14 Warisan Budaya di Tabanan, Tradisi Siat Sambuk-Mesuryak

Tim detikBali - detikBali
Minggu, 12 Jun 2022 16:23 WIB
Tradisi Siat Sambuk Saat Pengerupukan di Pohgending, Tabanan.
Foto: Pemkab Tabanan
Tabanan -

Bali sangat kaya akan ragam budayanya. Termasuk budaya yang dimiliki Kabupaten Tabanan. Kabupaten Tabanan setidaknya memiliki 14 budaya lokal yang sampai saat ini dilestarikan dengan baik. 14 budaya tersebut terdiri dari tradisi dan tari-tarian asli Tabanan. Dilansir dari laman resmi infowisata.tabanankab.go.id pada Minggu (12/6/2022) berikut 14 budaya di Kabupaten Tabanan.

1. Ngerebeg Keris Ki Baru Gajah di Puri Kediri, Tabanan

Terdapat tradisi yang unik di Desa Kediri, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, yaitu tepatnya pada Puri Kediri. Tradisi yang unik ini sering disebut dengan "Ngerebeg Keris Ki Baru Gajah". Tradisi ini dilaksanakan setiap 10 hari sesudah hari raya galungan yaitu tepatnya pada hari raya kuningan (Saniscara Kliwon Kuningan).


Tradisi Ngerebeg Keris Ki Baru Gajah itu sendiri merupakan ritual mengantar Keris Ki Baru Gajah dengan jalan kaki sejauh 14 kilometer dari Puri Kediri menuju Pura Pekendungan di Desa Pakraman Beraban, Kecamatan Kediri, Tabanan saat Hari Raya Kuningan. Ritual ini dilaksanakan keluarga Puri Kediri bersama enam banjar di Desa Adat Kediri.

Tradisi ritual Ngerebeg Keris Ki Baru Gajah ini sudah dilaksanakan secara turun temurun sejak abad ke-18. Biasanya, sebelum berangkat menuju Pura Pekendungan, lebih dulu dilaksanakan persembahyangan bersama peserta ngerebeg di Pura Suci areal Puri Kediri dan Pura Panti yang tak jauh dari Puri Kediri.

Keris Ki Baru Gajah harus dibawa oleh keturunan brahmana mengelilingi Puri Kediri, sebagai simbol mengelilingi Desa Adat Kediri, untuk nangluk merana (menetralisir aura negatif), lalu baru dilanjutkan menuju pura pekendungan dengan "Tradisi Ngerebeg Keris Ki Baru Gajah". Tradisi ini di diiringi dengan gong baleganjur lengkap dengan atributnya seperti, tombak, kober atau bendera, dan lainnya.

2. Tradisi Tarian Sang Hyang Sampat di Desa Pakraman Puluk Puluk, Penebel

Tradisi unik yang berlokasi pada Desa Puluk-puluk, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan yaitu "Tradisi Tarian Sang Hyang Sampat". Di mana pada saat menjelang panen, tepatnya pada musim tanam padi taun atau padi Bali, maka akan digelar nedunang Sang Hyang Sampat yang sudah menjadi tradisi turun menurun di Desa Pakraman Puluk Puluk, dilaksanakan dalam waktu kalender digelar setiap satu tahun sekali sebelum Ngusaba Gede di Pura Bedugul. Tradisi Tarian Sang Hyang Sampat tujuannya untuk Nangkluk Merana, melindungi tanaman padi para petani dari serangan hama dan penyakit.

Prosesi Sang Hyang Sampat sendiri digelar selama tiga hari berturut dengan upacara yang dipusatkan di Pura Bale Agung Desa Pakraman Puluk-puluk. Terdapat dua Sang Hyang Sampat yang memang melinggih di Pura Bale Agung Desa Pakraman Puluk Puluk yang terdiri dari Sang Hyang Sampat Lanang (laki-laki) dan Sang Hyang Sampat Istri (perempuan).

Lidi dari Sang Hyang Sampat pun bukan lidi sembarangan, melainkan lidi Ron dan lidi Nyuh Gading, dengan jumlah lidi yaitu sebagai berikut :

1. Jumlah lidi Sang Hyang Sampat Lanang adalah 108 di mana angka 1 berarti Tuhan adalah satu, angka 0 artinya Tuhan tidak berawal dan tidak berakhir, dan jumlah dari angka 1 ditambah 0 ditambah 8 adalah 9, yang merupakan arah penjuru dunia.

