Sapi milik peternak asal Kelurahan Sasake, Kecamatan Praya Tengah, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), terpilih menjadi hewan kurban bantuan kemasyarakatan Presiden Prabowo Subianto pada Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah/2026. Sapi jantan bernama Black Panther itu memiliki bobot mencapai 1,04 ton.
"Sapi ini namanya kita kasih Black Panther. Karena warnanya hitam dan tangguh dia. Nggak ada filosofi, karena hitam saja," kata pemilik sapi, Ahmad Dimiati, Rabu (20/5/2026) di kandangnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ahmad menuturkan, berdasarkan penimbangan terakhir, bobot sapi tersebut mencapai sekitar 1,04 ton. Namun, bobot tersebut diperkirakan masih akan bertambah menjelang pengiriman karena perawatan terus ditingkatkan.
"Mungkin mendekati 1,1 ton. Karena saya kasih makan rutin. Dan saya benar-benar ekstra dalam merawatnya," imbuhnya.
Ahmad menjelaskan, sapi berwarna dominan hitam dengan sedikit corak putih ini telah ia rawat hampir 1,5 tahun lebih. Kualitas fisik yang luar biasa ini membuat Black Panther ditebus dengan harga yang cukup tinggi oleh pihak kepresidenan, yakni Rp 142 juta.
"Rencananya ini mau dikirim ke Sumbawa. Info yang saya dapatkan sih begitu," bebernya.
Ahmad mengaku bangga karena sapi hasil ternaknya bisa dibeli oleh orang nomor satu di Indonesia. Hal ini juga sebagai pendongkrak dirinya untuk lebih giat lagi dalam beternak agar setiap tahun bisa dibeli oleh Prabowo.
"Bangga lah ya. Siapa yang nggak bangga dibeli oleh Presiden," katanya.
Keberhasilan membesarkan sapi hingga mencapai bobot lebih dari satu ton tentu memerlukan dedikasi tinggi. Ahmad menyebut bahwa ia menerapkan manajemen perawatan yang sangat disiplin karena ada target kualitas yang ingin dicapai.
"Perawatannya cukup ketat. Pola makannya yang berimbang antara kandungan-kandungan yang terdapat di dalam pakannya sendiri. Keseimbangan antara protein, karbohidrat, dan mineral," tegasnya.
Ia menjelaskan, pemeriksaan terakhir oleh pihak Dinas Pertanian dan Peternakan dilakukan pada 28 April 2026. Ahmad menyampaikan, saat ini juga rutin ditinjau oleh pihak kesehatan hewan untuk memastikan kesehatan sapi kurban itu.
"Tetap diperiksa di sini. Saya belum tau kapan mau dibawa ke Sumbawa. Yang jelas akan disembelih di Sumbawa," pungkasnya.
Sapi Kurban Presiden Prabowo di Mataram Capai 979 Kg
Kota Mataram juga menerima bantuan sapi kurban dari Prabowo. Sapi kurban tersebut berbobot mencapai 979 kilogram (kg).
"Jjatah sapi kurban Presiden Prabowo di Mataram insyaallah beratnya 979 kilogram," kata Asisten I Setda Kota Mataram, Lalu Martawang saat diwawancarai di ruangannya, Rabu (20/5/2026).
Martawang menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pemerintah pusat atas perhatian yang diberikan kepada Kota Mataram. Ia memastikan sapi kurban tersebut telah memenuhi standar kesehatan dan bobot yang ditetapkan.
Ia menjelaskan sapi berbobot hampir satu ton itu berasal dari peternak lokal di wilayah NTB. Namun, pemilihannya dilakukan berdasarkan spesifikasi tertentu yang telah ditetapkan pemerintah pusat.
"Yang jelas sapi ini dari wilayah NTB dan tidak keluar dari NTB. Kalau misalnya tidak tersedia dari peternak dari Mataram, bukan berarti karena tidak terpilih, melainkan memang spesifikasinya yang khusus. Harus dengan berat berapa, dengan tingkat kesehatan seperti apa," tuturnya.
