detikBali

Menguak Kisah Niskala 'Setra Bojog' dan Tradisi Pekutangan Monyet di Sangeh

Terpopuler Koleksi Pilihan

Menguak Kisah Niskala 'Setra Bojog' dan Tradisi Pekutangan Monyet di Sangeh


Agus Eka - detikBali

Objek Wisata Sangeh, Abiansemal, Badung, masih diminati turis asing, Jumat (13/12/2024).
Foto: Objek Wisata Sangeh, Abiansemal, Badung, masih diminati turis asing, Jumat (13/12/2024). Agus Eka
Badung -

Objek Wisata Sangeh di Desa Sangeh, Badung, Bali, dikenal sebagai surga bagi pecinta alam. Di sini, ratusan monyet ekor panjang tampak akrab berinteraksi dengan turis di tengah rimbunnya hutan Pala (Alas Pala) seluas 13,9 hektare. Namun, di balik keramaian siang, hutan konservasi ini menyimpan kisah misterius tentang keberadaan setra/tunon bojog atau kuburan khusus kera, secara niskala (gaib).

Kawanan monyet di Sangeh tak hanya hidup bebas, tetapi juga memiliki hukum rimba dan tradisi spiritual yang unik, layaknya manusia. Konon, jika ada monyet yang mati, bangkainya akan diantar ke kuburan khusus itu tanpa meninggalkan jejak. Prosesi pemakaman ini disebut-sebut menyerupai ritual manusia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Pengelola Objek Wisata Sangeh, Ida Bagus Gede Pujawan atau akrab disapa Gus Pujawan, mengungkapkan hutan ini adalah rumah bagi lebih dari 700 ekor monyet. Yang menarik, populasi betina mendominasi, yang mana satu monyet jantan bisa memiliki hingga 10 monyet betina untuk berkembang biak.

Tak hanya jumlahnya yang banyak, ratusan monyet ini hidup dalam tatanan sosial yang ketat. Mereka hidup berkoloni dan teritorial, membagi wilayah kekuasaan yang tegas.

ADVERTISEMENT

"Kalau diumpamakan seperti manusia, mereka terbagi jadi tiga banjar, ada banjar barat, banjar tengah, banjar timur. Mereka keras, kalau misal lewat dari batas wilayah, mereka bisa berkelahi," jelas Gus Pujawan, Jumat (9/1/2026).

Setiap "banjar" dipimpin oleh seorang leader (pemimpin). Perebutan kekuasaan pun tak terhindarkan, digambarkan sebagai "hukum rimba", yang mana perkelahian akan terjadi saat ada pergantian pemimpin.

Secara alami, monyet di Sangeh bisa hidup hingga usia 20-25 tahun. Namun, kematian tak terhindarkan, baik karena usia, sakit, kalah berkelahi, atau celaka yang diakibatkan hal lainnya.

Saat monyet mati, para petugas objek wisata tidak bisa serta merta mengambil bangkainya. Kawanan monyet yang hidup akan menjadi sangat galak dan menyerang siapapun yang mencoba mendekat.

Menurut petunjuk spiritual tokoh pemangku Penglingsir Pura Pucak Bukit Sari, bangkai monyet wajib dikuburkan di tunon/setra bojog yang terletak di sisi barat hutan. Pengelola dilarang mengubur monyet sembarangan.

"Biasanya kalau ada monyet yang mati, kawan-kawannya akan galak dan menyerang. Kami pun dari pegawai sangat berhati-hati," ujar Gus Pujawan.

Namun, ada kasus urgent di mana petugas terpaksa harus mengambil bangkainya, seperti monyet yang terlindas di jalan raya/parkiran, atau sempat ada yang mati mendadak dalam jumlah banyak akibat serangan penyakit. Bangkai yang diambil ini kemudian tetap dibawa dan dikuburkan secara layak di setra bojog, diikuti dengan persembahan canang.

Inilah sisi misterius Alas Pala Sangeh. Kebanyakan monyet yang mati akan dilindungi kawanan yang masih hidup hingga bangkainya tidak bisa diambil oleh petugas. Setelah dibiarkan, keesokan harinya, bangkai itu mendadak hilang tanpa bekas.

Menurut cerita mendiang juru kunci (kuncen) Hutan Pala Sangeh, Pekak Sura (yang konon bisa berinteraksi dengan monyet), hilangnya bangkai itu adalah bukti adanya prosesi pekutangan (seperti upacara kematian/pemakaman) yang dilakukan oleh kawanan monyet itu sendiri pada malam hari.

"Yang diceritakan oleh juru kuncen di sini, kalau ada monyet yang mati, maka kawanan monyet akan melakukan prosesi mekutangan yang sama seperti manusia, tapi dilakukan malam hari. Sehingga kalau dilihat di Sangeh ini sulit menemukan bangkai monyet," ungkap Gus Pujawan.

Tangisan monyet yang saling bersahutan tepat pada pukul 11 malam diyakini sebagai penanda bahwa prosesi pekutangan sedang berlangsung di dalam tunon. "Artinya kawanan monyet saat itu sedang mengiring mayat ke tunon," kata Gus Pujawan, yang rumahnya paling dekat dengan objek wisata dan sering mendengar suara tersebut.

Pekak Sura bahkan pernah bercerita bahwa ia sempat melihat prosesi tersebut. Dikatakan, prosesi pemakaman monyet itu mirip manusia, di mana mayat monyet dipikul (ditegen), dan yang paling membingungkan, konon monyet itu dibungkus dengan kain kasa.

Kisah supranatural ini hingga kini masih melekat di ingatan Gus Pujawan, bahkan sebagian besar masyarakat Desa Sangeh yang tahu kisah turun-temurun ini. Meskipun masyarakat tidak ada yang berani mengintip prosesi pekutangan itu, sinyal tangisan monyet di tengah malam menjadi bukti abadi akan adanya kehidupan niskala di Alas Pala Sangeh.




(nor/nor)










Hide Ads