detikBali

Trump Longgarkan Sanksi Rusia, Ukraina Tak Terima

Terpopuler Koleksi Pilihan

Trump Longgarkan Sanksi Rusia, Ukraina Tak Terima


Wildan Noviansah - detikBali

US President Donald Trump (R) and Russian President Vladimir Putin shake hands at the end of a joint press conference after participating in a US-Russia summit on Ukraine at Joint Base Elmendorf-Richardson in Anchorage, Alaska, on August 15, 2025. (Photo by Drew ANGERER / AFP)
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump. (Foto: AFP/DREW ANGERER)
Denpasar -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melonggarkan sanksi terhadap Rusia di tengah perang yang masih berlangsung di Ukraina. Keputusan ini langsung menuai kecaman Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang menilai kebijakan tersebut justru mendorong Presiden Rusia Vladimir Putin untuk terus melancarkan serangan.

Dilansir dari detikNews, Sabtu (17/10/2026), Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengecualikan sanksi dan tarif menyeluruh AS yang menargetkan pendapatan energi Rusia. Langkah ini menandai titik terendah baru dalam hubungan Washington dengan Kyiv di tengah penurunan drastis dukungan Trump terhadap Ukraina.

"Sanksi AS yang 'gulung tikar', pelonggaran tekanan terhadap pihak agresi, serta imbalan finansial bagi Putin -- semua ini hanya mendorongnya untuk terus melancarkan serangan," kata Zelensky, seraya menyerukan kepada para sekutu untuk terus menekan Rusia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kebijakan Trump tersebut muncul setelah ia mencapai kesepakatan dengan Putin untuk melonggarkan sanksi terhadap Rusia sebagai imbalan atas langkah Moskow melepas sejumlah besar pasokan diesel ke pasar global.

ADVERTISEMENT

Sebelumnya, undang-undang Lindsey Graham Act memberikan wewenang kepada Trump untuk mengenakan bea masuk hingga 100 persen terhadap pembeli utama minyak dan gas Rusia.

Di tengah perubahan kebijakan Washington, Zelensky mendesak para pemimpin Uni Eropa untuk terus membiayai perjuangan Kyiv. Ia meminta tambahan dana hampir USD 80 miliar untuk tahun depan dan menegaskan bahwa Ukraina masih berjuang mempertahankan negaranya saat dukungan Trump menurun drastis.

Sementara itu, perang yang dilancarkan presiden AS di Iran telah memicu kelangkaan minyak yang melumpuhkan serta lonjakan harga. Kondisi tersebut menciptakan hambatan besar bagi Partai Republik menjelang pemilu sela bulan depan.



(dpw/dpw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads