detikBali

Warga Amfoang Kembali 'Injak Padi' gegara BBM Langka

Terpopuler Koleksi Pilihan

Warga Amfoang Kembali 'Injak Padi' gegara BBM Langka


Yufengki Bria - detikBali

Sejumlah warga Desa Honuk, Kecamatan Amfoang Barat Laut, Kabupaten Kupang, NTT, merontokkan padi secara tradisional dengan cara diinjak, Rabu (13/5/2026) malam.
Foto: Sejumlah warga Desa Honuk, Kecamatan Amfoang Barat Laut, Kabupaten Kupang, NTT, merontokan padi secara tradisional dengan cara diinjak, Rabu (13/5/2026) malam. (Tangkapan layar)
Kupang -

Warga Desa Honuk, Kecamatan Amfoang Barat Laut, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), merontokan padi secara tradisional dengan cara diinjak. Hal itu disebabkan karena warga kesulitan mendapat bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite untuk menghidupkan mesin perontok padi.

Berdasarkan video berdurasi 3 menit, 11 detik, Kepala Desa Honuk, Mateos Nainel, tampak memimpin langsung proses injak padi itu. Dalam video itu, sejumlah warga tampak antusias dengan diiringi musik tradisional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tradisi itu sudah terjadi secara turun-temurun oleh warga setempat kala belum ada mesin perontok padi. Selain itu, metode tersebut lebih mengedepankan semangat gotong royong.

"Itu karena memang di sini tidak ada Pertalite, makanya kami rontokkan manual saja," ujar Mateos saat dihubungi detikBali, Kamis (14/5/2026).

ADVERTISEMENT

Mateos menjelaskan momen injak padi itu terjadi pada Rabu (13/4/2026) malam di rumah warga bernama Markus Poeket di RT 01, Dusun 1, Desa Honuk. Menurutnya, padi milik warga itu awalnya sudah dipanen, tetapi kesulitan BBM untuk menghidupkan mesin perontok padi.

"Itu memang ada niat mau rontok dengan mesin, hanya tidak ada BBM. Sehingga kami ramai-ramai injak saja pas pulang ibadah," tutur Mateos.

Saat ini, Mateos berujar, warga Honuk benar-benar kesulitan mencari BBM. Kelangkaan itu terjadi sejak sepekan terakhir ini. Menurut Mateos, stok Pertalite sangat terbatas. Harga eceran menembus Rp 20 ribu per liter.

"Untuk sementara masih langka. Di sini memang ada tapi stoknya sangat terbatas dan dijual Rp 20 ribu per liter. Biasa harga normalnya itu Rp 15 ribu," kata Mateos.

Akibat kelangkaan itu, aktivitas warga sangat terhambat. Bahkan salah satu petugas medis di Desa Soliu, Kecamatan Amfoang Barat Laut, yang hendak ke Rumah Sakit Pratama (RSP) Amfoang, pun terhambat karena kesulitan mencari BBM untuk motornya.

"Saya kebetulan waktu datang dari Kupang, isi memang di motor jadi masih bisa beraktivitas," imbuh Mateos.

Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menjelaskan stok BBM masih aman untuk kebutuhan warga Amfoang. Namun, bila pengisian BBM subsidi menggunakan jerikan harus menggunakan surat rekomendasi.

"Sama ke di Kabupaten Sabu Raijua itu, karena jarak SPBU jauh, maka mereka menggunakan surat rekomendasi dari instansi terkait," jelas Ahad.

Sebagai informasi, penyaluran BBM ke Amfoang memang menjadi kendala utama apabila lewat darat karena sejumlah ruas jalan baik jalur pantura maupun lewat lereng Gunung Timau, itu putus. Warga yang bepergian ke Kota Kupang dengan lalu membawa barang bawaan sering estavet.

Selain itu, Jembatan Termanu dan Kapsali di Kecamatan Amfoang Barat Daya atau di jalur pantura pun tak bisa dilalui setelah putus total pada 2023. Hal ini membuat warga benar-benar kesulitan untuk bepergian ke Kota Kupang.




(hsa/hsa)










Hide Ads