Harga semen di Kabupaten Lombok Barat melonjak hingga Rp 87 ribu per sak di tingkat pengecer. Di tengah kelangkaan yang berlangsung sejak akhir Juli 2026, Komisi III DPRD Lombok Barat menduga ada praktik penimbunan semen.
Anggota Komisi III DPRD Lombok Barat, Lalu Irwan, mengatakan dugaan itu muncul setelah pihaknya mendapat informasi bahwa harga semen dari pabrik ke distributor masih normal. Namun, harga di tingkat pengecer justru mencapai Rp 80 ribu hingga Rp 87 ribu per sak.
"Di lapangan terjadi peningkatan yang signifikan, hampir Rp 10.000 sampai Rp 15.000 selisihnya. Ketika kelangkaan semen ini agak lama, lalu di satu sisi distributor inti dari semen ini menganggap barang ini normal, kan muncul kecurigaan. Ada dugaan barang ini ditimbun," ujarnya, Senin (5/10/2026).
Menurutnya, dugaan penimbunan tersebut bukan tidak mungkin terjadi seperti pada kasus penimbunan sembako. Terlebih, kebutuhan semen biasanya meningkat menjelang akhir tahun anggaran.
Meski begitu, politikus Gerindra itu menegaskan dugaan penimbunan tersebut masih perlu dibuktikan. Komisi III DPRD Lombok Barat berencana turun langsung mengecek kondisi distribusi semen ke sejumlah distributor besar.
"Kami dari Komisi III memang dalam waktu dekat ada rencana untuk turun. Kami ingin berkomunikasi dengan pihak-pihak distributor besar yang selama ini menguasai semen yang ada di Lombok Barat khususnya. Kami ingin mempertegas kondisi seperti apa," ucap Irwan.
Selain mengecek dugaan penimbunan, DPRD Lombok Barat akan meminta distributor untuk memastikan pendistribusian semen dilakukan secara merata.
"Harapan kami bagaimana caranya distributor ini mengatur pendistribusian semen ini secara merata. Bukan hanya kepada toko-toko besar atau gudang-gudang besar yang memiliki modal dan memiliki armada. Kasihan toko-toko kecil, harus diperhatikan juga," tegasnya.
Sebelumnya, pasokan semen di Kabupaten Lombok Barat mulai langka sejak akhir Juli hingga awal Agustus 2026. Kondisi itu semakin parah pada September. Harga semen di tingkat pengecer pun melonjak hingga Rp 80-87 ribu per sak, dari sebelumnya sekitar Rp 65 ribu.
Kepala Bidang (Kabid) Dagang Dinas Perdagangan Lombok Barat Lale Widiani telah turun mengecek kondisi tersebut ke sejumlah distributor semen. Menurutnya, kelangkaan mulai terjadi sejak akhir Juli hingga awal Agustus 2026. Kondisi itu semakin parah pada September.
"Permasalahannya sama. Saya ke distributor Tiga Roda, Bosowa, dan Tonasa, ketiga distributor tadi intinya sama," kata Lale, kamis (1/10/2026).
Lale mengatakan pasokan semen tersendat karena distribusi bahan bakar yang digunakan dalam proses produksi. Berdasarkan informasi dari distributor, pasokan solar dan batu bara sebagai sumber energi produksi semen mengalami kendala.
"Pengiriman solar dari luar negeri ke Indonesia tersendat karena nggak bisa lewat Selat Hormuz. Sedangkan untuk semen ini dia menggunakan solar murni, katanya," terangnya.
Menurut Lale, sejumlah merek semen bahkan sudah tidak lagi masuk ke Lombok Barat. Kalaupun masih tersedia, stoknya terbatas sehingga harga di tingkat pengecer ikut naik.
"Harga di distributor itu tetap, tidak menaikkan harga. Dari distributor ke toko itu tetap, dia nggak pernah naikkan harga distributor, toko juga tetap harganya, di pengecer dia naik harganya," ujat Lale.
Dia menyebut kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Lombok Barat, tetapi juga di sejumlah daerah lain di Indonesia. Kelangkaan disebut berkaitan dengan tersendatnya pasokan bahan bakar dari pusat.
"Tahun kemarin nggak terjadi seperti ini, kata para distributor," ucapnya.
Irwan khawatir kelangkaan semen yang berlangsung cukup lama akan berdampak kepada masyarakat. Tak hanya itu, proyek pembangunan pemerintah juga berpotensi ikut terganggu, sehingga membuat anggaran tidak terserap kemudian menghasilkan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) menjadi besar.
"Ketika progres pembangunan atau proyek-proyek yang dilaksanakan oleh teman-teman kontraktor ini terkendala atau progresnya sangat lambat, ini berdampak kepada pembayaran. Kemungkinan proyek-proyek ini tidak bisa selesai, lalu terjadi keterlambatan yang berdampak kemungkinan mereka akan kena denda, anggaran ini tidak terserap, berarti ada SiLPA lagi," katanya.
Simak Video "Video K-Talk: Transformasi Bocah Baby Shark yang Debut Jadi Idol K-Pop"
(dpw/dpw)