2. Jumlah lidi Sang Hyang Sampat istri yang 99 yang artinya arah penjuru dunia.

Sebelum roh widyadara merasuki Sang Hyang Sampat, sejumlah warga pun menyanyikan tembang Sang Hyang Sampat untuk mengundang para widyadara turun ke Bumi. Adapun petikan tembang Sang Hyang Sampat adalah sebagai berikut :

"Dong dauhin semitone uli taman sari, metangi ayu metangi, juru kidung sampun rauh. Pang enggal enggal nadi, ring sunia takon karman, I ya karmaning jajar, gumara gana, gumara sidi, Ya tumurune menga mengo, wenten ganjar nadi Sang Hyang.."

Saat Sang Hyang Sampat hendak disineb atau dilinggihkan kembali di Pura Bale Agung, maka juga ada tembang yang mengiringi dengan lirik sebagai berikut : "Simping simping jemak lebang, tangane kuning, ngerejang ya cara jawa, Metu saking Suralaya, Suralaya inga gatra ngelungang pakir, Lengkek elengkok lengkung.."

3. Tradisi Siat Sambuk Saat Pengerupukan di Pohgending

Di Banjar Pohgending, Desa Pitra, Kecamatan Penebel, Tabanan terdapat tradisi yang bernama 'Siat Sambuk'. Siat Sambuk (Perang Serabut Kelapa) biasanya dilaksanakan sehari sebelum hari raya Nyepi yaitu tepat pada hari pengerupukan sebelum matahari tenggelam (sandikala). Dijelaskan, sejak tahun 1995, ritual Siat Sambuk menerapkan strategi perang modern. Dalam Tradisi Siat Sambuk ini, ada pasukan 'Serbu' yang tugasnya khusus melempar lawan dan ada pula pasukan 'Logistik' yang tugasnya membawa sambuk membara untuk dijadikan senjata oleh pasukan 'Serbu'.

Pasukan siat sambuk biasanya dibagi dua yaitu Wong Kaja (kelompok utara) maupun Wong Kelod (kelompok selatan). Kedua kelompok ini sama-sama telah menyiapkan amunisi berupa tumpukan sambuk berisi bara api. Muda-mudi akan saling melempar sambuk yang sebelumnya sudah dibakar diiringi dengan gamelan Baleganjur yang semakin membakar semangat. Uniknya, tak ada yang pernah terluka ataupun terbakar dalam ritual tersebut.

Selain untuk meneruskan tradisi dari leluhur, Siat Sambuk juga dipercaya sebagai penolak bala dan menetralisir hal-hal negatif pada lingkungan desa. Setelah tradisi siat sambuk selesai, semua pasukan berkumpul di pertigaan desa dan bersama-sama nunas tirta, kemudian saling bersalaman, saling merangkul, seolah tidak ada perang yang baru saja usai dilakukan.

4. Tradisi Sarin Taun di Pura Ulun Suwi Candikuning

Tradisi Sarin Taun yang sudah berlangsung sejak jaman dulu di Pura Ulun Suwi Candikuning yang berlokasi di Banjar Gunung Sari, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan. Tradisi Sarin Taun merupakan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil pertanian yang telah diberikan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berlangsung setiap 3 (tiga) tahun sekali, untuk menggelar upacara Sarin Taun ini, masyarakat pada desa jatiluwih harus melalui piodalan alit dua kali, kemudian piodalan ageng satu kali, dilanjutkan piodalan alit dua kali lagi, kemudian baru ngaturan Sarin Taun ini.

Tradisi Sarin Taun ini memang rutin dilaksanakan di Pura Ulun Suwi Candikuning oleh krama Subak Jatiluwih Tempek Gunung Sari. Ketika melakukan upacara Sarin Taun, maka masing-masing anggota subak membawa Dewa Nini yang sudah dirias cantik. Dewa Nini sendiri merupakan ikatan padi yang dibuat para petani usai panen padi Bali, yang kemudian diletakkan pada Lumbung padi yang ada di masing-masing rumah masyarakat.

5. Tari Baris Memedi di Desa Jatiluwih

Salah satu tarian sakral yang ada di daerah Tabanan yaitu Tari Baris Memedi. Tarian ini hanya ditarikan pada saat upacara atiwa-tiwa saja atau ngaben massal (ngerit) di Desa Jatiluwih, Penebel, Tabanan. Tarian Baris Memedi biasanya ditarikan sekitar 15 orang atau lebih. Kostum yang digunakan saat menarikan Tari Baris Memedi ini sangat unik, yaitu menggunakan daun pisang kering (Keraras), daun andong dan kain kasa (berwarna putih).

