detikBali

Penduduk Miskin di Bali Naik, Rokok Penyumbang Garis Kemiskinan Terbesar Kedua

Terpopuler Koleksi Pilihan

Penduduk Miskin di Bali Naik, Rokok Penyumbang Garis Kemiskinan Terbesar Kedua


Fabiola Dianira - detikBali

Ilustrasi kelaparan merajalela dan paceklik sebagai salah satu tanda sebelum munculnya Dajjal.
Ilustrasi kemiskinan. (Foto: Getty Images/ferrantraite)
Denpasar -

Kemiskinan di Bali naik pada Maret 2026. Di saat yang sama, rokok masih menjadi komoditas penyumbang garis kemiskinan terbesar kedua setelah beras, menunjukkan besarnya porsi pengeluaran masyarakat miskin untuk membeli rokok.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat persentase penduduk miskin pada Maret 2026 mencapai 3,44 persen atau naik 0,02 poin dibandingkan September 2025 yang sebesar 3,42 persen.

Adpaun jumlah penduduk miskin di Bali mencapai 162,01 ribu orang pada Maret 2026. Jumlah tersebut bertambah sekitar 1,92 ribu orang dibandingkan September 2025 yang sebanyak 160,09 ribu orang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan menjelaskan kenaikan angka kemiskinan dipengaruhi kondisi ekonomi yang berbeda dibandingkan September 2025.

ADVERTISEMENT

"Kondisi pariwisata yang memang September itu peaknya, di Maret itu sedikit turun karena awal tahun biasanya memang low season. Kemudian, produksi padi pada September juga jauh lebih tinggi dibandingkan triwulan pertama, dan beberapa faktor lainnya," ujarnya, Rabu (5/8/2026).

Meski demikian, Agus menegaskan Bali masih menjadi provinsi dengan tingkat kemiskinan terendah di Indonesia. Angka kemiskinan di Bali juga jauh lebih rendah dibandingkan tingkat kemiskinan nasional yang mencapai 8,07 persen.

"Kalau dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia, Bali masih menjadi provinsi dengan angka kemiskinan terendah. Berada jauh di bawah tingkat kemiskinan nasional," katanya.

BPS mencatat komoditas makanan masih menjadi penyumbang terbesar garis kemiskinan di Bali, yakni sebesar 69,17 persen. Sementara komoditas bukan makanan menyumbang 30,83 persen.

Agus mengatakan rokok masih menjadi salah satu komoditas dengan porsi pengeluaran terbesar di kalangan masyarakat miskin di Bali.

"Rokok menjadi barang yang dikonsumsi oleh banyak masyarakat miskin," imbuhnya.

Di wilayah perkotaan, beras menjadi penyumbang terbesar garis kemiskinan dengan porsi 21,74 persen, disusul rokok kretek filter sebesar 7,09 persen. Di wilayah perdesaan, beras menyumbang 26,80 persen, sedangkan rokok kretek filter berada di urutan kedua dengan porsi 5,95 persen.

"Hasil surveinya itu ya, salah satu pengeluaran mereka yang besar itu justru untuk beli rokok. Kan rokok itu lebih mahal dari beras. Rp 20 ribu, Rp 30 ribu, Rp 40 ribu," imbuhnya.

Agus berharap konsumsi rokok di kalangan masyarakat miskin dapat berkurang karena membebani pengeluaran rumah tangga.



(dpw/dpw)









Hide Ads