Kasus campak di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), dilaporkan meningkat sepanjang 2026. Dinas Kesehatan Dompu mencatat terdapat 216 kasus suspek yang tersebar di seluruh kecamatan. Meski begitu, pemerintah daerah tidak menetapkan status kejadian luar biasa (KLB).
"Peningkatan kasus dibandingkan tahun ini lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Tidak menetapkan KLB," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Dompu Mariam Ulfa kepada detikBali, Rabu (11/3/2026).
Mariam Ulfa menjelaskan, ratusan kasus suspek tersebut tersebar di delapan kecamatan di Dompu. Kasus terbanyak ditemukan di Kecamatan Dompu dengan 96 suspek, disusul Woja 66 suspek, Manggelewa 18 suspek, Hu'u 10 suspek, Kilo 10 suspek, Pajo 8 suspek, Kempo 7 suspek, dan Pekat 1 suspek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para penderita campak dirawat di puskesmas di masing-masing kecamatan, serta di RSUD Dompu dan RSU Pratama Manggelewa.
"Rata-rata yang penderita umur 6 tahun ke bawah. Sampai hari ini belum ada yang dilaporkan meninggal," jelas Ulfa.
Ulfa mengatakan, Pemkab Dompu saat ini melakukan upaya pencegahan penularan campak melalui outbreak response immunization (ORI) yang digelar secara massal pada wilayah dan populasi rentan tertentu.
ORI, lanjut Ulfa, bertujuan meningkatkan cakupan imunisasi hingga 95 persen agar tercapai kekebalan kelompok pada usia 9-59 bulan. Saat ini tersedia 400 vial vaksin atau sekitar 4.000 dosis.
"ORI bertujuan mengendalikan wabah, menurunkan angka kesakitan, dan mencegah kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. ORI campak dilakukan pada usia 9 bulan sampai dengan 59 bulan sebanyak 25.705 anak se Kabupaten Dompu," tuturnya.
(dpw/dpw)










































