detikBali

Siswa Ngada Bunuh Diri, Menteri PPPA: Program Layak Anak Harus Dijalankan Serius

Terpopuler Koleksi Pilihan

Siswa Ngada Bunuh Diri, Menteri PPPA: Program Layak Anak Harus Dijalankan Serius


Matius Alfons Hutajulu - detikBali

Menteri PPPA Arifah Fauzi. (Dok. Kementerian PPPA)
Foto: Menteri PPPA Arifah Fauzi. (Dok. Kementerian PPPA)
Jakarta -

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, meminta agar program Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) dijalankan serius. Hal ini merespons siswa sekolah dasar (SD) di Ngada yang bunuh diri akibat tak dibelikan buku dan pulpen.

"Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa penguatan sistem perlindungan anak melalui implementasi Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) harus berjalan konsisten hingga tingkat keluarga dan komunitas," Arifah dalam keterangan tertulis, Kamis (5/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arifah mengatakan program KLA tak boleh sekadar regulasi dan harus memberi manfaat yang nyata untuk anak.

"Negara tidak boleh absen dalam memastikan setiap anak memperoleh perlindungan, pendidikan, dan ruang aman untuk tumbuh dan berkembang. Pemerintah pusat dan daerah harus memastikan kebijakan KLA tidak berhenti pada regulasi, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh anak," ujar Arifah.

ADVERTISEMENT

Arifah mengingatkan melindungi anak bukan hanya tanggung jawab negara. Dia mengajak keluarga, pihak sekolah, dan masyarakat memperkuat perlindungan anak.

"Setiap anak adalah amanah. Perlindungan anak bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi juga keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kita harus hadir bersama menciptakan lingkungan yang aman dan suportif bagi anak," ucap Arifah.

Diberitakan sebelumnya, Penyebab siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), gantung diri terungkap. Pemicunya korban diduga kecewa karena tidak dibelikan buku tulis dan pulpen untuk keperluan sekolah.

Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, menjelaskan pada malam sebelum kejadian, korban berinisial YBR minta uang kepada ibunya untuk beli buku tulis dan pulpen. Namun, permintaan itu tak bisa dipenuhi ibunya karena kondisi ekonominya yang susah.

Dion menjelaskan YBR sehari-hari tinggal bersama neneknya. Rumah nenek dan ibunya berada di desa tetangga. Malam sebelum kejadian, YBR menginap di rumah ibunya untuk meminta uang tersebut.

"Menurut pengakuan ibunya permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal," ungkap Dion Roa, Selasa (3/2/2026).

Artikel ini telah tayang di detikNews. Baca selengkapnya di sini!




(dpw/dpw)












Hide Ads