Pada abad ke-19, Bali pernah memiliki seorang perempuan cerdas dan pemberani. Ida I Dewa Agung Istri Kanya namanya. Kolonial Belanda bahkan menjulukinya sebagai 'perempuan besi'. Dialah perempuan pertama dan satu-satunya yang pernah memimpin Kerajaan Klungkung sampai saat ini.
detikBali melakukan napak tilas untuk menemukan jejak perjuangan Ida I Dewa Agung Istri Kanya. Mulai dari mendatangi patung monumennya di Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, hingga lanjut ke Museum Semarajaya.
Baca juga: Cinta Bung Karno pada Kesenian Bali |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kisah perjuangan Ida I Dewa Agung Istri Kanya diulas dalam buku 'Ida I Dewa Agung Istri Kanya, Pejuang Wanita Rakawi Melawan Kolonialisme Belanda pada Abad 19'. Tim penulisan sejarah itu diketuai oleh Prof Anak Agung Bagus Wirawan (77), mantan guru besar Ilmu Sejarah Universitas Udayana (Unud).
Menurut Wirawan, sosok Dewa Agung Istri Kanya merupakan perempuan yang melampaui zamannya. Sebab, peran pemimpin perempuan tak begitu mencolok saat era kolonial.
"Sosok perempuan menjadi pemimpin di masa itu merupakan sebuah penyimpangan. Namun kehadirannya sebagai pemimpin justru disegani oleh raja-raja Bali pada masa itu," kata Wirawan saat ditemui di kediamannya di Desa Gel-Gel, Klungkung, Minggu (19/4/2024).
Kepemimpinan Dagung Istri Kanya terlihat pada cerita perlawanan rakyat Bali mengusir kolonial Belanda saat Perang Jagaraga I (Juni 1848). Menurut Wirawan, Dagung Istri Kanya saat itu berperan mengajak raja-raja Bali bersatu menghimpun kekuatan laskar.
Dengan kemampuan diplomatis yang dimiliki, Dagung Istri Kanya menghimpun kekuatan untuk membantu Jagaraga memukul mundur pasukan Belanda. Perjuangannya yang paling dikenang di hati sanubari warga Klungkung adalah saat mengarsiteki penyerangan markas Belanda pada Perang Kusamba (1849).
Penyerangan ke markas kolonial Belanda itu dilancarkan pada malam buta hingga menewaskan Jenderal Belanda AV Michiels. Menurut Wirawan, peran Dagung Istri Kanya berbeda dengan Cut Nyak Dhien yang berjuang di Aceh.
"Memang tak seperti Cut Nyak Dien yang langsung turun ke medan tempur. Dagung Istri Kanya memimpin dengan sosoknya sebagai seorang yang saya sebut rakawi atau sastrawan pada masa ini," tutur Wirawan.
"Saat itu, dialah yang menugaskan laskar utama kerajaan untuk melakukan penyerangan khusus. Tugas yang diberikan juga spesifik pada membunuh jenderalnya," imbuhnya.
Wirawan menilai sosok Dagung Istri Kanya bisa disandingkan dengan sosok Kartini pada abad ke-20. Dagung Istri Kanya, dia berujar, adalah seorang perempuan yang memiliki kemampuan diplomasi, melawan keterbatasan, pengekangan, dan menjadi simbol kekuatan perempuan di masanya.
Patung Ida I Dewa Agung Istri Kanya di simpang empat Pusat Kebudayaan Bali (PKB) Desa Kusamba, Klungkung, Bali. (Foto: Fatih Kudus Jaelani/detikBali) |
Perjalanan Hidup Sang Ratu Perawan
Tak banyak yang bisa diserap dari perjalanan hidup Dagung Istri Kanya. Literasi tentang kehidupan pribadinya sangat minim. Bahkan, tak satu pun potret dirinya yang bisa ditemukan. Menurut Wirawan, sosok yang dijadikan patung monumennya saat ini merupakan hasil imajinasi seniman.
Wirawan mengatakan tahun kelahiran dan kematian Dagung Istri Kanya juga belum diketahui secara pasti. "Yang ada hanya tahun ia memimpin dari 1809-1840. Saat Perang Kusamba pada 1849, ia sebagai penasehat raja," ujarnya.
Dagung Istri Kanya merupakan putri dari Ida I Dewa Agung Putra Kusamba. Ia mendapatkan takhta sebagai penerus saat ayahnya meninggal dunia. Konon, Dagung Istri Kanya dikenal bijaksana dan disegani raja-raja Bali lainnya.
Salah satu yang menonjol adalah sikap hidupnya yang memilih untuk melajang. Dari sanalah sebutan 'Istri Kanya' ia dapatkan. Kanya dalam bahasa Sanskerta berarti gadis atau perawan.
Menurut Wirawan, memilih untuk melajang di masa itu merupakan pilihan yang anomali. Ia memperkirakan Dagung Istri Kanya berusia 30-40 tahun saat memimpin Kerajaan Klungkung.
Wirawan menyebut Dagung Istri Kanya sebagai sosok rakawi atau sastrawan. Ia diketahui memiliki sejumlah karya sastra, dua di antaranya terhimpun pada Kidung Padem Warak dan Pralambang Bhasa Wewatekan.
Terlepas dari keterbatasan literasi tentang sosoknya, Dagung Istri Kanya diyakini sebagai sosok panutan, pahlawan, sekaligus pemimpin perempuan pertama di Kerajaan Klungkung. Ia tak langsung terjun ke medan perang menghunus keris dan pedang.
Dagung Istri Kanya mengatur strategi jitu untuk memukul mundur pasukan Belanda dari tanah kelahirannya. Bahkan, strategi tersebut menyebabkan kerugian besar bagi Belanda dengan tewasnya Jenderal AV Michiels.
