detikBali

1.000 Anak di Mataram Masih Stunting

Terpopuler Koleksi Pilihan

1.000 Anak di Mataram Masih Stunting


Nathea Citra - detikBali

Kepala Dinkes Mataram Emirald Isfihan.
Kepala Dinkes Mataram Emirald Isfihan. (Foto: Nathea Citra/detikBali)
Mataram -

Sebanyak 1.000 anak di Kota Mataram masih mengalami stunting. Angka tersebut setara dengan 5,3 persen dari total anak di wilayah itu pada tahun ini.

Untuk menekan angka tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram kini memfokuskan intervensi pada anak usia di atas tiga tahun yang dinilai penanganannya masih berjalan lambat.

"Kemarin kita turun signifikan, karena kita genjot di angka anak-anak yang usianya 6 bulan sampai 2 tahun. Sekarang posisinya sudah mulai menurun signifikan," kata Kepala Dinkes Mataram, Emirald Isfihan, Kamis (11/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Emirald menjelaskan, penanganan stunting saat ini tidak lagi hanya berfokus pada balita usia dini, tetapi mulai diarahkan pada anak di atas usia 3 tahun. Kelompok usia ini disebut membutuhkan perhatian lebih karena progres penanganannya cenderung lebih lambat dibanding kelompok usia di bawahnya.

ADVERTISEMENT

"Sekarang intervensi kita adalah kasus-kasus di atas 3 tahun. Ini memang agak lambat intervensinya. Kita harus maksimal terus," tegasnya.

Ia menambahkan, secara keseluruhan kasus stunting yang mencapai 5,3 persen atau sekitar 1.000 anak masih didominasi kelompok usia balita. Penanganan terus dilakukan karena rentang risiko stunting mencakup anak sejak lahir hingga usia lima tahun.

"Masih di angka 1.000, kita tetap intervensi. Ya jelas, karena stunting ini kan antara bayi yang baru lahir sampai dengan 5 tahun," ujarnya.

Emirald menegaskan pihaknya menargetkan penurunan angka stunting di Kota Mataram bisa berada di bawah 5 persen pada tahun ini.

"Pada prinsipnya kami terus berusaha untuk menurunkan angka stunting. Tahun ini kami targetkan bisa berada di bawah 5 persen. Pokoknya kita kejar terus," sambungnya.

Untuk menekan angka stunting, Dinkes Mataram memperluas layanan kesehatan bagi ibu hamil melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) gratis yang tersedia di 11 puskesmas di Kota Mataram. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi faktor risiko sejak masa kehamilan.

Selain itu, Dinkes juga menggencarkan pemberian suplemen khusus bagi anak-anak yang mengalami stunting. Upaya ini diharapkan dapat mempercepat penurunan prevalensi hingga di bawah 5 persen.

Sebelumnya, berdasarkan laporan gizi pada aplikasi Sigizikesga Kementerian RI 2026, Kota Mataram tercatat sebagai daerah dengan prevalensi stunting terendah di Nusa Tenggara Barat (NTB), yakni 6,57 persen.

Di bawah Mataram, terdapat Sumbawa Barat 7,1 persen, Lombok Barat 9,58 persen, Kota Bima 9,49 persen, Lombok Tengah 9,99 persen, Sumbawa 10,70 persen, Dompu 12,61 persen, Bima 12,22 persen, Lombok Utara 14,18 persen, dan Lombok Timur 22,39 persen.




(dpw/dpw)










Hide Ads