Turis asing bernama Jurgen Perjul (55) dan Astrid Perjul (57) tewas terjatuh dari jembatan gantung setinggi 20 meter di kawasan Air Terjun Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Air terjun tersebut adalah salah satu destinasi wisata alam populer di Labuan Bajo.
Pemandu wisata (tour guide), Muhamad Muhardin (30), mengungkap detik-detik ketika Jurgen dan Astrid terjatuh di jembatan gantung tersebut. Keduanya terjatuh tepat di bebatuan besar akibat papan-papan kayu tumpuan kaki pada jembatan gantung itu terlepas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka berjalan beriringan sambil tersenyum hangat ke arah kamera. Mereka sempat meminta saya ambil video dari belakang saat menyeberang jembatan," tutur Muhardin di Labuan Bajo, Minggu (24/5/2026).
Jurgen dan Astrid diketahui tiba di kawasan wisata Air Terjun Cunca Wulang sekitar pukul 09.20 Wita. Mereka didampingi oleh sopir pribadi mereka, Julius Mam (45). Setelah menyelesaikan proses registrasi administrasi di pos tiket, kedua turis itu memulai treking menuju air terjun dengan dipandu oleh Muhardin
Setibanya di jembatan gantung kayu yang membentang tinggi di atas aliran sungai berbatu, kedua korban berniat mengabadikan momen kebersamaan mereka melalui video pendek. Mereka kemudian menyerahkan telepon genggam kepada Muhardin dan memintanya merekam dari arah belakang.
Baru sekitar 10 meter melangkah di atas bentangan jembatan gantung, Muhardin berujar, struktur kayu yang menjadi tumpuan kaki mereka mendadak patah. Tiba-tiba terdengar suara keras seperti pohon besar tumbang. Muhardin menyaksikan kedua turis itu jatuh hingga terbentur di bebatuan besar.
"Tiba-tiba terdengar suara kayu patah yang sangat keras seperti dahan pohon besar yang tumbang. Dalam hitungan detik, jembatan langsung ambruk total," ujar Muhardin.
"Saya melihat mereka berdua jatuh bebas ke bawah dan langsung menghantam batu-batu sungai yang besar di dasar jurang," imbuhnya.
Muhardin lantas bergegas berlari kembali ke pos tiket dan meminta pertolongan warga sekitar. Tak lama kemudian, tim SAR gabungan tiba di lokasi untuk mengevakuasi kedua turis asing tersebut.
Proses evakuasi jenazah Jurgen dan Astrid berlangsung dramatis. Tim SAR gabungan harus melewati medan sungai Cunca Wulang yang terjal, sempit, dan dipenuhi bebatuan licin.
Jenazah Jurgen dan Astrid akhirnya berhasil dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah RSUD Komodo, Labuan Bajo. Sementara itu, polisi telah memasang police line di lokasi kejadian.
"Prioritas utama kami sesaat setelah kejadian adalah mengevakuasi korban dan langsung mengamankan TKP guna menjaga keaslian bukti-bukti fisik atau mempertahankan status quo," ungkap Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang.
Jembatan gantung yang merenggut dua nyawa turis asing itu merupakan akses menuju Air Terjun Cunca Wulang. Destinasi wisata yang dikelola Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Manggarai Barat itu dapat ditempuh sekitar 1,5 jam perjalanan darat dari Labuan Bajo.
Polisi Usut Kelalaian Pengelola Wisata Air Terjun
Polres Manggarai Barat kini menyelidiki dugaan kelalaian pengelola wisata Air Terjun Cunca Wulang. Adapun destinasi wisata itu dikelola Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Manggarai Barat.
"Kami tidak main-main dengan keselamatan wisatawan yang berkunjung ke wilayah Manggarai Barat. Tim Identifikasi Sat Reskrim Polres Manggarai Barat sedang melakukan olah TKP mendalam untuk memeriksa kelayakan teknis jembatan kayu tersebut," ujar Kapolres Manggarai Barat AKBP Christian Kadang.
Christian menegaskan polisi akan menyelidiki kelayakan infrastruktur jembatan gantung tersebut. Termasuk mendalami adanya potensi kelalaian pengelola wisata yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain.
"Kami juga akan memanggil pihak pengelola destinasi wisata Cunca Wulang untuk dimintai keterangan secara intensif terkait standar keselamatan (SOP) dan pemeliharaan infrastruktur yang mereka terapkan selama ini," jelas Christian.
Polisi kini tengah menjalin komunikasi dengan Kedutaan Besar Austria di Jakarta terkait penanganan jenazah kedua turis asing itu. Langkah ini juga mencakup penanganan dokumen-dokumen resmi hingga pengamanan barang-barang pribadi korban yang masih tertinggal di tempat penginapan.
"Serta memfasilitasi proses repatriasi atau pemulangan jenazah kedua korban kembali ke negara asal mereka sesegera mungkin," tandas dia.
(iws/iws)