Sebanyak empat siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Narmada, yakni Ni Kadek Gita Sathyananda, Ni Kadek Dwi Lestari, Baninnajieb, dan Nyoman Diva Wedantara, bersiap untuk terbang menuju Shizuoka, Jepang. Mereka bakal menempuh perjalanan ribuan kilometer (km) bukan untuk berlibur, tetapi mengemban misi besar sebagai duta budaya Nusa Tenggara Barat (NTB).
Gita, Dwi, Baninnajieb, dan Diva akan bertolak ke Negeri Sakura pada Sabtu (20/6/2026). Mereka akan mengikuti program pertukaran budaya bersama International Youth Education Support Association di Negeri Matahari Terbit untuk memperkenalkan tradisi Perang Topat, warisan leluhur di Pura Lingsar, Lombok Barat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wakil Kepala SMAN 1 Narmada, Ibnu Jaya Hadi, mengatakan keempat siswa itu tidak hanya memperkenalkan Tradisi Perang Topat lewat presentasi kaku, melainkan diwujudkan dalam sebuah pertunjukan tari yang telah mereka latih dengan dedikasi tinggi. Lewat panggung seni di Shizuoka, keempat siswa ini ingin menunjukkan pesan perdamaian bisa menyatukan perbedaan dari Lombok, Indonesia.
"Jadi, ada pesan mendalam tentang toleransi, persatuan, dan gotong royong antarumat beragama yang menjadi napas utama tradisi Perang Topat," ujar Ibnu.
Keberangkatan keempat siswa ini bukanlah proyek instan. Program pertukaran budaya SMANAR, julukan SMAN 1 Narmada, ke Jepang telah menjadi 'napas' panjang sejak 2011. Sekolah ini berhasil merawat relasi internasional selama 15 tahun tanpa putus di bawah tangan dingin sang pembina ekstrakurikuler Hikari Japanese Club, Indah Yusniawati.
Risma Devi, Guru Bahasa Indonesia sekaligus alumni SMAN 1 Narmada, mengatakan Hikari Japanese Club bukan sekadar ekstrakurikuler biasa. Menurutnya, relasi Hikari Japanese Club dengan masyarakat Jepang masih terjalin dengan sangat baik
"Sampai saya menjadi siswa dan pada akhirnya menjadi guru di sekolah ini, saya bangga dengan ekstrakurikuler ini," ujar Risma.
Bagi Risma, keberhasilan ini adalah bukti nyata sebuah kegiatan sekolah bisa mengubah jalan hidup siswa. Banyak lulusan SMAN 1 Narmada yang aktif di ekstrakulikuler Japanese Club akhirnya bisa bekerja di Jepang. "Ini buka peluang karier dan wawasan global yang nyata," sambungnya.
Bagi Gita, Dwi, Baninnajieb, dan Diva, ini adalah pengalaman sekali seumur hidup. Mereka bukan sekadar siswa yang pergi ke luar negeri, melainkan duta yang sedang merajut jembatan persahabatan antarbangsa.
Saat pesawat yang membawa mereka mendarat di Jepang nanti, identitas budaya NTB akan disuarakan dengan bangga di panggung di Shizuoka. Mereka membuktikan rapor sekolah bukan sekadar angka, melainkan pintu gerbang menuju dunia.
(hsa/hsa)