Industri cerutu Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperluas pasar hingga ke mancanegara. Potensi tersebut salah satunya didorong melalui pertemuan pelaku industri dan komunitas cerutu dalam Indonesian Cigar Festival (ICF) 2026 di Atrium Bali Collection, The Nusa Dua, Badung, pada 1-3 Oktober.
ICF 2026 mempertemukan sejumlah pabrikan dan komunitas cerutu dari berbagai daerah di Indonesia, seperti PT Perkebunan Indonesia (PTPN) III dari Deli Serdang, Sumatra Utara; Dos Hermanos dari Kudus, Jawa Tengah (Jateng); Taru Martani dari Yogyakarta; serta PT Basuki Raya Cigar dari Jember, Jawa Timur (Jatim).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Pelaksana ICF, Opa Ewin, mengatakan industri cerutu turut memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara melalui bea cukai. Menurutnya, hal ini menunjukkan masih terbukanya peluang pasar cerutu Indonesia di luar negeri.
"Hasil bea cukai dari pendapatan negara itu sudah lebih dari Rp 224 triliun. Itu lumayan buat pendapatan negara, ya. Nah, disinilah kita letak untuk bagaimana mengangkat kolaborasi seluruh petani tembakau," ujar Opa Ewin, Kamis (1/10/2026).
Opa Ewin menilai Bali memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pintu masuk pemasaran produk cerutu Indonesia karena didukung sektor pariwisata.
"Kami melihat peluang Bali ini bagus karena tourism-nya high class. Nah, dari sisinya spot-nya di Bali, kami di Indonesia sudah mengekspor 22 negara, dari pintu gerbangnya Bali," terang Opa Erwin.
Opa Erwin mengungkapkan cerutu selama ini identik dengan gaya hidup kelas atas. Padahal, menurutnya, produk cerutu lokal memiliki rentang harga yang lebih beragam dan dapat dijangkau masyarakat.
"Di sini tersedia, ada binaan cigar yang UMKM, yang harga di bawah Rp 50 ribu juga ada di situ. Mungkin brand-brand luar orang berpikir harga Rp 5 juta, Rp 10 juta. Hanya kan trennya membawa image orang tuh cigar high class, padahal enggak," ungkap Opa Erwin.
(hsa/hsa)