Selain keindahan alamnya yang menakjubkan, ternyata Pulau Lombok juga menyimpan tradisi unik yang datang dari masyarakat Sasak, yakni Rebo Bontong.
Rebo Bontong adalah sebuah ritual yang yang sarat akan makna religius dan juga sosial. Bahkan tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan masih bertahan hingga saat ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagian besar masyarakat di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya masyarakat Sasak, menggelar tradisi Rebo Bontong yaitu kegiatan mandi bersama yang dilaksanakan hanya sekali dalam setahun, tepatnya pada bulan Safar untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Masyarakat sekitar percaya bahwa tradisi ini penting dilakukan untuk menolak bala dan memohon keselamatan.
Yuk, simak penjelasan mendalam mengenai asal-usul dan makna dari tradisi Rebo Bontong, seperti yang telah dirangkum detikBali berikut ini.
Asal-usul dari Tradisi Rebo Bontong
Dilansir dari beberapa sumber, tradisi Rebo Bontong berasal dari peninggalan sejarah saat para pedagang Gujarat datang ke Indonesia untuk berdagang. Selain untuk berdagang, mereka juga membawa misi untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Proses penyebaran itu kemudian menciptakan tradisi kebudayaan yang diadaptasi menyesuaikan masing-masing daerah, sama seperti pulau Lombok.
Dampak dari kebudayaan dalam penyebaran agama Islam tersebut menjadi faktor yang melatarbelakangi munculnya tradisi mandi "Safar". Sebagian besar masyarakat di Pulau Lombok, khususnya penduduk suku Sasak yang ada di Desa Pringgabaya menyebut tradisi ini dengan nama Rebo Bontong, yakni ritual yang terjadi pada hari Rabu di akhir bulan Safar.
Rangkaian Prosesi Rebo Bontong
Tradisi Rebo Bontong juga bisa diartikan sebagai hari Rabu yang terbagi menjadi dua bagian yaitu Rebo pagi dan Rebo sore. Mengapa demikian? Pada mulanya, tradisi ini dimulai saat pagi-pagi buta, anak-anak hingga orang dewasa berkumpul di masjid, tepi sungai, atau di ruang terbuka untuk mengucapkan doa-doa Islam untuk memohon keselamatan, kesehatan, kedamaian, serta perlindungan. Setelah ini, pada sore harinya, masyarakat berbondong-bondong pergi ke segala jenis perairan seperti kali, sungai, dan laut untuk melakukan ritual mandi massal.
Makna Filosofis dan Nilai Spiritual
Tradisi mandi bersama ini dilakukan bukan tanpa sebab. Masyarakat sasak percaya bahwa air yang dikombinasikan dengan doa dapat membersihkan penyakit dan nasib buruk di masa yang akan datang. Upacara ini dilakukan sebagai tradisi lokal yang mengandung nilai-nilai religius yang sakral.
Di Desa Pringgabaya, Lombok Timur, tradisi ini dilakukan dengan unsur budaya yang lebih kuat. Pasalnya, doa-doa khusus yang dipanjatkan diberikan bersama persembahan khusus yang dibuat warga desa. Persembahan ini berupa beras, sesajen yang berisikan dupa, buah, dan bunga yang kemudian diletakkan di atas nampan bambu atau ancak saji.
Setelah itu, persembahan tersebut dipersiapkan bersama barang lain seperti kepala kerbau yang dibungkus kain putih, dan dihanyutkan ke air laut sebagai simbol melepaskan energi buruk.
Demikian ulasan terkait tradisi Rebo Bontong dari Pulau Lombok. Di tengah lajunya perkembangan zaman, peran masyarakat sangatlah penting demi mempertahankan kearifan lokal yang mengandung nilai sosial dengan makna mendalam seperti ini. Semoga informasinya bermanfaat ya, detikers!