detikBali
Round Up

Dugaan Game Horor di Balik Siswi SD Lompat dari Lantai 3 Pasar

Terpopuler Koleksi Pilihan
Round Up

Dugaan Game Horor di Balik Siswi SD Lompat dari Lantai 3 Pasar


Tim detikBali - detikBali

Prosesi pecaruan rsi gana seusai insiden bocah SD terjatuh dari lantai tiga di Pasar Desa Serangan, Denpasar, Bali, (21/4/2026). (Foto: Maria Christabel DK/detikBali)
Foto:TKP insiden bocah SD terjatuh dari lantai tiga di Pasar Desa Serangan, Denpasar, Bali, (21/4/2026). (Foto: Maria Christabel DK/detikBali)
Denpasar -

Motif KA (13) nekat meloncat dari lantai tiga Pasar Desa Adat Serangan, Denpasar, masih misteri. Namun, ada dugaan siswi sekolah dasar (SD) itu terpengaruh oleh game horor.

Sejauh ini, KA belum bisa dimintai keterangan atas insiden tersebut. Sebab, KA masih dalam masa pemulihan pasca operasi. Kepala Unit Reserse Kriminal (Kanitreskrim) Polsek Denpasar Selatan Iptu Azel Arisandi, mengatakan kondisi korban masih syok sehingga pemeriksaan belum bisa dilakukan.

"Sampai saat ini kami belum bisa melakukan pemeriksaan terhadap korban. Mengingat korban masih masa pemulihan dan masih shock akibat kejadian," ujarnya kepada detikBali, Rabu (22/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, polisi telah melakukan pendalaman melalui analisis digital forensik terhadap video yang beredar. Hasilnya, ditemukan bahwa korban menggunakan lagu berjudul My Time milik Bo En, yang diketahui juga digunakan dalam game Omori.

Dalam video yang beredar, terdengar lagu yang diputar siswi tersebut merupakan soundtrack dari salah satu game horor-psikologis. Warganet kemudian mengaitkan kejadian itu dengan game tersebut.

ADVERTISEMENT

Sejumlah warganet berkomentar bahwa pada akhir permainan, tokoh utamanya melompat dari gedung. Muncul pula spekulasi bahwa siswi tersebut terinspirasi dari game Omori. Sejumlah psikolog pun menyoroti peristiwa ini.

Dorongan Sesaat

Psikolog Wangsa Ayu Vidya Loka menjelaskan, dari perspektif psikologis, otak anak dan remaja, terutama bagian prefrontal cortex yang berfungsi untuk pengambilan keputusan, kontrol impuls, dan pertimbangan konsekuensi, belum berkembang sepenuhnya.

"Dalam situasi tertentu, anak bisa melakukan tindakan ekstrem bukan karena benar-benar ingin mengakhiri hidup, tetapi karena dorongan sesaat, keinginan mencoba, mencari perhatian, atau mengikuti sesuatu yang dilihat tanpa memahami sepenuhnya makna dan akibatnya," kata Vidya, Rabu (22/4/2026).

Vidya mengingatkan agar keterlibatan game dalam kasus ini dilihat secara hati-hati, meski konten seperti game horor-psikologis berpotensi kuat memengaruhi anak. Menurutnya, anak dan remaja memang mudah terpengaruh oleh hal yang mereka konsumsi, termasuk game, musik, atau konten visual.

"Terutama jika ada kedekatan emosional dengan karakter, konten tersebut memberikan kesan dramatis atau bermakna bagi mereka, anak sedang dalam kondisi psikologis yang rentan," ungkap dokter yang juga penulis itu.

Namun, Vidya menegaskan bahwa pengaruh game Omori tidak serta-merta menyebabkan anak meniru perilaku tersebut. Pengaruhnya biasanya bersifat pemicu atau penguat, bukan penyebab utama.

"Artinya, jika memang ada pengaruh kemungkinan besar itu terjadi karena sudah ada kondisi lain yang membuat anak lebih rentan untuk meniru," sambungnya.

Potensi Faktor Lain

Ia menambahkan, faktor lain juga berpotensi menjadi penyebab, seperti kondisi emosional yang terganggu, mengalami perundungan, konflik dengan teman atau keluarga, kebutuhan pengakuan, paparan konten media sosial, hingga kemungkinan adanya gangguan psikologis.

"Sering kali tindakan tersebut bukan hasil dari satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari berbagai tekanan dan pengaruh," sebutnya.

Sementara itu, psikiater anak I Gusti Rai Putra Wiguna mengatakan, dalam ilmu psikiatri, anak dan remaja cenderung mudah meniru apa yang dilihat, terutama jika terjadi berulang.

"Jadi kalau ada paparan berulang narasi bunuh diri dapat menurunkan ambang ketakutan pada tindakan tersebut. Jadi pengaruh itu mungkin ada tapi hampir selalu sebagai faktor pemicu tambahan bukan akar masalahnya," jelas Rai Putra.

Sebelumnya, polisi mengungkap fakta terbaru hasil penyelidikan terkait kasus KA yang terjatuh dari lantai tiga Pasar Desa Adat Serangan. Penyidik memastikan tidak ada acara ulang tahun seperti informasi awal yang sempat beredar.

Korban Siapkan Kejutan

Kanitreskrim Polsek Denpasar Selatan Iptu Azel Arisandi, menyebut korban justru mengajak teman-temannya ke lokasi dengan alasan akan ada kejutan.

"Dari hasil penyelidikan terbaru yang kami dapat, tidak ada acara ulang tahun. Tapi korban yang mengajak teman-temannya ke lokasi dan menyampaikan akan ada surprise," ujar Azel, Selasa (21/4/2026).

Polisi saat ini masih mendalami lebih lanjut motif di balik kejadian tersebut, termasuk menelusuri barang pribadi milik korban untuk memperkuat analisis.

"Untuk sementara korban masih masa pemulihan pascaoperasi, dan kami masih menelusuri HP milik korban. Update informasi akan kami sampaikan setelah analisis menyeluruh," tambahnya.

Korban terjatuh dari lantai tiga pasar saat berada di lokasi bersama sejumlah temannya. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami patah tulang pada kedua kaki serta tangan kanan dan sempat tidak sadarkan diri.

Saat ini korban telah menjalani operasi dan dalam proses pemulihan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bali Mandara. Polisi memastikan penyelidikan masih terus berjalan untuk mengungkap penyebab pasti insiden tersebut.

(hsa/hsa)











Hide Ads