detikBali
Internasional

Demo Ricuh di Prancis, 1.800 Orang Ditangkap-150 Polisi Terluka

Terpopuler Koleksi Pilihan
Internasional

Demo Ricuh di Prancis, 1.800 Orang Ditangkap-150 Polisi Terluka


Yulida Medistiara - detikBali

Protesters break windows of a French food company Picard shop during a demonstration against the high cost of living, in Paris on October 17, 2026 as part of a nationwide call for mobilisation bringing together various groups expressing their anger: former Yellow Vest, secondary school and university students, climate activists and even farmers. After weeks of student protests, France faces broader, nationwide demonstrations on October 17, 2026 over the cost of living, setting up a potentially fraught six months heading into a presidential election. A police source told AFP that authorities estimated nearly 200,000 people could take part, with 40,000 in Paris. (Photo by GEOFFROY VAN DER HASSELT / AFP)
Demo rusuh di Prancis. (Foto: AFP/GEOFFROY VAN DER HASSELT)
Denpasar -

Kerusuhan yang melanda Paris dan sejumlah kota di Prancis saat unjuk rasa berujung pada penjarahan dan pembakaran. Lebih dari 1.800 orang ditangkap, sementara 150 petugas kepolisian terluka dalam bentrokan dengan massa.

Dilansir dari detikNews, Minggu (18/10/2026), jumlah orang yang ditangkap selama dan setelah aksi protes tersebut meningkat dari sebelumnya 1.200 orang.

"1.800 orang telah ditangkap dan kini penyelidikan sedang berlangsung untuk mengidentifikasi para pelaku tindakan tersebut agar mereka dapat diadili," kata Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez dalam sebuah unggahan di platform X.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, Kepolisian Paris menyatakan telah menangkap 855 orang. Jumlah tersebut menjadi rekor penangkapan terkait kekerasan dalam unjuk rasa di ibu kota Prancis tersebut.

ADVERTISEMENT

Kantor Kejaksaan Paris menyebut lebih dari 500 orang kini berada dalam tahanan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 346 orang merupakan orang dewasa dan 171 lainnya anak di bawah umur, dengan total 517 orang.

Pihak kejaksaan menambahkan bahwa angka tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah.

"Penangkapan berlangsung sepanjang malam hingga pukul 06.00 pagi (04.00 GMT) tadi," ungkap kantor tersebut.

Sebagian besar penangkapan dilakukan atas tuduhan penadahan barang curian, persekongkolan untuk melakukan kekerasan, serta perusakan fasilitas umum (vandalisme), jelas pihak kejaksaan. Angka tersebut merupakan bagian dari total 1.800 orang yang ditangkap di seluruh Prancis pada Sabtu.

Aksi Damai Berujung Rusuh

Sebelumnya, Perdana Menteri Sébastien Lecornu mengatakan sebanyak 150 petugas kepolisian terluka dalam bentrokan tersebut.

Diketahui, ratusan ribu orang berunjuk rasa secara damai di sejumlah kota di Prancis pada Sabtu. Namun, sejumlah kelompok massa garis keras melakukan kekerasan dengan menyasar gedung-gedung publik, menjarah butik mewah dan supermarket, serta menyerang kendaraan dan petugas kepolisian.

Bentrokan antara sejumlah kelompok massa dan polisi terjadi di Paris serta kota-kota lainnya. Aksi yang awalnya berlangsung damai berubah ricuh hingga memicu pembakaran di jalanan dan penjarahan yang meluas.

Wakil Wali Kota Paris, Lamia El Aaraje, mengatakan ibu kota tersebut telah dilanda "tingkat kekerasan yang menurut saya belum pernah kita lihat sebelumnya".

Gedung Dibakar, Toko Dijarah

Kerusuhan meluas hingga sejumlah bangunan dijarah dan dibakar massa. Di Limoges, gedung balai kota dibakar. Di Marseille, para pengunjuk rasa berpakaian serba hitam menerobos masuk ke balai kota dan mencoret-coret bangunan tersebut dengan grafiti anarkis.

Sementara itu, di Lyon, pengunjuk rasa membakar kantor pariwisata kota.

Para perusuh juga mencoba menerobos masuk ke sejumlah toko department store Galeries Lafayette, menghancurkan bank, menjarah toko Lacoste serta butik-butik lainnya, dan merampok toko telepon seluler SFR. Para demonstran turut membakar berbagai benda sepanjang hari, termasuk sejumlah mobil.

Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk menghadapi pengunjuk rasa yang melemparkan berbagai benda serta menembakkan kembang api ke arah petugas.

Di tengah kerusuhan tersebut, seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun kehilangan tangan kanannya akibat ledakan granat pengendali massa di Kota Saint-Etienne, Prancis bagian selatan.



(dpw/dpw)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan










Hide Ads