detikBali

Ekspor NTB Melejit Hampir 1.300%, Bijih Tembaga-Konsentrat Mendominasi

Terpopuler Koleksi Pilihan

Ekspor NTB Melejit Hampir 1.300%, Bijih Tembaga-Konsentrat Mendominasi


Nathea Citra - detikBali

Kepala BPS NTB Wahyudin.
Foto: Kepala BPS NTB Wahyudin. (Nathea Citra/detikBali)
Mataram -

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Nusa Tenggara Barat (NTB) pada April 2026 meningkat US$ 545,19 juta atau naik 1.294,11 persen, dibandingkan ekspor April 2025. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan ekspor komoditas barang galian/tambang nonmigas, terutama bijih tembaga dan konsentrat.

"Peningkatan ini didorong oleh adanya ekspor barang tambang berupa bijih tembaga dan konsentratnya, serta peningkatan ekspor barang non tambang berupa perak hasil industri smelter," kata Kepala BPS NTB, Wahyudin, seusai rilis di kantornya, Selasa (2/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wahyudin memerinci komoditas ekspor terbesar pada April 2026 didominasi barang galian sebesar US$ 514 juta atau 94,32 persen. Disusul tembaga US$ 21 juta (3,96 persen), perhiasan/permata US$ 7,5 juta (1,38 persen), ikan dan udang US$ 918 ribu (0,17 persen), daging dan ikan olahan US$ 257 ribu (0,05 persen), serta bahan kimia anorganik US$ 243 ribu (0,04 persen).

Berikutnya, mesin/peralatan listrik US$ 226 ribu (0,04 persen), garam, belerang, kapur US$ 196 ribu (0,04 persen), dan komoditas lainnya US$ 47 ribu (0,01 persen).

ADVERTISEMENT

Menurut Wahyudin, komoditas barang galian menjadi ekspor terbesar dengan tujuan negara Tiongkok. Disusul kelompok tembaga ke Thailand, Perhiasan/Permata ke Hongkong, Jepang, dan Tiongkok. Ikan dan udang ditujukan ke Amerika Serikat dan Belgia, Daging dan Ikan olahan ditujukan ke Amerika Serikat dan Singapura. Sementara bahan kimia anorganik ditujukan ke India.

"Berdasarkan tujuan negara, Tiongkok menjadi negara dengan nilai ekspor terbesar, yakni US$ 514 juta atau 94,37 persen. Disusul negara kedua tertinggi ada Thailand US$ 21 juta (3,97 persen), Hongkong US$ 6,4 juta (1,18 persen), Amerika Serikat US$ 1 juta (0,20 persen)," urai Wahyudin.

"Kemudian ada Jepang US$ 1 juta (0,19 persen), India US$ 299 ribu (0,05 persen), Belgia US$ 71 ribu (0,01 persen). Kemudian disusul Vietnam US$ 57 ribu (0,01 persen), Korea Selatan US$ 32 ribu (0,01 persen), dan negara lainnya US$ 44 ribu (0,01 persen)," sambungnya.

Di sisi lain, BPS NTB mencatat nilai impor pada April 2026 justru mengalami penurunan sebesar 66,74 persen dibandingkan April 2025. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh berkurangnya impor barang konsumsi, barang modal, dan bahan baku/penolong. Sementara itu, pada kelompok barang modal, penurunan terbesar berasal dari mesin/pesawat mekanik.

"Adapun pada kelompok bahan baku/penolong, penurunan terutama disebabkan oleh berkurangnya impor benda-benda besi dan baja," ujar Wahyudin.

Adapun, komoditas impor terbesar berupa karet dan barang dari karet sebesar US$ 4,6 juta atau 58,94 persen. Disusul mesin/pesawat mekanik US$ 1,1 juta (14,05 persen), kendaraan dan bagiannya US$ 704 ribu (8,85 persen), mesin/peralatan listrik US$ 566 ribu (7,12 persen), berbagai produk kimia US$ 319 ribu (4,01 persen), berbagai barang logam dasar US$ 301 ribu (3,79 persen), serta komoditas lainnya US$ 256 ribu (3,23 persen).

"Nilai impor NTB pada April 2026 terbesar berasal dari Jepang dengan nilai US$ 4,6 juta (57,85 persen). Kemudian disusul Amerika Serikat US$ 2,2 juta (28,56 persen), Singapura US$ 554 ribu (6,97 persen), Australia US$ 444 ribu (5,59 persen), serta Tiongkok US$ 81 ribu (1,03 persen)," pungkasnya.

Harga Daging Ayam hingga Emas Picu Deflasi

BPS juga mencatat NTB mengalami deflasi sebesar 0,08 persen pada Mei 2026. Penurunan harga dipicu turunnya harga kelompok bahan makanan, minuman, khususnya pada daging ayam ras.

"Deflasi Mei 2026 disebabkan oleh penurunan harga pada kelompok makanan dengan komoditas dominan daging ayam ras, tomat, kol putih, hingga ikan tongkol," kata Kepala BPS NTB Wahyudin.

Sementara itu, komoditas lain yang turut memberikan andil signifikan terhadap deflasi pada Mei ini ialah tarif angkutan udara serta emas perhiasan.

"Tarif angkutan udara mengalami penurunan harga sejalan dengan kebijakan pemerintah menanggung PPN sebesar 100 persen selama 60 hari, dari tanggal ditetapkan 21 April 2026 (lalu)," ujarnya.

Adapun komoditas penyumbang deflasi pada Mei 2026 antara lain, daging ayam ras 0,10 persen, tomat 0,07 persen, kubis 0,05 persen, ikan tongkol 0,03 persen, dan angkutan udara 0,03 persen.

"Sementara itu, ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan. Seperti bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, cabai merah, kacang panjang, oli mesin hingga bensin," ungkapnya.

"Kenaikan harga bahan bakar rumah tangga nonsubsidi dan komoditas strategis lainnya erat kaitannya dengan kondisi global yang mendorong peningkatan harga energi dunia. Khususnya minyak mentah dan gas," sambung Wahyudin.

Adapun komoditas penyumbang inflasi pada Mei 2026 antara lain, bahan bakar rumah tangga 0,04 persen, minyak goreng 0,04 persen, cabai merah 0,03 persen, kacang Panjang 0,03 persen, pelumas 0,02 persen, ikan kembung 0,06 persen, telepon seluler 0,07 persen, dan ketimun 0,04 persen.




(hsa/hsa)











Hide Ads