Menurut dia, sapi kurban Presiden Prabowo nantinya akan diserahkan di wilayah Bebidas, Pagesangan, Kota Mataram. Sapi akan diserahkan setelah salat Idul Adha di parkiran timur Lombok Epicentrum Mall.
27.449 Sapi Kurban Asal NTB Dikirim ke Luar Daerah, Perputaran Uang Tembus Rp 499 Miliar
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) mencatat sebanyak 27.449 ekor sapi kurban asal Pulau Lombok dan Sumbawa telah dikirim ke berbagai daerah di Indonesia menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Pengiriman sapi terbanyak ke Provinsi DKI Jakarta.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, Muhamad Riadi, mengatakan kuota pengiriman sapi dari NTB pada 2026 mencapai 52.517 ekor. Hingga April 2026, sebanyak 32.226 ekor sapi telah dikirim ke luar daerah.
"Periode April itu tersisa 20.291 ekor belum dikirim ke luar. Terbesar sisanya di Pulau Sumbawa capai 13.061 ekor," ujar Riadi, Rabu (20/5/2026).
Menurut Riadi, mayoritas pengiriman sapi dari NTB masih didominasi ke wilayah Jabodetabek dengan jumlah mencapai 24.974 ekor. Selain itu, sapi asal NTB juga dikirim ke sejumlah daerah lain seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Aceh, Sumatera Selatan, hingga Sumatera Barat yang mencapai 27.449 ekor.
"Jadi kami tidak hanya kirim ke Jabodetabek ya. Keluar itu juga banyak permintaan seperti daerah Kalimantan Selatan. Nah daerah-daerah ini adalah pasar baru kami yang perlu dijaga," kata Riadi.
Riadi menjelaskan, pengiriman sapi ke Jabodetabek dalam beberapa tahun terakhir mengalami fluktuasi. Pada 2023 jumlah pengiriman mencapai 23.100 ekor, kemudian turun menjadi 22.157 ekor pada 2024, dan 20.452 ekor pada 2025.
"Tahun 2025 itu pengiriman kami sangat crowded. Jadi kami sudah membentuk satuan tugas (satgas) tahun 2026 ini. Jadi satgas ini sangat efektif untuk memperlancar pengiriman di Pelabuhan Gili Mas, Lombok Barat," ujarnya.
Pemprov NTB juga menerapkan pengaturan ketat dalam proses distribusi sapi kurban. Melalui surat edaran Gubernur NTB, jumlah sapi yang diangkut menggunakan truk tronton dibatasi maksimal 30 ekor guna menghindari kematian selama perjalanan.
"Tahun ini kami kirim 24.974 ekor. Semua sapi tidak ada yang mati di atas kapal maupun truk. Jadi kita atur waktu pengiriman agar tidak menjadi penumpukan," tegasnya.
Riadi mengungkapkan harga sapi asal NTB di pasaran Jakarta berkisar antara Rp 20 juta hingga Rp 23 juta per ekor. Jika dihitung menggunakan harga rata-rata Rp 20 juta, maka total perputaran ekonomi dari pengiriman sapi kurban tahun ini mencapai sekitar Rp 499 miliar.
"Itu belum termasuk ongkos pengiriman dan ongkos tangkap sapi. Itu ongkos pengiriman sapi itu kan di kisaran Rp 30 juta per truk. Jadi itu masih kami ambil rata-ratanya," ujarnya.
Artinya, Riadi berujar, perputaran uang pada pengiriman sapi-sapi kurban asal Bumi Gora tembus ratusan miliar. Angka itu muncul dari harga jual, biaya pengiriman, biaya pakan, biaya transportasi laut hingga biaya penangkapan sapi.
"Jadi ada biaya penangkapan sapi itu kalau di hutan itu capai Rp 300 ribu ya," tandasnya.
(nor/nor)










