Para penari Baris Memedi dihias sedemikian rupa sehingga penampilannya menyeramkan. Wajah mereka dipoles hingga seperti memedi (makhluk halus). Karena tarian ini termasuk tarian sakral maka pada saat tarian ini berlangsung tak heran jika ada beberapa penari yang kerasukan pada saat upacara. Masyarakat setempat percaya, tarian ini bertujuan untuk mengantarkan roh ke nirwana.

Rangkaian para penari ini belum dikatakan selesai, jika ada yang belum sadar maka akan dihaturkan segehan di setra. Setelah mereka kembali ke setra para penari ini akan mandi ke sungai. Tujuanya untuk membersihkan diri, kemudian kembali ke setra untuk nebusin artinya mengembalikan jiwa yang sebelumnya sempat tidak menyatu. Lalu dilanjutkan proses melukat dan disini baru dikatakan penari sadar sepenuhnya.

6. Joged Dadua

Beberapa sebutan/nama untuk merujuk pada tarian joged yang terdapat di Banjar Suda Kanginan seperti :

Joged Duwe: tarian ini berkait langsung dengan ritual keagamaan, dominan pada ritual sakral upacara piodalan yang dilaksanakan di banjar Suda Kanginan, dan pura-pura yang memiliki paiketan/kaitan dengan Ida Bhatara/i yang malingga di Sudha Kanginan.

Joged Pingitan: tarian joged ini tidak seperti joged lain pada umumnya yang dipentaskan secara profan untuk hiburan dan bisa diibingi oleh khalayak umum. Joged jenis ini memang dipingit, dan hanya dipentaskan pada acara-acara ritual magis tertentu saja dan pengibingnya pun adalah para sutri yang telah memiliki ayahan untuk hal tersebut.

Joged Klasik: sebutan yang diberikan oleh orang-orang 'modern', seperti kalangan seniman/akademisi, yang menurutnya bisa diklasifikasikan/ dikategorikan sebagai seni atau tarian klasik.

Menurut penuturan para tetua banjar Suda Kanginan, bahwa joged Duwe telah diketahui ada sejak tahun 1920-an, atau bahkan lebih sebelum tahun tersebut, dan mempunyai kaitan erat dengan keberadaan Gong Kebyar Puspa Nadi yang ada sekarang. Ketika itu, keberadaannya hanya baru beberapa tungguh gamelan saja (seperti gangsa 4 tungguh, reong, jublah dua tungguh, kemong, celuluk, dan gong), atau lebih dikenal dengan sebutan gong sibak, yang memang khusus diperuntukkan untuk mengiringi tarian joged tersebut.

Penari pertama sebagai penari joged tersebut pada saat dilatih di Puri Kediri, konon penari tersebut berasal dari keluarga Nang Cekeg warga Banjar Suda Kanginan dan selanjutnya penari tersebut terus membina generasi berikutnya. Sejak itu, keberadaan joged duwe tetap eksis, artinya bisa diupah yang selalu ditemani oleh pemangku. Kemudian, siring berjalannya waktu, joged tersebut kalinggihan dan menjadi joged pingitan, dengan pengertian joged ini tidak boleh ditarikan di tempat/wilayah sebel/cuntaka, dan hanya boleh ditarikan pada upacara dewa yadnya dan manusa yadnya.

Kemudian sekitar tahun 1940-an dan tahun 1950-an, gong pengiring tari joged tersebut dilengkapi dan menjadi satu kelengkapan gong. Pada masa tahun 1970-an, joged ini pernah diminta pentas secara khusus oleh Ida Cokorda Lingsir Puri Tabanan untuk sengaja dipentaskan di hadapan beliau sebagai pembuktian bahwa tari joged pingit ini masih tetap eksis dan tetap lestari.

Pada saat tersebut , Ida Cokorda Lingsir menyarankan agar kesenian ini jangan sampai punah, dan agar tetap dipentaskan pada waktu kegiatan dewa yadnya dan manusa yadnya. Hal ini juga dikuatkan secara niskala, yang meminta agar keberadaan joged ini jangan sampai tidak aktif.



Simak Video "Serunya Perayaan HUT RI di Tabanan, Ada Sepeda Hias 'Tank Tempur'"
[Gambas:Video 20detik]