Sahid Al Hidri (14) salah satu santri korban dugaan pembakaran tiga santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Rosudatussaulatiyah Al Ibrahimy, Lombok Tengah, pada 13 Desember 2025, menebar senyum tipis saat hendak dibawa ke Rumah Sakit (RS) Bhayangkara, Mataram, untuk menjalani perawatan intensif. Dia senang akan dirawat secara gratis.
Hal itu menyusul ajakan Kapolda Nusa Tenggara Barat (NTB) Irjen Kalingga Rendra Raharja, saat mengunjungi rumahnya di Desa Setiling, Kecamatan Batukliang Utara, Selasa (7/7/2026).
Pantauan detikBali, Al tampak kegirangan saat dikunjungi oleh Kapolda beserta Ketua Bhayangkari NTB Widhy Kalijaga, Kakanwil Kemenag NTB Zamroni Aziz, Direktur Reskrimum Polda NTB Kombes Arissandi dan Direktur PPA dan PPO Polda NTB, Kombes Ni Made Pujewati.
Dalam kunjungan tersebut, Kapolda NTB serta Ketua Bhayangkari mengajak korban ngobrol sembari memintanya untuk dirawat di RS Bhayangkara Mataram. Hal itu dilakukan setelah jaminan kesehatan dari BPJS dicabut seusai adanya penanganan proses hukum di kepolisian.
Kunjungan tersebut berlangsung sekitar hanya satu jam kemudian bergegas menuju ke Desa Karang Sidemen di rumah korban lainnya, yaitu Ahmad Deven Ramdan (14). Namun, sebelum ditinggal, Al telah disiapkan satu unit ambulans untuk dibawa ke RS Bhayangkara.
Al tampak kegirangan saat hendak dibawa menuju ambulans. Ia terlihat senyum tipis saat didorong oleh Bhabinkamtibmas Desa Setiling menuju kendaraan di gang rumahnya.
Setelah naik di atas ambulans, Al kemudian diminta untuk berbaring. Al kemudian melambaikan tangannya kepada puluhan warga yang menyaksikan keberangkatannya ke RS Bhayangkara.
Bibi Sahid Al Hudri, Nurul Hidayah, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kapolda NTB Irjen Kalingga Rendra Raharja yang telah menyempatkan diri untuk mengunjungi keponakannya. Ia mengaku terharu ketika mendengar sang keponakan akan dirawat di RS Bhayangkara secara gratis.
"Alhamdulillah, kami sangat bersyukur sekali," kata Nurul kepada awak media.
Ia mengatakan sebelum adanya bantuan dari Kapolda NTB, pihaknya pernah dibantu oleh Direktur Utama PDAM Lombok Tengah, Bambang Supratomo, untuk biaya operasi. Sedangkan untuk biaya akomodasi dan kontrol, tetap harus ditanggung oleh keluarga.
"Sebelum masuk laporan itu pake BPJS. Tapi setelah masuk laporan ke polisi itu operasi dibiayai oleh PDAM. Tapi untuk kontrol bolak-balik harus mandiri. Karena arahan dari rumah sakit harus pakai umum karena sudah tidak dicover BPJS," ujar Nurul.
Kini, kondisi Al sudah kian membaik. Hanya saja, ia harus tetap dibawa menggunakan kursi roda karena kakinya masih lemas.
"Alhamdulillah makin baik, tapi belum bisa jalan," katanya.
Menurut Nurul, sampai sekarang belum ada tanda-tanda iktikad baik yang ditunjukkan oleh pihak ponpes kepada korban. Nurul pun berharap sang keponakan segera mendapatkan keadilan dan pihak ponpes bisa mempertanggung perbuatannya.
"Semoga dia bisa bertanggung jawab melihat kejadian ini," pungkasnya.
Sebelumnya, Kapolda NTB Irjen Kalingga Rendra Raharja mengunjungi rumah Sahid Al Hudri (14), salah seorang santri korban pembakaran oleh temannya di Pondok Pesantren (Ponpes) Rosudatussaulatiyah Al Ibrahimy, Lombok Tengah, yang terjadi pada 13 Desember 2025. Dalam kunjungan itu, Kapolda juga mengajak korban menjalani perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara Mataram.
"Hari ini kami datang ke rumah korban sebagai bentuk empati Polri. Kita melihat korban yang mengalami luka parah akibat peristiwa yang terjadi pada bulan Desember 2025. Dan alhamdulillah, untuk perawatan lanjut untuk korban kita bawa ke RS Bhayangkara untuk perawatan lebih intensif lagi kepada kedua korban," kata Kalingga kepada awak media.
Kalingga mengatakan, kedatangan jajaran Polda NTB bersama Kemenag NTB bertujuan melihat langsung kondisi korban sekaligus memastikan para penyintas mendapatkan penanganan dari tenaga medis profesional.
"Kita memastikan bahwa kedua korban ini harus mendapatkan perawatan yang intensif. Alhamdulillah kedua orang tua korban juga menyetujui dan ibunya juga akan mendampingi perawatan intensif di Bhayangkara Mataram," ujarnya.
Simak Video "Video: Dalih Hindari Zina, Guru Ngaji di Surabaya Cabuli 7 Santri Pria"
(hsa/dpw)