Nyoman Subarna merupakan salah satu perajin gerabah di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal, Kabupaten Badung, Bali. Dia membuat gerabah seperti payuk pere, coblong, dulang, carat, dan berbagai perlengkapan upacara Hindu di Bali.
Subarana sejak kecil sudah akrab dengan gerabah. Keahlian membuat gerabah dipelajari dari orang tuanya yang menggeluti usaha tersebut sejak puluhan tahun silam. Seiring waktu, usaha yang awalnya kecil itu terus berkembang dan menjadi penopang utama ekonomi keluarga seperti untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan membiayai anak sekolah.
"Dari usaha inilah kami membesarkan keluarga," tuturnya melalui keterangan tertulis Kamis (13/8/2026).
Menurut Subarna, pelanggan setianya bisa memesan hingga 4.000 produk gerabah. Pesanan tersebut datang secara berkala, rata-rata setiap dua hingga tiga pekan.
"Kalau sudah ada upacara besar, pesanannya bisa ribuan. Pembeli biasanya datang langsung ke tempat kami atau memesan lebih dulu karena sudah menjadi pelanggan tetap," ujarnya.
Subarna memasarkan gerabahnya ke berbagai wilayah di Bali. Para pengepul maupun pelanggan biasanya datang langsung ke lokasi produksi untuk mengambil pesanan.
Bahan baku gerabah, Subarna berujar, adalah tanah liat dari sejumlah wilayah di Pulau Dewata. Ia mengeluarkan modal sekitar Rp1 juta untuk sekali membeli bahan baku tesebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Arloji Kayu dari Gumi Makepung |
Pembuatan gerabah juga membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Setelah dibentuk secara manual, gerabah dijemur di bawah matahari hingga benar-benar kering sebelum dibakar.
Subarana juga memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp100 juta untuk memperkuat modal usahanya. Pinjaman bertenor lima tahun tersebut digunakan untuk tambahan modal kerja, terutama untuk membeli bahan baku, memenuhi kebutuhan produksi saat pesanan meningkat, hingga mendukung keberlangsungan usaha keluarga itu.
"KUR sangat membantu, terutama ketika pesanan sedang banyak. Modal bisa dipakai membeli bahan baku lebih awal sehingga produksi tidak terhambat," ungkap Subarna.
Subarna kini mempekerjakan delapan orang yang seluruhnya masih keluarga. Usaha keluarga ini menjadi salah satu kekuatan dalam menjaga kualitas gerabah.
Baca juga: Jimbe Pulau Dewata Merambah Mancanegara |
Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, mengatakan bank pelat merah itu berkomitmen mendukung pelaku UMKM yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tapi juga berperan menjaga warisan budaya daerah. Usaha gerabah tradisional seperti yang dijalankan Subarana menunjukkan UMKM memiliki fungsi ganda, yakni menggerakkan perekonomian masyarakat sekaligus menjaga keberlangsungan budaya lokal yang menjadi identitas Bali.
"Melalui pembiayaan KUR, kami ingin memastikan mereka memiliki akses permodalan yang memadai sehingga mampu meningkatkan kapasitas usaha tanpa meninggalkan nilai budaya yang menjadi kekuatan utamanya," ujar Hery.
Menurut Hery, keberlangsungan usaha berbasis budaya memiliki efek ganda terhadap perekonomian daerah. Selain membuka lapangan pekerjaan, usaha tersebut turut menjaga rantai pasok ekonomi lokal mulai dari penyedia bahan baku, tenaga kerja, hingga memenuhi kebutuhan masyarakat dalam pelaksanaan berbagai upacara adat.
"BRI percaya UMKM berbasis kearifan lokal memiliki daya tahan yang kuat karena tumbuh bersama kebutuhan masyarakat dan kami akan terus memperluas akses pembiayaan produktif agar pelaku usaha tradisional semakin berkembang," imbuhnya.
BRI Salurkan KUR BRI Rp103,81 Triliun hingga Akhir Juni 2026
BRI hingga akhir Juni 2026 telah menyalurkan KUR mencapai Rp 103,81 triliun. Pinjaman tersebut disalurkan kepada 2 juta debitur di berbagai wilayah Indonesia.
Penyaluran KUR tersebut didominasi sektor produktif yang memiliki peran strategis terhadap perekonomian nasional. Sektor pertanian menjadi penerima terbesar yakni 42,68% dan perdagangan 32,34%.
Direktur Mikro BRI Akhmad Purwakajaya menuturkan penyaluran KUR yang diarahkan ke sektor-sektor produktif, khususnya pertanian, diharapkan mampu meningkatkan produktivitas usaha masyarakat, memperkuat basis ekonomi daerah, hingga mendukung agenda ketahanan pangan nasional.
Selain itu, Akhmad melanjutkan, UMKM dapat tumbuh lebih kuat dan menciptakan lapangan pekerjaan karena akses pembiayaan yang semakin inklusif dan tepat sasaran. "KUR bukan sekadar instrumen pembiayaan, tapi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional dari tingkat akar rumput," tuturnya.
(gsp/gsp)