pramuka ke-65 Tahun 2026. Foto: magnific/Magnific
Denpasar -

Peringatan Hari Pramuka yang dirayakan setiap 14 Agustus menjadi momentum bersejarah bagi seluruh kepanduan di tanah air. Tidak hanya sekadar seremoni rutinitas tahunan, perayaan ini menjadi sarana penting untuk memupuk kembali nilai-nilai patriotisme, kedisiplinan, dan pengabdian bagi generasi muda.

Pembentukan Pramuka punya rekam jejak sejarah yang panjang dan sarat akan nilai perjuangan. Gerakan yang kini menjadi wadah pembentukan karakter generasi muda Indonesia ini tidak muncul secara instan, melainkan melalui proses transformasi sejarah sejak era kolonial hingga peleburan puluhan organisasi kepanduan menjadi satu wadah tunggal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut awal mula Pramuka, dikutip detikBali dari Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka, yang ditulis Untung Widyanto:

Awal Mula Kepanduan Era Hindia-Belanda

ADVERTISEMENT

Gerakan pendidikan kepanduan di Tanah Air sudah muncul sejak zaman Hindia-Belanda. Pada tahun 1912, dimulai latihan sekelompok pandu di Batavia (nama Jakarta pada masa penjajahan Belanda), yang kemudian menjadi cabang dari Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO). Dua tahun kemudian, cabang tersebut disahkan berdiri sendiri dan dinamakan Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging (NIPV) atau Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda.

Pada saat itu, sebagian besar anggota NIPV adalah pandu-pandu keturunan Belanda. Namun, pada tahun 1916 berdiri suatu organisasi kepanduan yang sepenuhnya merupakan pandu-pandu bumiputera. Adalah Mangkunegara VII, pemimpin Keraton Solo, yang membentuk Javaansche Padvinders Organisatie.

Setelah itu, muncul berbagai organisasi kepanduan berbasis agama, kesukuan, dan latar belakang lainnya. Mulai dari Padvinder Muhammadiyah (Hizbul Wathan), Nationale Padvinderij, yarikat Islam Afdeling Pandu, Kepanduan Bangsa Indonesia, Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie, Pandu Indonesia dan banyak lainnya.

Kepanduan yang ada di Hindia-Belanda ternyata berkembang cukup pesat. Perkembangan ini menarik perhatian dari Bapak Pandu Sedunia, Lord Baden-Powell. Bersama istrinya, Lady Baden-Powell, dan anak-anak mereka, Baden-Powell mengunjungi organisasi kepanduan di Batavia, Semarang, dan Surabaya pada awal Desember 1934.

Para pandu di Hindia-Belanda juga aktif berpartisipasi dalam ajang internasional seperti Jambore Sedunia pada 1933 di Hungaria yang diikuti oleh delegasi kecil sebagai peninjau kegiatan. Selain itu Jambore Sedunia 1937 di Belanda yang dihadiri oleh Kontingen Pandu Hindia-Belanda yang terdiri dari pandu keturunan Belanda, bumiputera (khususnya dari Batavia dan Bandung), Pandu Mangkunegaran, pandu dari Ambon, serta sejumlah pandu keturunan Tionghoa dan Arab.

Sementara itu di dalam negeri, kegiatan perkemahan dan jambore kepanduan turut rutin digelar di berbagai wilayah. Salah satunya adalah All Indonesian Jamboree atau "Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem" yang berlangsung pada 19-23 Juli 1941 di Yogyakarta.

Pasca-Kemerdekaan dan Peleburan Organisasi Kepanduan

Pada 27-29 Desember 1945, berlangsung Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia di Surakarta. Kongres tersebut menghasilkan kesepakatan untuk membentuk Pandu Rakyat Indonesia sebagai satu-satunya organisasi kepramukaan di Indonesia. Namun, ketika Belanda kembali mengadakan agresi militer pada tahun 1948, Pandu Rakyat dilarang berdiri di daerah-daerah yang dikuasai Belanda.

Hal ini memicu bermunculannya kembali organisasi lain, seperti Kepanduan Putera Indonesia (KPI), Pandu Puteri Indonesia (PPI), dan Kepanduan Indonesia Muda (KIM).

Dalam perkembangannya, kepanduan Indonesia terpecah hingga mencapai sekitar 100 organisasi yang tergabung dalam Persatuan Kepanduan Indonesia (Perkindo). Banyaknya jumlah organisasi ini ternyata tidak sebanding dengan jumlah anggota, ditambah lagi tingginya rasa ego golongan yang membuat posisi Perkindo menjadi lemah.

Untuk mengatasi perpecahan tersebut, Presiden Soekarno bersama Sri Sultan Hamengku Buwono IX (yang saat itu merupakan Pandu Agung) menggagas peleburan seluruh organisasi kepanduan ke dalam satu wadah resmi. Gagasan ini pertama kali disampaikan Presiden Soekarno saat mengunjungi Perkemahan Besar Persatuan Kepanduan Putri Indonesia di Desa Semanggi, Ciputat, Tangerang, pada awal Oktober 1959.

Presiden Soekarno kemudian mengumpulkan para tokoh dan pemimpin gerakan kepanduan. Seluruh organisasi dilebur menjadi satu wadah bernama Pramuka. Untuk menindaklanjuti keputusan ini, Presiden menunjuk panitia khusus, yang diperkuat para tokoh saat itu seperti Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prijono, Muljadi Djojo Martono dan lainnya.

Perjalanan pembentukan Gerakan Pramuka mengukir beberapa tonggak sejarah krusial sebelum akhirnya diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat. Langkah awal dimulai pada 9 Maret 1961 saat pemerintah meresmikan nama Pramuka, momen yang kelak dikenang sebagai Hari Tunas Gerakan Pramuka. Landasan hukum organisasi ini kemudian makin kuat berkat penerbitan Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 pada 20 Mei 1961, yang sekaligus menandai Hari Permulaan Tahun Kerja.

Komitmen penunggalan ini mencapai puncaknya pada 20 Juli 1961 di Istana Olahraga Senayan, ketika para wakil organisasi kepanduan dari seluruh pelosok Tanah Air secara tegas mengikrarkan diri untuk melebur ke dalam wadah Gerakan Pramuka.

Puncaknya pada 14 Agustus 1961, ketika Gerakan Pramuka diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat luas melalui upacara di halaman Istana Negara. Momen bersejarah ini ditandai dengan penyerahan Panji Gerakan Pramuka dari Presiden Soekarno kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang juga dilantik sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka pertama.

Panji tersebut kemudian diteruskan kepada barisan defile Pramuka Jakarta untuk diarak berkeliling kota.

Tanggal 14 Agustus inilah yang sampai saat ini ditetapkan dan diperingati sebagai Hari Pramuka oleh seluruh anggota Pramuka di tanah air.

Demikian rangkuman detikBali mengenai rekam jejak dan sejarah panjang lahirnya Gerakan Pramuka di Indonesia. Semoga ulasan ini dapat menambah wawasan serta memperkokoh semangat kepanduan dan patriotisme generasi muda bangsa.



(nor/nor)











Hide Ads
LIVE