Acara (event) Perang Topat di Pura Lingsar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), gagal masuk Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata (Kemenpar) 2026. Perang Topat tidak lolos pada proses kurasi KEN.
Bupati Lombok Barat, Lalu Ahmad Zaini (LAZ), kecewa dengan kegagalan tersebut. Padahal, menurut LAZ, Perang Topat selama ini sudah menjadi langganan event yang masuk KEN dan satu-satunya di Lombok Barat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
LAZ mengatakan akan segera memanggil Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) atau organisasi perangkat daerah (OPD) terkait atas gagalnya Perang Topat masuk KEN 2026. Sebab, Perang Topat gagal masuk KEN 2026 teridentifiasi pada proses wawancara dan verifikasi teknis yang dilakukan Dispar Lombok Barat. "Nanti saya panggil Kepala Dinas Pariwisata," ujarnya, Kamis (29/1/2026).
LAZ menegaskan kegagalan ini akan dimasukkan dalam penilaian kinerja kepala OPD sebagai bahan pertimbangan jabatannya layak dipertahankan atau tidak.
"Akan saya jadikan nanti yang begini-begini sebagai tolok ukur kinerja. Saya tidak ada beban, semua berbasis kinerja. Hanya itu dasarnya bisa dipertahankan jabatan," tegas LAZ.
Selain itu, LAZ juga akan mengevaluasi serta menyusun kontrak kerja selama satu tahun dengan Kadispar Lombok Barat akibat hal tersebut dan bakal dilakukan asesmen setiap enam bulan. Menurut LAZ, publik juga berhak melakukan evaluasi kinerja dalam periode itu.
LAZ juga tidak menapikan beberapa persoalan dalam ajang Perang Topat, seperti sampah, kurangnya perputaran ekonomi, serta pemasaran event yang kurang meluas. Ia berjanji akan memperbaiki hal tersebut ke depan.
LAZ juga memastikan Perang Topat akan tetap digelar meski tidak masuk KEN 2026. Ia mengklaim akan memberikan nuansa berbeda, seperti mendatangkan Menteri Agama RI, karena ajang tersebut melibatkan dua agama, yakni Hindu dan Islam.
Sebagai informasi, ada delapan event di NTB yang diusulkan untuk masuk KEN 2026. Namun, hanya empat yang berhasil lolos, yakni Festival Rimpu Mantika (Kota Bima), Alunan Budaya Desa Pringgasela (Lombok Timur), serta Gili Festival dan Maulud Adat Bayan (Lombok Utara).
(iws/iws)










































