Pasokan bahan bakar minyak (BBM) ke Kabupaten Buleleng, Bali, anjlok hingga di bawah 50 persen dari kebutuhan normal. Kondisi ini memicu kekhawatiran antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) terus berlanjut. Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra pun mendesak Pertamina segera memberikan kepastian pasokan.
Desakan itu disampaikan Sutjidra dalam Rapat Koordinasi Penanganan Antrean dan Pemantauan Penyaluran BBM Bersubsidi di Rumah Jabatan Bupati, Sabtu (17/10/2026). Rapat tersebut melibatkan Sales Area Manager Pertamina dan Kepala Depo Manggis yang selama ini menjadi sumber pasokan BBM untuk Buleleng.
Sutjidra mengungkapkan kebutuhan normal BBM di Buleleng mencapai sekitar 340 kiloliter per hari untuk seluruh jenis BBM. Namun, pasokan yang diterima saat ini kurang dari 50 persen dari kebutuhan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya, 340 kiloliter yang normal. Semuanya, semua jenis BBM. Tapi sekarang kan kita cuma diberikan di bawah 50 persen dari kebutuhan yang ada," kata Sutjidra.
Menurut Sutjidra, komunikasi dengan pihak Pertamina berlangsung lebih dari dua jam untuk membahas kepastian pasokan BBM ke Buleleng. Ia meminta Pertamina memprioritaskan pasokan ke wilayah tersebut agar distribusi bisa dikawal dan masyarakat memperoleh informasi yang jelas.
"Kalau tidak, informasi ini akan simpang siur dan masyarakat selalu menunggu-nunggu, menunggu-menunggu yang tidak ada kepastiannya," ujarnya.
Meski telah berkomunikasi dengan Pertamina, Sutjidra belum bisa memastikan kapan pasokan BBM di Buleleng kembali normal. Pertamina belum memberikan jawaban pasti terkait pemenuhan kebutuhan BBM di wilayah tersebut.
"Kita belum bisa jawab. Kita belum bisa jawab karena dari pihak Pertamina juga belum memberikan jawaban yang pasti," katanya.
Sutjidra menyebut ada rencana kapal merapat pada hari ini. Namun, Pemkab Buleleng masih akan mengecek kepastian waktu distribusi BBM dari Depo Manggis ke Buleleng yang diperkirakan membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam jam.
Pemkab Buleleng bersama TNI dan Polri juga menyiapkan pengawalan distribusi serta pemantauan di SPBU yang mengalami antrean panjang. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga situasi tetap kondusif saat masyarakat mengantre BBM.
"Kita hanya mengamankan distribusi kalau sudah ada pasokan. Jadi kita menjaga kondusivitas masyarakat yang antre untuk mendapatkan BBM itu," imbuhnya.
Sementara itu, usulan pemanfaatan Pertashop di desa-desa untuk membantu memenuhi kebutuhan BBM dinilai belum menjadi solusi cepat. Sutjidra mencontohkan Pertashop di Kecamatan Tejakula yang hanya mendapat pasokan sekitar 2 kiloliter sehingga persediaannya dinilai cepat habis.
Untuk saat ini, Pemkab Buleleng masih berfokus memperjuangkan kepastian pasokan BBM dari Pertamina agar antrean masyarakat tidak terus berlanjut.