Rumah adat Limbungan salah satu rumah tradisional adat suku Sasak yang terletak di Desa Perigi, Kecamatan Suela, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Rumah adat ini masih terbilang tersembunyi karena berada di pelosok Lombok di bawah kaki Gunung Rinjani.
Rumah adat ini berada di ketinggian sekitar 750 meter di atas permukaan laut (mdpl). Karena berada di dataran yang cukup tinggi, sehingga dari area rumah adat memungkinkan pengunjung untuk melihat panorama pantai di sebelah selatan dan Gunung Rinjani di bagian utara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rumah adat limbungan dari segi arsitektur memiliki kemiripan dengan rumah adat lainya baik yang ada di Desa Sade, Lombok Tengah maupun Rumah Adat yang berada di Bayan, Lombok Utara. Rumah adat limbungan berjejer rapi dengan anyaman bambu sebagai dinding dan anyaman ilalang sebagai atapnya.
Rumah adat Limbungan memiliki luas sekitar 20 meter persegi. Ukuran bangunan dan bentuknya tetap sama dari dahulu hingga sekarang.
"Bentuk dan ukuran bangunan rumah adat ini tidak boleh diubah atau dimodifikasi. Bangunan ini sama sekali tidak boleh menggunakan semen atau bata. Lantainya dari tanah dan bagian depannya dilapisi kotoran sapi, sementara fasilitas MCK dibuat terpisah di luar rumah," terang Husnan Basri, Perangkat Desa Perigi, kepada detikBali, Minggu (6/9/2026).
Rumah adat limbungan ini terbagi menjadi dua bagian yakni Dusun Limbungan Timur dan Dusun Limbungan Barat masing-masing memiliki 90 unit rumah adat. Rumah adat ini dihuni oleh 235 kepala keluarga (KK).
Masyarakat yang menetap di rumah adat limbungan ini secara turun temurun. Rumah adat ini tidak boleh diperjual belikan, pemiliknya harus melalui warisan para pendahulunya.
"Rumah adat tidak boleh diperjualbelikan, hanya boleh ditempati oleh keturunan langsung dan memiliki silsilah keluarga dari penghuni pertama. Konon kalau bukan dari keluarga yang mendiaminya, orang tersebut bisa sakit," ujar Husnan.
Meskipun tidak terkenal seperti rumah adat yang berada di Desa Sade, rumah adat Limbungan selama ini dijadikan sebagai objek wisata edukasi dan keluarga. Untuk masuk ke kawasan rumah adat juga masih gratis alias tidak dipungut biaya sepeser pun.
Suasana di Rumah Adat Limbungan, Desa Perigi, Kecamatan Suela, Lombok Timur, NTB, Minggu (6/9/2026) foto (Sanusi Ardi W/detikBali) |
"Kalau untuk biaya tidak ada, gratis semuanya. Siapapun boleh datang asalkan menjaga adab dan bertegur sapa dengan pemilik rumah," kata Husnan.
Jika detikers ingin berkunjung ke Rumah adat Limbungan, membutuhkan sekitar 2 jam dari Kota Mataram, karena lokasinya berada di pelosok sebaiknya detikers menggunakan Google Maps. Namun tenang, untuk akses jalan sudah cukup bagus dan bisa dilalui baik menggunakan motor maupun kendaraan roda empat.
