Satpol PP Kota Mataram menertibkan lapak-lapak liar milik pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Tembolak, Bypass Mataram-Lombok Barat, yang kerap menimbulkan kemacetan. Mereka selama ini kerap membandel meski kawasan tersebut merupakan jalur cepat yang jelas-jelas terlarang untuk PKL.
Kasatpol PP Kota Mataram, Irwan Rahadi menjelaskan, penertiban yang dilakukan kali ini khusus untuk PKL bandel yang susah diatur, kerap membuat kemacetan dan selalu meninggalkan lapaknya di area publik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk yang di Bypss, kami fokus (menertibkan PKL) yang ada di bawah Tembolak. Ada sekitar empat lapak PKL (yang kita amankan di bawah Tembolak). Mereka meninggalkan barang-barangnya di situ," kata Irwan, Rabu (14/1/2026).
"Empat lapak itu (milik PKL) Mataram," sambungnya.
Selain menertibkan PKL Bypass, Irwan menyebut, Pol PP Mataram bakal menyisir PKL-PKL nakal lainnya di seputaran Kota Mataram, salah satunya PKL di depan bekas Bandara Selaparang.
"Kalau terus (membuat) crowded, dan tidak bisa diatur, ya kita harus lakukan penindakan. Kita sudah persuasif, (terkait kapan disikat) kita lihat dulu, kita lihat regulasijya, kalau memang harus kita tindak, ya kita tindak. Disana (depan Eks Bandara Selaparang) ada sekitar 30-40 PKL," tuturnya.
Diberitakan sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram memasang pagar pada sejumlah taman kota di pintu masuk Bypass Mataram-Lombok Barat. Langkah ini dilakukan untuk mencegah kerusakan taman akibat ulah sejumlah oknum, khususnya di sepanjang jalur bypass.
"Baru kita buat, karena taman kita disana rusak semua. Kami tanami bunga, diinjak-injak, dipakai duduku, digelarin tikar," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Nizar Denny Cahyadi, saat dikonfirmasi detikBali, sebelumnya.
Nizar menjelaskan, kerusakan taman terjadi karena area tersebut kerap dimanfaatkan warga dan pedagang untuk beraktivitas. Kondisi ini membuat fungsi taman kota tidak lagi sesuai peruntukannya.
Seperti diketahui, pintu masuk Bypass Mataram-Lobar kini dipenuhi puluhan hingga ratusan pedagang kaki lima (PKL). Mereka menjajakan beragam dagangan, mulai dari tahu tek-tek, bakso, rujak buah, es tebu, hingga kopi keliling. Ramainya aktivitas jual beli membuat area taman kota di sepanjang bypass berubah menjadi lokasi lapak hingga tempat makan para pembeli.
"Rusak, akhirnya dengan terpaksa kita pagarin, biar nggak rusak lagi taman kita," ujar Nizar.
Untuk pemasangan pagar tersebut, DLH Kota Mataram mengalokasikan anggaran sekitar Rp 50 juta. "Sekitar Rp 50 juta," jelasnya.
(hsa/hsa)










































