Jika detikers ingin makan mi, coba ke rumah makan Double Dragon Temple di Jalan Monkey Forest Ubud, Gianyar. Sensasinya, seperti makan mi di tempat mangkal para anggota triad atau gangster Hong Kong tahun 90-an di kawasan pecinan.
"Ala gangster gitu. Musiknya lagu mandarin pula," kata Rian Masuri, seorang pengunjung asal Mengwi, Kabupaten Badung, ditemui detikBali di Double Dragon Temple, Sabtu (30/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lokasi rumah makan itu tak jauh dari Monkey Forest Ubud. Rumah makannya, masuk agak ke dalam sebuah gang. Meski namanya Double Dragon Temple, jangan dibayangkan seperti rumah makan China jaman Dinasti Qing yang kental dengan tradisi orientalnya.
Rumah makan itu berupa bangunan modern. Tembok putih dengan beberapa bercak semen dan beberapa kerusakan tembok rangka bangunan yang hanya ditambal memakai semen.
Interior rumah makan Double Dragon Temple khas mandarin era tahun 90an, Ubud, Gianyar, Sabtu (30/5/2026). (Foto: Aryo Mahendro/detikBali) |
Meja dan kursinya, tidak ada yang sama. Ada meja aluminium untuk empat orang, ada juga meja bergambar karakter kartun video game China, yang berkapasitas dua orang.
Area makan dan dapurnya bersebelahan tanpa sekat. Pengunjung dapat makan sambil melihat orang lalu lalang di gang atau melihat para karyawan sedang memasak atau melayani tamu lain.
Dekorasi di tembok, berupa belasan poster bergambar menu makanan yang sebagian tertulis dalam huruf Mandarin, ditempel rapi berjajar. Satu kalender China tergantung di tembok dekat kulkas.
Siapa pun yang datang, akan merasa seperti sedang berada di lokasi syuting film laga tentang sepak terjang para anggota triad atau gangster di Hong Kong yang berlatar tahun 1990-an, khas rumah makan di pinggiran kawasan pecinan di kota besar. Lantunan lagu Mandarin terdengar sayup-sayup menemani pengunjung yang sedang menikmati hidangan mereka.
Rian mengaku sengaja ke Ubud hanya untuk makan mi. Tanpa tahu restoran atau rumah makan mana yang ingin didatangi, ia akhirnya mencari tempat makan mi di peta Google.
Rumah makan Double Dragon Temple itu yang direkomendasikan peta Goggle. Dirinya mengaku tak mengira jika nuansa rumah makan di Double Dragon mirip tempat nongkrong para anggota triad seperti yang banyak ditampilkan di film laga era tahun 90-an.
"Cuman ingin makan mi dan siomay saja. Cari di Goggle, ketemu tempat ini," kata Rian.
Mencicipi Plate of Dumplings dan Mie Creamy Sesame
Plate of dumpling dan mie creamy sesame adalah dua menu terlaris di Double Dragon Temple. Karena merupakan makanan pendamping, dumpling dan mie creamy sesame disajikan dengan saus swe, tanpa nasi.
Plate of dumpling disajikan dengan empat pilihan isian. Daging babi, udang, ayam, atau jamur. Menu itu juga dapat dipilih olahannya. Digoreng, direbus, atau dikukus.
Salah satu menu di Double Dragon Temple. (Foto: Aryo Mahendro/detikBali) |
"Yang paling banyak dipesan itu dumpling isian prawn (udang) yang digoreng," kata Dila, pegawai kasir di rumah makan Double Dragon Temple.
detikBali memesan dan mencicipi dumpling goreng dengan isian udang. Sekilas, rasanya seperti siomay pada umumnya. Namun, rasa udangnya yang gurih langsung mendominasi.
Mie Creamy Sesame (bawah), saus swe (kanan atas) dan Plate of Dumpling dengan isian udang (kiri atas) di rumah makan Double Dragon Temple, Ubud, Gianyar, Sabtu (30/5/2026). (Aryo Mahendro). |
Itu belum dicocol ke saus swe. Setelah dicelupkan ke sausnya, rasa dumplings itu menguat. Terutama udanganya yang terasa makin padat.
Saus swe itu encer berwarna merah transparan. Rasanya, kombinasi antara kecut, manis, dan asin. Sedikit panas di tenggorokan karena efek jahe. detikBali lalu mencicipi mie creamy sesame. Fisiknya tidak seperti mi biasa. Bentuknya lebar seperti kertas yang disobek memanjang.
Lebarnya, sekira setengah jari telunjuk orang dewasa. Adonan mie terbuat dari campuran air, tepung, dan telur. "Beda cetakan saja. Kalau mie biasa yang lebih kecil (kurus) ada cetakannya sendiri," kata Dila.
Saat didicipi, teksturnya halus, empuk, dan dengan cita rasa kue kacang ijo dari lapisan krimnya. Lembaran mi tidak terputus.
Ditaburi wijen putih, wijen hitam, dan daun bawang pre. Rasanya, seperti mie dengan krim susu. Manis lembut padat. Tapi, agak lengket dan menempel dengan lembaran mie lainnya.
"Kami pakai wijen yang disangrai. Kadang wijen putih saja, kadang wijen hitam dan wijen putih," kata Dila.
(hsa/hsa)













































