Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) suspek campak di tiga daerah. Yakni, Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Kabupaten Dompu. Penetapan KLB itu setelah jumlah kasus meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Tercatat, hingga minggu ke-7 2026, ada sebanyak 985 kasus suspek campak yang seluruhnya berasal dari tiga daerah tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan NTB, Lalu Hamzi Fikri, mengatakan peningkatan kasus dipengaruhi oleh sejumlah faktor, terutama masih adanya anak yang belum mendapatkan imunisasi campak-rubela (MR) secara lengkap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenaikan kasus ini dipengaruhi oleh masih adanya kelompok anak yang belum mendapatkan imunisasi MR lengkap. Dalam beberapa tahun terakhir, cakupan imunisasi rutin juga mengalami fluktuasi sehingga terjadi akumulasi populasi yang rentan terhadap penularan campak," ujarnya melalui keterangan resmi yang diterima, Kamis (12/3/2026).
Hamzi menjelaskan mobilitas masyarakat yang tinggi pada periode akhir dan awal tahun turut berkontribusi terhadap penyebaran kasus. Selain itu, keterlambatan deteksi serta penanganan awal di lapangan juga menjadi faktor yang mempercepat peningkatan penyebaran penyakit tersebut.
"Kami juga melihat tingginya mobilitas penduduk pada akhir dan awal tahun, ditambah keterlambatan deteksi serta respons awal di beberapa wilayah. Faktor lingkungan dan perilaku masyarakat juga ikut memengaruhi peningkatan kasus yang terjadi," jelasnya.
Menurut Hamzi, mayoritas kasus terjadi pada anak usia di bawah lima tahun. Sebagian besar dari mereka diketahui memiliki status imunisasi tidak lengkap bahkan belum pernah mendapatkan imunisasi.
"Kasus yang tercatat didominasi oleh anak usia di bawah lima tahun. Sebagian besar memiliki status imunisasi tidak lengkap atau bahkan belum pernah diimunisasi. Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya cakupan imunisasi menjadi faktor risiko utama terjadinya KLB," ungkapnya.
Untuk menekan penyebaran penyakit, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB bersama pemerintah kabupaten/kota telah melakukan berbagai langkah penanganan, salah satunya melalui penguatan surveilans aktif dan pelacakan kontak hingga tingkat desa dan puskesmas.
"Kami melakukan penguatan surveilans aktif dan pelacakan kontak di tingkat desa dan puskesmas. Selain itu, kami juga melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI) di seluruh puskesmas di Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Kabupaten Dompu dengan prioritas bayi dan balita usia 9 hingga 59 bulan," kata Fikri.
Selain imunisasi, penanganan kasus juga dilakukan melalui pemberian vitamin A kepada penderita campak untuk mencegah komplikasi serta menurunkan risiko kematian.
Hamzi menambahkan, pemerintah juga memperkuat edukasi kepada masyarakat terkait gejala campak serta pentingnya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala demam yang disertai batuk, pilek, dan ruam.
"Kami juga memastikan ketersediaan logistik KLB seperti vaksin, vitamin A, serta dukungan tata laksana klinis di fasilitas pelayanan kesehatan. Di fasyankes juga dilakukan penguatan triase isolasi campak agar suspek dengan gejala demam, ruam, dan batuk atau pilek dapat segera dipisahkan untuk mencegah penularan yang lebih luas," tuturnya.
Dinas Kesehatan NTB menegaskan akan terus melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala hingga situasi dinyatakan dapat terkendali.
"Kami mengimbau masyarakat tetap tenang namun waspada. Peran aktif orang tua sangat penting untuk memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal agar rantai penularan campak dapat diputus," tandas Hamzi.
(hsa/hsa)










































