Ni Ketut Suartini (48) peternak wanita asal Banjar Sumbersari, Desa Melaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali, tak pernah menyangka sapi Bali yang dulu dibelinya dalam kondisi kurus kerempeng kini bakal menjadi hewan kurban orang nomor satu di Indonesia.
Tak main-main, sapi jantan kesayangannya yang diberi nama 'Arjuna' milik peternakan Tiga Saudara Farm itu dipinang dengan harga fantastis mencapai Rp 72,1 juta. Rencananya, si Arjuna akan diserahkan ke salah satu masjid di wilayah Melaya Krajan saat Idul Adha nanti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ditemui detikBali di kandangnya, Minggu (17/5/2026), Suartini mengaku masih tak percaya sapi peliharaanya dilirik oleh Prabowo Subianto. Kisah mujur ini bermula dari kepatuhannya mengikuti program pemerintah.
"Awalnya pas sering ada suntik-suntik sapi dan petugas dinas datang ke sini. Mungkin dari mulut ke mulut akhirnya mereka tahu saya punya sapi berukuran besar," ungkap Suartini mengawali cerita.
Sebenarnya, ini bukan kali pertama sapi jumbo milik Suartini diincar pemerintah. Hanya saja, pada tahun-tahun sebelumnya, ia selalu keduluan oleh para 'saudagar' dari luar pulau.
"Biasanya seminggu setelah Idul Fitri sudah banyak bos-bos dari Jawa datang cari sapi besar. Jadi dulu sering sudah terjual duluan," imbuhnya.
Siapa sangka, Arjuna yang kini berbadan kekar dulunya adalah sapi yang ringkih. Suartini membeli Arjuna tiga tahun lalu dari wilayah Desa Pangyangan, Kecamatan Pekutatan.
"Waktu pertama dibeli kondisinya kurus, meskipun posturnya tinggi. Kala itu usianya baru setahun dengan berat cuma 75 sampai 80 kilogram," kenang Suartini.
Berbekal pengalaman, perempuan yang melanjutkan usaha peternakan almarhum suaminya ini merawat Arjuna dengan sepenuh hati. Hasilnya instan. Sebulan lalu saat disepakati dibeli pemerintah, berat Arjuna sudah menyentuh 6,5 kuintal atau 650 kilogram (kg). Kini, bobotnya meroket hingga perkiraan 6,8 kuintal.
"Nanti pas mau dikirim baru ditimbang lagi," cetusnya.
Suartini membeberkan rahasia dapur bagaimana mencetak sapi berbobot monster. Selain pakan hijau, Arjuna diberi asupan tambahan berupa ampas tahu dan polar. Saat badannya mulai 'jadi', barulah ditambahkan konsentrat.
Urusan minum pun ramuannya khusus. Arjuna diberi minum dua kali sehari dengan campuran satu genggam garam. Fungsinya untuk memperkuat kaki-kaki Arjuna menopang bobot tubuhnya yang kian berat. Suartini juga rutin mencekoki Arjuna dengan jamu tradisional agar meningkatkan nafsu makan.
Fasilitas untuk Arjuna pun bak di hotel bintang lima. Sapi ini rutin dimandikan dengan air hangat yang dicampur garam, lalu disabuni hingga bulunya mengilap. Suartini mengaku ikatan emosional adalah kunci utamanya.
"Perawatannya memang khusus. Setiap bangun tidur saya utamakan sapi dulu, urusan dapur belakangan. Kami juga harus tahu maunya sapi seperti apa," ucapnya sembari tersenyum.
Suartini mengaku bangga luar biasa. Momen ini menjadi pembuktian sekaligus suntikan semangat bagi para peternak lokal di ujung barat Pulau Dewata.
"Senang sekali. Peternak itu pasti punya semangat kalau sapinya sampai dibeli Presiden. Ini bisa jadi motivasi untuk peternak lain juga," ujarnya bangga.
Nantinya, saat hari H Iduladha, Suartini memastikan tidak akan melepas Arjuna begitu saja. Dirinya bakal mengawal langsung truk yang mengangkut si Arjuna hingga tiba di lokasi penyerahan di Melaya Krajan.