Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melaporkan capaian program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) 2025 yang melampaui target. Program ini merupakan pendampingan keluarga berisiko stunting atau balita kerdil.
Kepala Perwakilan BKKBN NTT, Faizal Fahmi, menyampaikan hal itu dalam Rakorda Program Bangga Kencana 2026 di Aula Fernandes, kantor Gubernur Provinsi NTT, Kamis (16/4/2026).
"Jadi pada tahun 2025, BKKBN NTT ditargetkan mendampingi 28.615 keluarga berisiko stunting. Namun realisasinya kami mampu mendampingi 41.941 keluarga berisiko stunting atau sekitar 146 persen dari target," terang Faizal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari upaya tersebut, BKKBN NTT berhasil menghimpun dukungan anggaran sekitar Rp 2,1 miliar. "Yang disalurkan dalam bentuk bantuan nutrisi, rumah layak huni, penyediaan air bersih, dan bantuan lainnya," tambahnya.
Faizal menambahkan, sejumlah program prioritas Kemendukbangga seperti Taman Asuh Sayang Anak, Gerakan Ayah Teladan Indonesia, dan Lansia Berdaya berjalan baik dan memenuhi target pemerintah pusat.
"Keberhasilan juga dicatat program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting yang melampaui target," kata Faizal.
Di sisi lain, total fertility rate (TFR) atau angka kesuburan total di NTT saat ini sebesar 2,8 persen. Ini merupakan rata-rata anak yang dilahirkan seorang wanita selama masa reproduksinya.
"Artinya, rata-rata keluarga di NTT memiliki dua sampai tiga anak," terang Faizal.
Capaian peserta keluarga berencana (KB) aktif berada di angka 40 persen, sementara angka kebutuhan KB yang belum terpenuhi tercatat sebesar 25 persen.
Terkait penyusunan peta jalan pembangunan kependudukan tingkat provinsi, dari 22 kabupaten/kota di NTT, sebanyak 9 daerah telah menyelesaikan dokumen tersebut, sementara 12 lainnya masih dalam proses.
"Kami terus melakukan pengawalan bersama OPD KB agar penyusunan dokumen pembangunan kependudukan ini dapat berjalan dengan baik," ujar Faizal.
Untuk implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) sesuai Perpres Nomor 115, BKKBN NTT turut mengambil peran dalam distribusi dan edukasi kepada keluarga sasaran.
Sedangkan untuk jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di NTT mencapai 246 unit, dengan 184 di antaranya atau sekitar 74,7 persen telah menyalurkan program MBG.
"Total penerima manfaat saat ini mencapai 64.459 orang, dengan rata-rata setiap SPPG melayani sekitar 350 penerima. Padahal sesuai pedoman, satu SPPG berpotensi melayani hingga 500 penerima," bebernya.
Faizal menyebut sepanjang tahun 2025, BKKBN NTT berhasil meraih sekitar 12 penghargaan berkat dukungan berbagai mitra kerja. "Ini menjadi bukti bahwa kolaborasi yang kuat mampu mendorong keberhasilan program pembangunan keluarga di Nusa Tenggara Timur," pungkas Faizal.
(hsa/hsa)










































