Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan Labuan Bajo saat ini menjadi salah satu wajah pariwisata Indonesia di mata dunia. Keindahan alamnya menarik banyak wisatawan dari berbagai negara untuk datang ke Labuan Bajo dan wilayah Flores pada umumnya.
Hal itu disampaikan Widiyanti dalam sambutannya pada pembukaan Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara 2026 di Waterfront City Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (10/8/2026) malam. Pekan puncak Festival Golo Koe kelima itu dilaksanakan pada 10-15 Agustus 2026.
"Labuan Bajo hari ini telah menjadi salah satu wajah pariwisata Indonesia di mata dunia. Keindahan alamnya membawa wisatawan dari berbagai penjuru dunia untuk datang dan mengenal Flores," kata Widiyanti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun dia menegaskan, kemajuan pariwisata harus berjalan beriringan dengan jati diri masyarakat lokal. "Di tengah perkembangan tersebut ada satu hal yang harus kita jaga, kemajuan pariwisata harus berjalan seiring dengan jati diri masyarakat yang menjadi tuan rumahnya," ujar Widiyanti.
Menurut dia, semangat itulah yang sejak awal dihadirkan melalui Festival Golo Koe. Lima tahun lalu, terang dia, Keuskupan Ruteng mengajukan sebuah pertanyaan penting, bagaimana Labuan Bajo dapat terus berkembang tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi akar kehidupan masyarakatnya.
"Festival Golo Koe menghadirkan jawabannya melalui sebuah perayaan yang mempertemukan iman, tradisi dan kehidupan masyarakat Manggarai dalam ruang yang terbuka bagi siapa saja," tegas Widiyanti.
Ia mengatakan Festival Golo Koe memberi pengalaman bagi wisatawan yang berkunjung ke Labuan Bajo. Di sisi lain, masyarakat lokal tetap menjadi pelaku utamanya.
"Di sinilah saya melihat Festival Golo Koe, wisatawan hadir untuk experience Labuan Bajo secara lebih utuh sementara masyarakat tetap menjadi pelaku utama yang menentukan bagaimana identitasnya kepada dunia," ujar Widiyanti.
Uskup Labuan Bajo, Monsinyur (Mgr). Maksimus Regus mengatakan Festival Golo Koe menjadi ruang perjumpaan, ruang kreativitas, dan perjalanan kolaboratif lintas aktor, lintas sektor. Kehadiran Festival Golo Koe menjadi bagian dari itikad bersama untuk mengisi ruang pariwisata superpremium Labuan Bajo.
"Kita ingin agar ruang pariwisata yang bertumbuh dengan cepat ini juga memiliki dampak konstruktif bagi kita yang ada di masyarakat lokal ini," kata Mgr. Maksimus dalam sambutannya pada pembukaan festival tersebut.
Mgr. Maksimus menegaskan Festival Golo Koe merupakan bagian dari promosi kepariwisataan Labuan Bajo. Juga menjadi bagian dari kekuatan atau promotor atas nilai-nilaj keberlanjutan ekologis dan kehidupan di daerah tersebut. Karena itu keindahan Labuan Bajo yang menjadi daya tarik wisatawan harus tetap dijaga.
Ia menjelaskan Labuan Bajo, dianugerahi Tuhan dengan keindahan yang paripurna. Labuan Bajo pun kini menjadi salah satu destinasi wisata unggulan dunia.
Mgr Maksimus mewanti-wanti aktivitas maupun kebijakan yang merusak lingkungan, sehingga menggerus keindahan Labuan Bajo. Kerusakan ekologis mengancam keberlangsungan destinasi pariwisata superprioritas tersebut.
"Labuan Bajo ini dianugerahi dengan keindahan paripurna. Ketika tidak dijaga, keindahan paripurna itu juga akan mengalami erosi dari waktu ke waktu," kata Mgr. Maksimus.
"Karena itu kami juga menegaskan ketika kita menentukan pilihan bahwa pariwisata menjadi salah satu andalan kita maka apapun aktivitas atau kebijakan yang mengancam keberlangsungan lingkungan ekologis saya kira itu berlawanan dengan itikad kita bersama," tegas dia.
Festival ini mengusung tema 'Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan'. Menjaga keberlangsungan ekologis adalah upaya menjaga keberlangsungan pariwisata Labuan Bajo.
"Itulah yang harus kita jaga, dan mudah-mudahan perjalanan kolaboratif kita akan menghasilkan inspirasi untuk kegiatan-kegiatan yang berdampak terutama bagi masyarakat lokal, bagi mereka yang mungkin akan tertinggal dari kereta pembangunan pariwisata khususnya dan pembangunan pada umumnya," tandas Mgr. Maksimus.
Festival Golo Koe digelar Gereja Katolik Keuskupan Labuan Bajo bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat. Festival ini adalah perayaan iman, budaya, sosial, dan ekologi.
Pengunjung dapat menyaksikan sejumlah kegiatan sepanjang puncak festival tersebut. Sejak hari pertama, 10 Agustus, pengunjung akan disambut dengan pameran UMKM, pentas seni, dan berbagai atraksi budaya yang menampilkan kekayaan lokal.
Pada 11 Agustus, rangkaian acara akan menekankan komitmen ekologis melalui aksi ekologis di Pantai Binongko. Yakni ibadat ekologi, pembersihan sampah, dan penanaman mangrove. Festival Golo Koe 2026 menempatkan isu lingkungan sebagai inti perayaan. Pada 12 Agustus akan diisi dengan kegiatan sosial-karitatif, karnaval budaya yang meriah, hingga tarian kolosal yang melibatkan ratusan penari dari SMKS Stella Maris Labua Bajo.
Berikutnya pentas Caci Kolosal dari siswa-siswi SMKS Stella Maris dan SMKN 3 Komodo pada 13 Agustus, memperlihatkan kekuatan budaya Manggarai yang penuh makna.
Puncak spiritualitas festival hadir pada 14 Agustus dengan Prosesi Akbar Maria Asumta Nusantara. Patung Bunda Maria akan diarak dari Gereja Stella Maris menuju Dermaga Biru, kemudian mengikuti prosesi laut hingga tiba di Gua Maria Golo Koe.
Sebagai penutup, 15 Agustus akan menghadirkan Ekaristi Agung Maria Asumta Nusantara di Waterfront City. Dilanjutkan dengan konser musik yang menghadirkan bintang tamu Alvin Jo, jebolan X-Factor Indonesia musim ke-3.
(hsa/nor)