detikBali

Warga Kampung Bugis Mataram Korban Banjir Rob Mulai Ngeluh Gatal-gatal

Terpopuler Koleksi Pilihan

Warga Kampung Bugis Mataram Korban Banjir Rob Mulai Ngeluh Gatal-gatal


M. Zahiruddin, Nathea Citra - detikBali

Warga Lingkungan Bugis, Ampenan, saat melakukan pengecekan kesehatan, Jumat (23/1/2026)
Warga Lingkungan Bugis, Ampenan, saat melakukan pengecekan kesehatan, Jumat (23/1/2026) (Foto: Nathea Citra)
Mataram -

Sejumlah warga Kampung Bugis, Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai mengeluhkan gatal-gatal pasca banjir rob. Kondisi air yang masih tergenang, hingga banyaknya sampah jadi faktor penyebab.

"Gatal-gatal kaki kami, kayaknya karena terlalu lama terendam air. Apalagi, sudah beberapa hari ini banjir rob," kata Ratnawati, warga Kampung Bugis, Ampenan, Kota Mataram, saat diwawancarai detikBali, Jumat (23/1/2026).

Ratnawati berharap pemerintah, dalam hal ini Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram membawa beragam obat-obatan untuk warga terdampak di Kampung Bugis. Salah satunya, salep gatal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami butuh salep gatal, soalnya sudah alergi sekali kalau terkena air," ujarnya.

Seperti diketahui, sekitar 25 kepala keluarga (KK) atau ratusan jiwa di Lingkungan Buugis, Ampenan, terdampak banjir rob. Setidaknya, 18 rumah warga rusak parah akibat terkena hempasan gelombang setinggi lebih dari 5 meter, yang terjadi pada Rabu (21/1/2026).

ADVERTISEMENT

Menanggapi laporan warga, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram, Emirald Isfihan mengatakan, tim kesehatan akan diturunkan besok pagi, agar membawa obat-obatan yang diperlukan.

"Besok (akan ada lagi) pemeriksaan kesehatan. Hari ini kami turun asesmen dengan pemberian biskuit untuk PMT, untuk ibu hamil, balita hingga lansia," kata Emirald, saat dikonfirmasi, Jumat (23/1/2026).

Menurut Emirald, penyakit yang kerap muncul pasca banjir ialah gatal-gatal hingga diare.

"Bakteri yang memang (jadi) penyebabnya, (dan) kotor. Kedua, bakteri yang memang berada di kulit kita sendiri. Jadi pada saat daya tahan tubuh kita rendah, biasanya muncul lagi penyakit kuliitnya. Jadi tidak mesti juga karena terkena air yang memang tercemar oleh bakteri, tetapi juga karena kondisi tertentu," tandasnya.

Kondisi Warga di Desa Perampuan

Kondisi tak kalah memprihatinkan juga dialami warga terdampak banjir di Desa Perampuan, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat. Mereka juga mulai mengeluhkan gejala penyakit kulit berupa gatal-gatal pada bagian kaki.

Salah seorang warga, Rohim, sudah merasakan gatal-gatal sejak Rabu (21/1/2026). Saat itu, ia berada di genangan air dalam durasi lama, karena hendak menyelamatkan barang-barang hingga sepeda motor miliknya dari banjir.

"Hampir semua (pengungsi) di kakinya gatal-gatal," ungkapnya, Jumat (23/1/2026).

Penghuni Perumahan Pepabri tersebut mengatakan dirinya bersama pengungsi lain sudah diberikan perawatan serta obat-obatan dari puskesmas. Namun, sampai saat ini gatal-gatal pada bagian sela jari masih dirasakan.

"Sudah kemarin, kami diperiksa dan dikasih obat, mungkin butuh waktu (untuk proses penyembuhannya)," ujarnya.

Sementara itu, Suwadi, warga lain, mengatakan kurangnya air bersih hingga tempat mandi menjadi penyebab warga tidak bisa membersihkan diri seusai berlama-lama di genangan air. Akibatnya, gatal-gatal yang dirasakan makin memburuk bahkan sampai pada tangan.

"Seperti ini dah kondisinya. Kalau kami mau buang air besar atau mandi, ya kami numpang di rumah warga yang tidak terdampak," tuturnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Lombok Barat, Erny Suryana, mengaku sudah mengerahkan seluruh petugas kesehatan untuk turun melakukan pemeriksaan kesehatan para pengungsi. Sampai saat ini, kata Erny, belum ditemukan data penyakit yang signifikan menjangkit para korban banjir.

"Sampai saat ini temen-teman turun, belum ada yang signifikan kasus (penyakit). Tetap ada penyakit tetapi tidak signifikan peningkatan kasusnya," jelasnya.

Tidak hanya itu, Erny juga mengatakan telah mengerahkan pihaknya untuk melakukan kaporisasi hingga penebaran bubuk abate pada lokasi terdampak banjir, guna mengantisipasi para pengungsi terjangkit DBD atau malaria.

"Temen-temen Kesling (Kesehatan Lingkungan) langsung turun untuk kaporisasi dan penebaran abate mencegah demam berdarah, karena banyak genangan-genangan air," terangnya.




(mud/mud)










Hide Ads