detikBali

Halalbihalal Ternyata Lahir dari Konflik, Ini Sejarahnya

Terpopuler Koleksi Pilihan

Halalbihalal Ternyata Lahir dari Konflik, Ini Sejarahnya


Devie Vyatri Permata Cahyadi - detikBali

Ilustrasi halal bihalal, silaturahmi saat lebaran.
Ilustrasi halalbihalal. (Foto: Rawpixel/Freepik)
Daftar Isi
Denpasar -

Halalbihalal selalu identik dengan suasana hangat Idul Fitri-saling berjabat tangan, bermaafan, dan mempererat silaturahmi. Namun di balik tradisi yang terasa akrab ini, tersimpan sejarah menarik: halalbihalal pernah lahir sebagai solusi untuk meredakan konflik politik di Indonesia.

Kini, tradisi tersebut menjelma menjadi bagian tak terpisahkan dari Lebaran. Mulai dari keluarga, kantor, hingga instansi pemerintahan, halalbihalal menjadi ruang untuk menyambung kembali hubungan yang sempat renggang.

Lantas, bagaimana asal-usul halalbihalal dan apa makna sebenarnya dalam Islam?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejarah Halalbihalal di Indonesia

Halalbihalal bukan sekadar tradisi spontan, melainkan hasil perjalanan panjang budaya dan sejarah yang berakar kuat di Indonesia.

Jejak Sejak Abad ke-15

Jauh sebelum Indonesia merdeka, praktik serupa halalbihalal telah dikenal sejak masa Walisongo pada abad ke-15. Hal ini tercatat dalam berbagai manuskrip kuno seperti Babad Cirebon, Babad Demak, dan Babad Tanah Jawa.

ADVERTISEMENT

Pada masa itu, para ulama memperkenalkan ritual Dharma Sunya kepada masyarakat Kapitayan. Tradisi ini dilakukan setahun sekali sebagai momen untuk introspeksi dan saling memaafkan, yang menjadi cikal bakal halalbihalal.

Tradisi Keraton Abad ke-18

Memasuki abad ke-18, nilai serupa berkembang dalam budaya Jawa melalui tradisi "pisowanan" di Keraton Mangkunegaran, Surakarta.

Raden Mas Said atau KGPAA Mangkunegara I mewajibkan prajurit dan abdi dalem melakukan sungkeman kepada raja setelah Idul Fitri. Praktik ini menjadi simbol penghormatan sekaligus permohonan maaf, yang masih bertahan hingga kini dalam budaya masyarakat.

Mulai Dikenal Luas Abad ke-20

Istilah halalbihalal mulai muncul dalam catatan tertulis pada awal abad ke-20. Majalah Suara Muhammadiyah edisi 1924 telah menggunakan istilah ini.

Ada pula kisah unik dari Solo sekitar 1935-1936. Seorang pedagang martabak asal India mempopulerkan istilah tersebut lewat promosi dagangannya: "martabak Malabar, halalbihalal". Ungkapan itu kemudian akrab di telinga masyarakat.

Dipopulerkan sebagai Solusi Konflik (1948)

Puncak popularitas halalbihalal terjadi pada 1948. KH Abdul Wahab Chasbullah memperkenalkan konsep ini kepada Presiden Soekarno sebagai cara meredakan ketegangan politik nasional.

Kala itu, para elite politik sulit dipersatukan. Halalbihalal kemudian dijadikan forum silaturahmi untuk saling memaafkan dan membangun kembali hubungan yang retak.

Dari sinilah halalbihalal berkembang luas, bukan hanya sebagai tradisi keagamaan, tetapi juga sarana rekonsiliasi sosial.

Makna Halalbihalal dalam Islam

Secara bahasa, halalbihalal berasal dari kata Arab "halal" yang memiliki makna luas, salah satunya mengurai sesuatu yang kusut (ḥalla al-ḥabl).

Dalam kehidupan sosial, halalbihalal dimaknai sebagai proses "merapikan" hubungan-menyelesaikan konflik, mencairkan suasana, dan membuka kembali komunikasi yang sempat terputus.

Dalam perspektif Islam, tradisi ini menjadi momentum penting untuk:

  • Saling memaafkan dengan tulus
  • Membersihkan hati dari dendam
  • Mempererat ukhuwah Islamiyah
  • Membangun kehidupan yang harmonis

Karena itu, halalbihalal bukan sekadar formalitas Lebaran, melainkan refleksi nilai dasar ajaran Islam tentang pentingnya menjaga hubungan antarmanusia.




(dpw/dpw)










Hide Ads
LIVE