Percobaan Perkosaan Nenek

Psikolog: Pelaku Percobaan Perkosaan Nenek di Karangasem Idap Fetish

Ni Made Lastri Karsiani Putri - detikBali
Senin, 15 Agu 2022 22:26 WIB
Psikolog RS Bali Mandara, Titut Esti Koeswardani, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Psikolog RS Bali Mandara, Titut Esti Koeswardani, S.Psi., M.Psi., Psikolog (Foto: IST)
Denpasar -

Kasus percobaan perkosaan yang menimpa seorang nenek 77 tahun di Karangasem menuai respon dari psikolog.

Psikolog menduga, percobaan perkosaan yang dilakukan pria berinisial IWJ (43) dan menewaskan perempuan lansia berinial Ni NP (77) warga Pempatan, Kabupaten Karangasem, Bali yang masih tetangganya itu karena pelaku mengidap fetish. Apa itu?

Psikolog RS Bali Mandara, Titut Esti Koeswardani, S.Psi., M.Psi., Psikolog.,(36), menjelaskan, secara umum fetish merupakan obsesi seksual yang terjadi ketika seseorang mengalami respon seksual yang intens terhadap objek atau bagian tubuh non-genital


"Ada banyak faktor seseorang memiliki fetish semacam itu. Kemungkinan dikarenakan gangguan psikologis atau dalam proses tumbuh kembangnya dia mengidolakan Ibunya atau karena dia kehilangan sosok Ibu," terang Titut Esti Koeswardani kepada detikBali, Senin (15/8/2022)

Menurut Titut_sapaan Titut Esti Wulandari, setiap manusia secara individu memiliki perilaku yang berbeda dan berkaitan dengan naluri, seks, dan agresif.

Sementara dalam kasus tersebut, diduga pada saat kejadian pelaku memiliki dorongan rangsangan dan melakukan aksinya dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.

"Yang salah di kasus ini kan pelaku memiliki dorongan seks tapi dengan cara memaksa kepada mitra hubungan seks sehingga bentuknya pemerkosaan dan melanggar hukum. Karena dalam seks dibutuhkan persetujuan dari kedua belah pihak," kata psikolog asal Daerah Istimewa Yogyakarta ini.

Untuk kasus pemerkosaan, kata Titut, banyak dipengaruhi oleh sejumlah faktor.

Diantaranya faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah dorongan pemuasan seksual yang tidak bisa mampu dikendalikan pelaku.

Kemudian, faktor eksternal, yakni ketika pelaku memiliki keinginan untuk mencari fantasi seksual baik yang sudah pernah dilakukan ataupun belum.

Selain itu, bisa juga disebabkan oleh pelaku yang sebelumnya telah terpapar oleh media pornografi, menonton video porno atau ada pembicaraan tentang seks dengan teman-temannya. Kemudian, dari beberapa faktor tersebutlah muncul rangsangan untuk berhubungan seksual.

"Kondisi lingkungan sepi juga bisa mendukung. Jadi, ketika ada dorongan, lingkungan yang sepi dan ditambah dengan korban yang dilihat pelaku sebagai seseorang yang lemah dan usia sudah tua, jadi pelaku tidak bisa menahan diri dan terjadilah keinginannya untuk memperkosa korban," ungkap Titut.

Selain itu imbuh Titut, seseorang yang memiliki fetish sebenarnya bukanlah suatu masalah. Hanya saja, selama fetish yang dialami oleh seseorang tersebut tidak melanggar hukum dan norma, serta dapat dikendalikan dan tidak membahayakan dirinya serta orang lain.

"Kalau dia sudah merasa terganggu dan tidak nyaman dengan kondisi fetishnya, nantinya bisa dibantu secara medis dan konseling dengan psikolog," tukas Titut.



Simak Video "Selebgram Priskila Oktaviani Curhat Diteror 'Fetish Serbet'"
[Gambas:Video 20detik]
(dpra/dpra)