Polisi mengungkapkan fakta baru terkait kasus pembakaran dua pria hingga tewas di kawasan Benoa, Denpasar. Lima pelaku yang telah ditangkap polisi diketahui positif mengonsumsi sabu-sabu berdasarkan hasil tes awal.
"Dari hasil tes awal, kelimanya dinyatakan positif metamfetamin (sabu sabu). Hari ini kami lanjutkan dengan tes darah untuk pendalaman lebih lanjut," ungkap Kapolresta Denpasar Kombes Leonardo Davit Simatupang, Sabtu (11/4/2026)
Meski demikian, polisi masih mendalami kemungkinan adanya pelaku lain dalam kasus tersebut. Proses penyidikan terus berjalan, termasuk menelusuri peran masing-masing pelaku.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terkait kemungkinan tersangka lain, saat ini masih dalam pendalaman oleh penyidik," imbuhnya.
Untuk aspek dugaan penyalahgunaan narkotika, kasus tersebut juga akan dikembangkan oleh Satuan Reserse Narkoba Polresta Denpasar. Penelusuran dilakukan guna mengetahui asal-usul zat yang digunakan para pelaku.
Adapun motif aksi keji tersebut hingga kini masih dalam proses pendalaman. Namun, dugaan sementara mengarah pada emosi dan sakit hati di antara para pelaku dan korban, yang sebelumnya saling mengenal dan sempat bersama sebelum kejadian.
"Motif masih kami dalami. Dugaan sementara dipicu emosi sesaat, karena mereka saling mengenal dan sempat bersama sebelumnya," jelasnya.
Kronologi kejadian bermula saat para pelaku dan korban tengah bersama, diduga sambil mengonsumsi minuman keras. Dalam kondisi tersebut, terjadi cekcok yang dipicu persoalan sepele hingga berujung emosi.
Dua korban diketahui berinisial ER (30) dan HA (29). Keduanya menjadi korban penganiayaan brutal hingga dibakar dalam kondisi masih hidup.
Peristiwa tragis ini diduga dipicu oleh pertikaian yang berujung ajakan berkelahi. Emosi yang tak terkendali kemudian berkembang menjadi aksi kekerasan brutal hingga menyebabkan korban dibakar hidup-hidup.
Peristiwa ini pun mengundang perhatian luas karena tingkat kekerasannya yang tergolong ekstrem. Polisi telah mengamankan lima pelaku, masing-masing berinisial SA, DH, NU, DR, dan IS.
Jumlah ini berdasarkan keterangan para tersangka, meski sebelumnya sempat muncul informasi adanya lebih dari lima orang di lokasi kejadian.
Dalam menjalankan aksinya, kelima pelaku disebut tidak memiliki satu orang yang dominan. Tindakan kekerasan dilakukan secara bersama-sama. "Tidak ada yang dominan, mereka melakukannya bersama-sama," tegas Kapolresta.
Dari sisi latar belakang, para pelaku diketahui bekerja di lingkungan kapal, meski belum semuanya berstatus sebagai anak buah kapal (ABK) tetap.
Polisi kini masih terus mendalami seluruh rangkaian kejadian, termasuk hasil uji laboratorium dan kemungkinan adanya faktor lain yang memicu aksi sadis tersebut.
(hsa/hsa)










































