Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat ekonomi Bali pada Triwulan II 2026 tumbuh 6,91 persen. Sementara secara tahunan, ekonomi Bali tumbuh 5,78 persen.
Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan mengatakan pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan II 2026 lebih tinggi dibandingkan Triwulan I 2026.
"Ya, kalau ekonomi kita di triwulan II ini tumbuh cukup baik, lebih cepat atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan yang triwulan I yang lalu," ujar Agus, Rabu (5/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Agus, pertumbuhan ekonomi Bali ditopang hampir seluruh lapangan usaha. Namun, sektor transportasi dan pergudangan menjadi satu-satunya lapangan usaha yang mengalami kontraksi secara tahunan.
Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum masih menjadi penyumbang terbesar struktur perekonomian Bali dengan kontribusi 21,91 persen. Meski menjadi sektor dengan kontribusi terbesar, pertumbuhannya relatif rendah, yakni 3,68 persen secara tahunan.
Sementara itu, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menempati posisi kedua dengan kontribusi 12,85 persen dan tumbuh 6,35 persen secara tahunan.
Di sisi lain, sektor transportasi dan pergudangan yang berkontribusi 10,21 persen justru mengalami kontraksi sebesar 0,64 persen secara tahunan.
Agus menjelaskan kontraksi sektor transportasi terutama dipicu penurunan angkutan udara. Menurutnya, tingginya harga tiket pesawat diduga menjadi salah satu penyebab.
"Itu yang dominan turun yang menggunakan angkutan udara dan laut. Udara yang banyak turun tinggi. Apa karena tiket pesawatnya mahal, saya juga enggak tahu. Tapi yang jelas, baik itu penumpang dan barang, yang udara turun. Transportasi yang besar itu transportasi udara," imbuhnya.