detikBali

Kanwil Ditjenpas NTT Komitmen Lapas-Rutan Bersih dari HP hingga Narkoba

Terpopuler Koleksi Pilihan

Kanwil Ditjenpas NTT Komitmen Lapas-Rutan Bersih dari HP hingga Narkoba


Simon Selly - detikBali

Kanwil Ditjenpas bersama rutan dan lapas se-NTT ikrar bersih dari handphone ilegal, narkoba, dan penipuan, Jumat (8/5/2026).
Foto: Kanwil Ditjenpas bersama rutan dan lapas se-NTT ikrar bersih dari handphone ilegal, narkoba, dan penipuan, Jumat (8/5/2026). (Simon Selly/detikBali)
Kupang -

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) bersama rutan dan lapas se-Nusa Tenggara Timur (NTT) melaksanakan ikrar bersih dari handphone (HP) ilegal, narkoba, dan penipuan, Jumat (8/5/2026). Ikrar ini dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia sesuai arahan dari Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menimipas) Agus Andrianto.

"Sebetulnya sebelum berikrar hari ini, kami seluruh pejabat di jajaran NTT telah berkomitmen untuk lapas-rutan bersih dari narkoba, bersih dari penipuan dan bersih dari handphone. Ikrar hari ini bentuk nyata pimpinan kami, untuk sungguh-sungguh memberantas peredaran narkoba dan handphone di lapas dan rutan," jelas Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) NTT, Ketut Akbar Herry Achjar.

"Bukan hanya bagi narapidana tapi seluruh petugas, yang ada di Indonesia," sambung dia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akbar menjelaskan jumlah narapidana kasus narkoba di NTT tergolong rendah, yakni 71 orang. Mayoritas, para napi narkoba terjerat kasus ganja. NTT merupakan wilayah yang rawan karena wilayah perbatasan dengan negara tetangga Timor Leste dan Australia.

ADVERTISEMENT

"Tapi setelah kami lidik, untuk kolaborasi yang masuk banyak ke NTT itu ganja. Ganja ini masuknya melalui jalur paket. Kalau sabu melalui jalur tetangga lewat Labuan Bajo, tapi tidak banyak porsinya," jelasnya.

Untuk menjaga lapas dan rutan dari benda-benda terlarang, Akbar melanjutkan, digelar razia rutin selama dua kali sepekan. Ditjenpas juga bekerja sama dengan TNI/Polri, BNN, masyarakat, tokoh agama, hingga tokoh adat.

Sementara itu, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena melalui staf ahli Gubernur NTT Petrus Serah Tahuk mengapresiasi langkah Kanwil Ditjenpas, untuk menekan peredaran narkoba di NTT.

"Kami bersyukur karena pak kakanwil melibatkan berbagai stakeholder terkait hari ini untuk membangun semacam entry point pemberantasan narkoba di Provinsi Nusa Tenggara Timur," ujar Petrus.

Petrus menyebut letak geografis NTT menjadikannya salah satu wilayah yang rawan akan peredaran narkoba. Apalagi berbatasan dengan dua negara tetangga.

Mantan Kaban Perbatasan NTT itu menjelaskan dari kaca mata pihak luar, NTT merupakan jalur gajah, peredaran pelintas narkoba, yang tentu butuh perhatian semua stakeholder untuk mengatasinya.

"Di luar sana orang bisa berpendapat bahwa ini jalur 'gajah' artinya jalur ini harus kita jaga benar-benar agar jangan sampai peredaran narkoba dalam konteks kejahatan internasional bisa masuk ke wilayah kita," ujarnya.

Ia menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat tentang dampak buruk narkoba. "Untuk itu edukasi dan pengertian tentang dampak buruk dari narkoba ini, harus disuarakan terus. Karena kalau hanya pemerintah yang bekerja saja tidak cukup. Harus bisa kerja kolaborasi dengan semua pihak termasuk media untuk mengedukasi masyarakat terkait dampak buruk dari narkoba jenis apapun," pungkasnya.




(hsa/hsa)










Hide Ads