detikBali

Cerita Ferona, Dulu Belajar di Atap Bocor Kini Layak

Terpopuler Koleksi Pilihan

Cerita Ferona, Dulu Belajar di Atap Bocor Kini Layak


Simon Selly - detikBali

Ferona Keren Balol, siswi SMA Negeri 3 Kalabahi bersama Mendikdasmen Abdul Muti di Kupang , NTT, Selasa (5/5/2026).
Ferona Keren Balol, siswi SMA Negeri 3 Kalabahi bersama Mendikdasmen Abdul Mu'ti di Kupang , NTT, Selasa (5/5/2026). (Foto: Simon Selly/detikBali)
Kupang -

Ferona Keren Balol, siswi SMA Negeri 3 Kalabahi, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) atas program revitalisasi sekolah. Hal itu disampaikannya saat menghadiri peresmian di Kupang, Selasa (5/5/2026).

"Tentang surat yang tadi saya baca, surat itu berisi tentang ucapan terima kasih kepada Bapak Presiden dan Bapak Menteri, karena program revitalisasi yang telah terjadi di kami punya sekolah," kata Ferona.

Ia menceritakan kondisi sekolahnya sebelumnya sangat memprihatinkan. Siswa harus belajar di bangunan darurat dengan atap berlubang dan lantai tanah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena duluan kami punya sekolah itu, masih bangunan yang darurat. Sengnya lubang, triplek tipis. Terus semua sekolah itu lantainya tanah, itu yang kami harus pakai dengan kondisi ruang itu untuk belajar," kisahnya.

Setelah direvitalisasi, suasana belajar berubah menjadi aman dan nyaman.

ADVERTISEMENT

"Tetapi ketika sekolah kami mendapatkan revitalisasi sekolah, kami sangat senang dan bahagia karena sekarang kami belajar sudah nyaman," ujarnya.

Ferona datang dari Alor bersama kepala sekolah karena diundang langsung oleh Mendikdasmen Abdul Mu'ti.

"Kami ke sini pakai pesawat. Kami jauh-jauh dari Alor karena di undang langsung oleh Pak Menteri datang ke sini," katanya.

Kepala SMA Negeri 3 Kalabahi, Lety Andiani Waang, menyebut revitalisasi menjadi jawaban setelah sembilan tahun tanpa bantuan.

"Revitalisasi menjadi jawaban terbaik bagi kami. Di sekolah karena 9 tahun cukup lama, kami sama sekali tidak pernah mendapatkan sentuhan," ungkapnya.

Sekolahnya mendapat anggaran lebih dari Rp 1,74 miliar untuk pembangunan tiga gedung.

"SMAN 3 Kalabahi mendapat anggaran Rp 1,74 miliar lebih untuk 3 gedung. 2 ruang kelas baru bersama kursi dan meja, 1 lab komputer, dan 1 toilet dengan sanitasi," terangnya.

Menurut Lety, pembangunan dilakukan secara swakelola dengan melibatkan masyarakat sekitar.

"Sistem swakelola murni membuat sekolah melibatkan masyarakat dan gereja sekitar. Terus terang kami melibatkan masyarakat, gereja sekitar. Sehingga perekonomian di tengah masyarakat itu berputar baik dan hasilnya anak-anak sangat bahagia," jelasnya.

Sebelumnya, banyak siswa pindah karena fasilitas tidak layak.

"Siswa-siswi di kami seratus lebih, tetapi karena keadaan sekolah yang begitu anak-anak pindah, bukan karena faktor guru tetapi faktor tempat belajar yang tidak nyaman. Tapi Puji Tuhan menjawab doa kami melalui program revitalisasi," terangnya.

576 Sekolah Direvitalisasi di NTT

Dalam kesempatan itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti meresmikan revitalisasi ratusan sekolah di NTT di SMA Negeri 9 Kupang.

"Sore ini, kita menghadiri peresmian revitalisasi sekolah-sekolah yang mendapatkan revitalisasi tahun 2025 dan beberapa sekolah yang nanti akan mendapatkan bantuan revitalisasi tahun 2026," kata Abdul Mu'ti.

Sebanyak 576 satuan pendidikan mendapat bantuan 2025 dengan anggaran Rp 589 miliar.

"Rinciannya PAUD 43 sekolah, SD 234 sekolah, SMP 174 sekolah, SMK 44 sekolah, SLB 9 sekolah, dan SKB/PKNP 8 sekolah," jelasnya.

Untuk 2026, NTT kembali mendapat alokasi Rp 225 miliar.

"Kemudian, kalau rinciannya 299 sekolah sudah PKS. Dan 175 sekolah akan PKS dengan total keseluruhan 474 sekolah," ujarnya.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyebut kegiatan ini sebagai ajang silaturahmi pendidikan.

"Kita bersama-sama untuk berkumpul peresmian revitalisasi satuan pendidikan se-Kabupaten Kupang, Kota Kupang, dan Kabupaten Timor Tengah Selatan dan juga menyapa seluruh sekolah se-NTT, yang hari ini mereka menceritakan usai mendapatkan revitalisasi di tahun lalu," katanya.

Program ini diharapkan meningkatkan kualitas sarana dan pembelajaran di NTT.




(dpw/dpw)










Hide Ads